Politik

Ini Tiga Prinsip Kiai NU Tentukan Calon Presiden

Kamis, 01 Mei 2014 19:10 wib

...

Surabaya – Para kiai Nahdlatul Ulama (NU) mulai menimbang-nimbang dua calon presiden yang akan mereka dukung dalam pemilihan presiden mendatang. Dua calon presiden itu adalah Joko Widodo dari PDI Perjuangan dan Prabowo Subianto dari Partai Gerindra.

Direktur Mahfud MD Inisiatif, Masduki Baidlowi, mengatakan para kiai dalam menentukan pilihan politik bukan tanpa dasar. Mereka selalu berdasarkan pada prinsip-prinsip yang diatur syariat. Dalam ilmu qawaidul fiqh, ulama NU mengenal di antaranya tiga skala prioritas dalam memilih sesuatu.

Prioritas pertama adalah akhdu bil ahsan, artinya mengambil atau memilih yang terbaik. Kedua, akhaffuddlaruraini, artinya memilih yang paling ringat mudarat-nya. Ketiga, dar’ul mafasid muqaddamun ‘ala jalbil mashalih, artinya menghindari kerusakan harus didahulukan dari pada membangun kebaikan.

“Itu tiga prinsip para ulama NU dalam membahas pilihan politik untuk pilpres nanti,” kata Masduki Baidlowi, Kamis, 1 Mei 2014.

Dalam konteks pilpres saat ini, menurut dia, sebenarnya para ulama menginginkan skala prioritas pertama, yakni mengusung Mahfud MD sebagai pilihan terbaik calon presiden. Namun karena kans mantan Ketua Mahkamah Konstitusi itu sebagai capres kurang kuat, para ulama bisa memilih skala prioritas kedua, yakni menduetkan Mahfud dengan capres yang punya kans besar.

Skala prioritas kedua itu adalah menimbang antara Prabowo dan Jokowi sebagai pasangan Mahfud. “Mana kira-kira yang mudaratnya (kerugian) paling ringan,” kata Masduki.

Menurut Masduki, seperti dilansir Tempo.co, tiga skala prioritas itu dibahas para ulama NU dalam setiap pertemuan. Pada pertemuan di Pondok Pesantren Aziziyah, Denanyar Jombang beberapa waktu lalu, KH Salahudin Wahid atau Gus Sholah sempat menyampaikan bahwa mayoritas para kiai memang ingin duet Prabowo-Mahfud. “Tapi tidak menutup kemungkinan dengan calon-calon lain, termasuk Jokowi,” katanya.

Selain itu, juga ada yang menginginkan Mahfud diusung sebagai calon presiden dengan menggalang koalisi alternatif dengan berbagai partai politik. (ahay)