Politik

9 Tahun Dipimpin Risma, Warga Asli Surabaya Termajinalkan

Jum'at, 05 Juli 2019 11:30 wib

...
Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini alias Risma (santrinews.com/istimewa)

Jangan seperti Jakarta saat ini. Posisi orang Betawi tersisih di pinggiran.

Surabaya – Surabaya sudah hampir 10 tahun dipimpin Tri Rismaharini alias Risma. Selama dua periode menjadi Walikota Surabaya, kebijakan Risma belum maksimal menyentuh masyarakat pinggiran. Bahkan, warga asli Surabaya cenderung termarjinalkan.

Ketua Dewan Pimpinan Wilayah Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Jawa Timur, Abdul Halim Iskandar, menyebut, selama ini kebijakan Risma lebih berpihak pada kalangan elite. Visi pembangunannya tidak memanusiakan warganya.

Cara menilainya cukup sederhana. “Kita memotret (Kecamatan) Rungkut. Lihat saja, bagaimana Rungkut sepuluh tahun lalu, lima belas tahun lalu, dengan hari ini. Itu saja,” kata Gus Halim – sapaan akrabnya, saat ditemui di kantor DPW PKB Jatim Jalan Ketintang Madya Surabaya, Kamis, 4 Juli 2019, sore.

“Kita enggak ndakik-dakik berteori, kita cukup melihat bagaimana Rungkut lima belas tahun lalu dengan hari ini, kemana mereka (warga) yang asli,” sambung pria yang juga ketua DPRD Jatim ini.

Bila hal itu dibiarkan, menurut Gus Halim, lambat-laun warga asli Surabaya akan kian terpinggirkan. Padahal, mereka adalah pemilik dari pada sejarah Kota Pahlawan ini.

Baca juga: Risma: Jabatan Itu Urusan Tuhan

Gus Halim menilai, visi dan kebijakan pembangunan Risma selama kepemimpinannya tidak mengarah pada upaya mempertahankan warga asli Surabaya. Menurut dia, pembangunan di Surabaya seharusnya di ring luar.

“Kalau di ring dalam pasti akan menggusur,” ujar adik kandung Ketua Umum DPP PKB Muhaimin Iskandar itu. Bila terjadi penggusuran hampir pasti akan mengeser posisi warga asli.

Gus Halim berharap Surabaya tidak seperti Jakarta saat ini. “Jakarta, kalau kita lihat sekarang, di mana posisi orang Betawi (warga asli Jakarta)? (Mereka) di pojok-pojok,” tegasnya.

Risma, lanjut dia, juga gagal memberikan solusi masalah kemacetan. Pembangunan infrastruktur jalan seperti frontage di sepanjang Jalan A Yani, yang dinilai sebagai solusi, menurut Halim, belum signifikan mengurai kemacetan di Kota Pahlawan.

Frontage itu pun proyek lama yang dikerjakan Risma. “Frontage itu bukan produk baru. Itu produk lama yang muncul hari ini, itu saja,” ujarnya.

Baca juga: Cak Imin: PKB Punya Kader Sendiri Hadapi Risma

Memang ada beberapa pembangunan jalan yang betul-betul baru, seperti underpass yang lumayan mengurai kemacetan di Jalan Mayjen Sungkono-HR Muhammad. Namun, dia mengingatkan bahwa akses tersebut justru memudahkan bagi warga yang tinggal di kawasan elit.

“Jangan lupa teori pembangunan, di mana akses dipermudah, maka naiklah (nilai atau harga) lahan aset di situ,” kata Gus Halim. (rus/onk)