Opini

Habib dan Tabib

Minggu, 15 November 2020 15:00 wib

...
Ilustrasi habib dan tabib

Akhir-akhir ini dunia medsos kita ramai dengan perdebatan soal habib. Seorang artis perempuan menduga habib itu sebagai tukang obat. Lalu ditimpali oleh seorang ustadz yang beringas dengan kemarahan karena hal tersebut dianggap menghina orang yang bertitel habib. Mungkin di telinga awam sering tertukar antara habib dan thabib atau tabib yang sering dikenal sebagai tukang obat.

Bagi saya, mestinya seorang habib itu merasa bangga dianggap sebagai tukang obat. Habib itu perannya sebagai tukang yang mengobati penyakit hati/jiwa. Kalau tabib mengobati penyakit raga.

Baca juga: Indonesia Akan Lebih Baik Tanpa Habib Rizieq

Habib itu memiliki garis keturunan kepada Nabi Muhammad SAW (yang selama ini kita yakini memiliki akhlak yang baik, hati yang bening dan jiwa yang suci).

Kalau Habib punya hati atau jiwa yang sakit dan kotor, maka susah juga umat mencari-cari pengobatan untuk penyakit hati dan jiwa mereka.

Kalau thabibnya juga sakit, tidak menjaga kesehatan, masyarakat susah mencari penyembuhan bagi sakit raganya.

Jadi ingat sebuah ungkapan:

الطبيب يداوى الناس و هو مريض…

Seorang thabib mengobati pasiennya (orang lain), sedangkan ia sendiri sakit.

Maknanya apa? Seorang dokter itu meskipun tahu ilmu kedokteran dan mampu mengobati orang lain, tapi belum tentu bisa mengobati dirinya sendiri.

Begitu juga, orang-orang yang dipandang dari luar begitu alim dan sebegitu dipuja-puja apalagi jika memang benar ia merupakan bagian dari dzurriyyah (keturunan) Nabi, belum tentu dalam dirinya atau bagi dirinya menjadi sebuah kebaikan, belum tentu dapat menjaga perilaku dan akhlaknya seperti yang dicontohkan oleh leluhurnya yang penuh kemuliaan itu. Ia belum tentu mewujudkan hati dan jiwanya sebagai pribadi yang baik dan shaleh. Tapi seringkali trlihat dari luar begitu menyilaukan.

Maka yang terpenting bukan gelarnya yang habib dan memiliki garis hubungan biologis dengan Nabi, tapi yang terpenting bagaimana menjaga silsilah al-akhlak al-karimah (rantai akhlak mulia yang tak terputus), silsilah al-khayr (rantai kebaikan), silsilah kemuliaan yang terus dijaga.

Sehingga kelak Nabi pun merasa bangga karena seorang habib bisa menjaga kebaikan dan kemuliaan yang sudah begitu dipancangkan sejak awal oleh Nabi Muhammad sebagai sebuah misi kenabiannya di muka bumi ini. (*)

Muhammad Abdullah Darraz, Pengurus Majelis Pustaka dan Informasi PP Muhammadiyah.