Sakinah

Ashraf dan Bunga, Kisah Cinta yang tak Pernah Mendua

Selasa, 18 Februari 2020 22:30 wib

...

Ashraf dan Bunga adalah bukti bahwa cinta sejati itu ada.

Pagi tadi ketika membuka media sosial, aku membaca kabar duka artis peran Ashraf Sinclair telah meninggal dunia karena serangan jantung, pada pukul 04.51 WIB, di Rumah Sakit MMC, Kuningan, Jakarta Selatan.

Padahal, berapa jam sebelumnya Ashraf baru saja mengantarkan sang istri, Bunga Citra Lestari ke studio RCTI, tempat di mana kini Bunga menjadi juri Indonesian Idol.

Ashraf meninggal dunia di usia 40 tahun. Selama 11 tahun menjalani biduk rumah tangga, pasangan Ashraf dan Bunga hampir tak pernah diterpa isu negatif. Keduanya selalu tampil mesra dan harmonis di setiap kesempatan. Keduanya menikah pada 8 November 2008.

Melihat hubungan cinta Ashraf dan Bunga, membuat siapa saja yang melihat akan merasa hangat. Keduanya saling mendukung, memberi ruang, dan melimpahkan banyak cinta serta kepedulian bahkan terhadap orang-orang di sekitarnya.

Aku yang hanya selintas mengenal, karena pernah melihat filmnya, sinetronnya, mendengarkan lagu-lagu yang dinyanyikan Bunga, pun ikut merasa kehilangan. Ya, Ashraf dan Bunga adalah bukti bahwa cinta sejati itu ada. Tak pernah mendua, apalagi sampai berpoligami.

Di tengah peliknya kehidupan rumah tangga, pasang surut relasi suami-istri, kompleksitas pola pengasuhan anak, parenting keluarga dari yang modern, tradisional hingga religius, aku percaya kekuatan cinta itu ada. Bahkan hingga hari tergelap itu datang, ketika salah satu tak sempat mengucapkan kata perpisahan, cinta akan menunjukkan jalannya pada kesejatian.

Lalu ada hal yang paling membuat hatiku pilu, ketika ayahanda Ashraf, Mohamed Anthony John Sinclair menyampaikan kata, “Terimakasih Bunga, sudah mencintai Ashraf”.

Dan Bunga yang selalu merasa bangga dengan kehadiran Ashraf, dalam salah satu berita mengatakan, “Ashraf telah membuatku menjadi perempuan yang paling bahagia.”

Kini Ashraf telah pergi berkalang tanah. Luka kehilangan cinta masih nyata membekas dalam wajah Bunga, juga Noah, putra semata wayangnya, yang menangis histeris saat jasad ayahnya diturunkan ke liang lahat.

Seketika, aku ingin pulang memeluk suami dan mendekap anak-anak. Betapa cinta suami, dukungan, dan kesalingannya terhadap istri takkan pernah tergantikan. Betapa cinta sejati tak perlu mendua, tak perlu banyak kata, cukup di rasa dalam hati.

Tahukah kalian, kepiluan ini sesuatu yang mungkin takkan kita temukan ketika rumah tangga sudah berpoligami.

Bunga dan Noah, kuatlah selalu, doa kami untukmu! (*)