Tarikh

Masa Sahabat: Melawan Wabah Penyakit dengan Menjaga Jarak

Kamis, 09 April 2020 22:30 wib

...

Pembatasan sosial (bahasa Inggris: social distancing) atau menjaga jarak adalah serangkaian tindakan pengendalian infeksi yang dimaksudkan untuk menghentikan atau memperlambat penyebaran penyakit menular.

Cara ini pernah diterapkan di masa Sahabat, ketika Amr bin Ash menjadi Gubernur Syam di masa Sayidina Umar ibn Khttab. Sempat ditentang oleh Sahabat lain, namun ternyata berhasil.

Berikut riwayatnya:

ﻟَﻤَّﺎ اﺷْﺘَﻌَﻞَ اﻟْﻮَﺟَﻊُ، ﻗَﺎﻡَ ﺃَﺑُﻮ ﻋُﺒَﻴْﺪَﺓَ ﺑْﻦُ اﻟْﺠَﺮَّاﺡِ ﻓِﻲ اﻟﻨَّﺎﺱِ ﺧَﻄِﻴﺒًﺎ، ﻓَﻘَﺎﻝَ: “ ﺃَﻳُّﻬَﺎ اﻟﻨَّﺎﺱُ: ﺇِﻥَّ ﻫَﺬَا اﻟْﻮَﺟَﻊَ ﺭَﺣْﻤَﺔُ ﺭَﺑِّﻜُﻢْ، ﻭَﺩَﻋْﻮَﺓُ ﻧَﺒِﻴِّﻜُﻢْ، ﻭَﻣَﻮْﺕُ اﻟﺼَّﺎﻟِﺤِﻴﻦَ ﻗَﺒْﻠَﻜُﻢْ، ﻭَﺇِﻥَّ ﺃَﺑَﺎ ﻋُﺒَﻴْﺪَﺓَ ﻳَﺴْﺄَﻝُ اﻟﻠﻪَ ﺃَﻥْ ﻳَﻘْﺴِﻢَ ﻟَﻪُ ﻣِﻨْﻪُ ﺣَﻈَّﻪُ “. ﻗَﺎﻝَ: ﻓَﻄُﻌِﻦَ ﻓَﻤَﺎﺕَ ﺭَﺣِﻤَﻪُ اﻟﻠﻪُ

Ketika wabah penyakit merebak (di Syam) maka Abu Ubaidah bin Jarrah (Gubernur Syam) berpidato di hadapan manusia: “Wahai manusia, wabah penyakit ini adalah rahmat dari Tuhan kalian, doa Nabi kalian dan kematian orang-orang Soleh sebelum kalian. Dan sungguh saya meminta kepada Allah untuk mendapat bagian dari wabah ini”. Abu Ubaidah terjangkit penyakit dan wafat. Semoga Allah memberi rahmat padanya.

ﻭَاﺳْﺘُﺨْﻠِﻒَ ﻋَﻠَﻰ اﻟﻨَّﺎﺱِ ﻣُﻌَﺎﺫُ ﺑْﻦُ ﺟَﺒَﻞٍ، ﻓَﻘَﺎﻡَ ﺧَﻄِﻴﺒًﺎ ﺑَﻌْﺪَﻩُ ﻓَﻘَﺎﻝَ: “ ﺃَﻳُّﻬَﺎ اﻟﻨَّﺎﺱُ ﺇِﻥَّ ﻫَﺬَا اﻟْﻮَﺟَﻊَ ﺭَﺣْﻤَﺔُ ﺭَﺑِّﻜُﻢْ، ﻭَﺩَﻋْﻮَﺓُ ﻧَﺒِﻴِّﻜُﻢْ، ﻭَﻣَﻮْﺕُ اﻟﺼَّﺎﻟِﺤِﻴﻦَ ﻗَﺒْﻠَﻜُﻢْ، ﻭَﺇِﻥَّ ﻣُﻌَﺎﺫًا ﻳَﺴْﺄَﻝُ اﻟﻠﻪَ ﺃَﻥْ ﻳَﻘْﺴِﻢَ ﻵِﻝِ ﻣُﻌَﺎﺫٍ ﻣِﻨْﻪُ ﺣَﻈَّﻪُ “. ﻗَﺎﻝَ: ﻓَﻄُﻌِﻦَ اﺑْﻨُﻪُ ﻋَﺒْﺪُ اﻟﺮَّﺣْﻤَﻦِ ﺑْﻦُ ﻣُﻌَﺎﺫٍ، ﻓَﻤَﺎﺕَ

Abu Ubaidah diganti oleh Mu’adz bin Jabal. Ia berorasi: “Wahai manusia, wabah penyakit ini adalah rahmat dari Tuhan kalian, doa Nabi kalian dan kematian orang-orang Soleh sebelum kalian. Dan sungguh saya meminta kepada Allah untuk mendapat bagian dari wabah ini bagi keluargaku”. Abdurrahman, putra Mu’adz terkena wabah ini dan wafat.

ﺛُﻢَّ ﻗَﺎﻡَ ﻓَﺪَﻋَﺎ ﺭَﺑَّﻪُ ﻟِﻨَﻔْﺴِﻪِ، ﻓَﻄُﻌِﻦَ ﻓِﻲ ﺭَاﺣَﺘِﻪِ

Mu’adz berdiri kemudian berdoa kepada Allah untuk dirinya sendiri (agar terkena penyakit wabah). Ia pun terjangkiti saat rehat.

ﻓَﻠَﻤَّﺎ ﻣَﺎﺕَ اﺳْﺘُﺨْﻠِﻒَ ﻋَﻠَﻰ اﻟﻨَّﺎﺱِ ﻋَﻤْﺮُﻭ ﺑْﻦُ اﻟْﻌَﺎﺹِ، ﻓَﻘَﺎﻡَ ﻓِﻴﻨَﺎ ﺧَﻄِﻴﺒًﺎ ﻓَﻘَﺎﻝَ: “ ﺃَﻳُّﻬَﺎ اﻟﻨَّﺎﺱُ ﺇِﻥَّ ﻫَﺬَا اﻟْﻮَﺟَﻊَ ﺇِﺫَا ﻭَﻗَﻊَ ﻓَﺈِﻧَّﻤَﺎ ﻳَﺸْﺘَﻌِﻞُ اﺷﺘﻌﺎﻝ اﻟﻨَّﺎﺭِ، ﻓَﺘَﺠَﺒَّﻠُﻮا ﻣِﻨْﻪُ ﻓِﻲ اﻟْﺠِﺒَﺎﻝِ “.

Setelah Mu’adz wafat maka diganti oleh Amr bin Ash. Ia kemudian berkhutbah: “Wahai manusia. Penyakit ini jika terjadi sama seperti berkobar-kobarnya api. Maka menjauhlah kalian ke gunung-gunung”.

ﻓَﻘَﺎﻝَ ﻟَﻪُ ﺃَﺑُﻮ ﻭَاﺛِﻠَﺔَ اﻟْﻬُﺬَﻟِﻲُّ: “ ﻛَﺬَﺑْﺖَ ﻭَاﻟﻠﻪِ، ﻟَﻘَﺪْ ﺻَﺤِﺒْﺖُ ﺭَﺳُﻮﻝَ اﻟﻠﻪِ ﺻَﻠَّﻰ اﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ، ﻭَﺃَﻧْﺖَ ﺷَﺮٌّ ﻣِﻦْ ﺣِﻤَﺎﺭِﻱ ﻫَﺬَا “. ﻗَﺎﻝَ: “ ﻭَاﻟﻠﻪِ ﻣَﺎ ﺃَﺭُﺩُّ ﻋَﻠَﻴْﻚَ ﻣَﺎ ﺗَﻘُﻮﻝُ “

Amr ditentang oleh Abu Watsilah Al-Hudzali, ia berkata: “Demi Allah, kau pendusta. Sungguh aku telah bersahabat dengan Rasulullah shalallahu alaihi wasallam. Kau lebih buruk dari pada keledaiku ini!”. Amr menjawab: “Demi Allah. Aku tidak menolak perkataanmu”.

ﺛُﻢَّ ﺧَﺮَﺝَ ﻭَﺧَﺮَﺝَ اﻟﻨَّﺎﺱُ ﻓَﺘَﻔَﺮَّﻗُﻮا ﻋَﻨْﻪُ ﻭَﺩَﻓَﻌَﻪُ اﻟﻠﻪُ ﻋَﻨْﻬُﻢْ.

Amr pergi dan orang-orang pun pergi. Mereka berpencar-pencar. Dan Allah menjauhkan penyakit itu dari mereka.

ﻓَﺒَﻠَﻎَ ﺫَﻟِﻚَ ﻋُﻤَﺮَ ﺑْﻦَ اﻟْﺨَﻄَّﺎﺏِ ﻣِﻦْ ﺭَﺃْﻱِ ﻋَﻤْﺮٍﻭ ﻓَﻮَاﻟﻠﻪِ ﻣَﺎ ﻛَﺮِﻫَﻪُ

Kabar itu sampai kepada Umar bin Khattab (selaku Amirul Mukminin, pemimpin umat Islam). Demi Allah, Umar tidak membencinya (Musnad Ahmad No. 1697).

Isi dunia ini hanya dua: nikmat dan ujian (musibah). Kunci menghadapinya juga dua: syukur dan sabar. Saat ini ujian wabah penyakit belum juga hilang. Tinggal kita sabar dan mengikuti arahan para ahli, diantaranya jaga jarak dan tidak berkerumun. (*)

Ustaz Ma’ruf Khozin, Direktur Aswaja NU Center PWNU Jawa Timur.