Nasional

Bantah Tolak Harlah NU, Ketum Pemuda Muhammadiyah: Saya Madura dan Santri

Kamis, 05 Maret 2020 10:30 wib

...
Ketua Umum Pemuda Muhammadiyah, Sunanto (santrinews.com/istimewa)

Ada penumpang gelap ingin memecah belah persaudaraan NU dan Muhammadiyah.

Jakarta – Peristiwa penolakan pelaksanaan pengajian akbar dalam rangka peringatan Harlah NU di Masjid Gedhe Kauman Yogyakarta, menimbulkan banyak kontroversi dan berbagai asumsi yang simpang siur.

Ketua Umum Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah Sunanto juga tidak luput dari sorotan publik. Pasalnya, di media sosial dan pemberitaan beberapa media ia disebut ikut mengeluarkan statemen penolakan Harlah NU itu.

Ketika dikonfirmasi SantriNews.com, Cak Nanto –sapaan akrab Sunanto, dengan tegas membantah. Ia menegaskan tidak pernah mengeluarkan statemen penolakan tersebut.

“Tidak, saya tidak pernah menyatakan penolakan, itu Pemuda Muhammadiyah Daerah Yogyakarta bukan saya,” kata Cak Nanto, kepada SantriNews.com, Kamis, 5 Maret 2020.

Baca juga: Sunanto: NU Saudara Kandung Muhammadiyah

Bahkan pria kelahiran Sumenep, 24 September 1980 ini sudah memerintahkan Pemuda Muhammadiyah Daerah (PMD) Yogyakarta untuk bersilaturrahim ke PWNU Yogyakarta dan Badan Otonom kepemudaan NU.

“Kami sudah minta untuk silaturahmi ke Ansor dan tokoh-tokoh pemuda NU lainnya, dan itu sudah dilakukan (oleh PMD Yogyakarta),” kata alumnus Pondok Pesantren Sumber Mas, Rombiya Barat, Ganding, Sumenep itu.

Menurut Cak Nanto, ada penumpang gelap dalam isu penolakan Harlah NU itu. Sehingga nama dirinya digunakan oleh orang-orang yang ingin memecah persaudaraan NU dan Muhammadiyah serta untuk memperkeruh keadaan.

“Saya juga santri, masa saya menyatakan seperti itu, saya orang Madura juga tidak mungkin,” ulasnya. “Lagian itu kan hanya pengajian, pengajian kok ditolak.”

Baca juga: Cak Nanto Ingatkan Kader Muhammadiyah Tak Lagi Perdebatkan Qunut

Muhammadiyah dan NU, kata dia, merupakan dua organisasi keagamaan terbesar di Indonesia, yang menjadi pemersatu dan perekat bangsa.

Bahkan, menurut dia, Muhammadiyah dan NU merupakan saudara sekadung yang memililiki peran penting terhadap berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia. “Jadi jangan sampai terpecah belah,” tegasnya. (ari/onk)