Turats

Kimiya-yi Sa‘adat (9): Mengenal Diri, Kunci untuk Mengenal Tuhan

Jum'at, 01 Mei 2020 08:30 wib

...

Ketahuilah bahwa dalam kitab-kitab para nabi terdahulu ada tuturan termasyhur yang disampaikan kepada mereka: Kenali dirimu, maka Engkau akan mengenal Tuhanmu. Dalam khabar dan atsar juga dikenal tuturan, “Dia yang mengenal dirinya akan mengenal Tuhannya.”

Semua ini merupakan bukti bahwa diri (nafs) manusia adalah seperti cermin: siapapun yang melihat kepadanya akan melihat Tuhan di sana. Akan tetapi banyak orang tidak melihat ke dalam dirinya sehingga mereka tidak dapat melihat Tuhan.

Karena alasan bahwa diri merupakan cermin makrifat, mengenal diri menjadi kewajiban [kepada kita]. Pengetahuan ini memiliki dua aspek. Pertama, aspek yang samar, yang tak mungkin dipahami oleh kebanyakan orang. Aspek ini tak boleh dijelaskan kepada orang-orang kebanyakan. Menceritakannya kepada mereka adalah terlarang.

Kedua, aspek yang bisa dipahami oleh semua orang. Intinya adalah bahwa orang mengetahui keberadaan Tuhan dari keberadaan dirinya. Dari sifat-sifat yang ia miliki, ia bisa mengetahui sifat-sifat Tuhan. Dan dari kemampuannya untuk mengendalikan kerajaan dirinya, yaitu tubuh dan anggota badannya, ia memahami kendali Tuhan atas semesta alam.

Penjelasan mengenai hal ini adalah bahwa orang pertama-tama mengenal dirinya melalui keberadaan dirinya, dan ia tahu bahwa pada mulanya —bertahun-tahun sebelumnya— ia tiada. Nama maupun jejak langkahnya masih belum ada. Seperti yang difirmankan oleh Allah, “Bukankah pernah datang kepada manusia masa ketika ia belum berupa apapun?” (QS 76: 1).

Wawasan yang ditemukan oleh manusia mengenai penciptaannya adalah bahwa ia tahu bahwa sebelum ia ada, ia cuma setetes air mani, setitik air busuk yang tak punya kecerdasan, tak punya organ pendengaran dan penglihatan, tak punya kepala, tangan, kaki, mulut, atau mata. Tak punya pembuluh darah, otot, tulang, daging, atau kulit. Alih-alih, ia cuma cairan yang putih dan kental. Lalu tiba-tiba, semua keajaiban itu muncul dalam dirinya!.

Secara disjungtif, orang bisa berpikir begini: Ia mungkin menciptakan sendiri semua [organ tubuh] tersebut atau sesuatu yang lain menciptakannya untuknya. Karena ia tahu dengan pasti bahwa [bahkan] di masa dewasanya ia tidak akan mungkin menciptakan sehelai rambut pun, ia menyadari bahwa ketika ia cuma setetes air mani ia pasti lebih lemah dan lebih tak berdaya lagi. Maka, keberadaan Tuhan diketahui olehnya dari keberadaan dirinya sendiri.

Ketika ia melihat tubuhnya, secara eksternal maupun internal, seperti yang dijelaskan oleh sejumlah pemikir, ia melihat kuasa sang Pencipta, dan ia tahu bahwa hanya kuasa yang sempurnalah yang akan bisa menciptakan apapun yang diinginkannya. Kuasa apakah yang lebih sempurna daripada [Dia] yang menciptakan individu yang sempurna dan elok, penuh dengan keajaiban dan keistimewaan, dari setetes cairan yang hina dan menjijikkan? (*)

Muhammad Ma‘mun, Pengasuh Pondok Pesantren Al-Falah, Silo, Jember. Alumni Pondok Pesantren Annuqayah Guluk-Guluk, Sumenep.

————
Kimiya-yi Sa’adat, yang biasa diterjemahkan menjadi Kimia Kebahagiaan, bukanlah karya yang asing bagi para pembaca Imam al-Ghazali di tanah air. Karya ini sudah diterjemahkan berkali-kali ke dalam bahasa Indonesia.

Sayangnya, terjemahan ini dipungut dari edisi ringkasnya, biasanya dari bahasa Arab atau dari terjemahan bahasa Inggris yang dikerjakan oleh Claud Field. Terjemahan yang terakhir, seperti yang dijelaskan oleh penerjemahnya, dikerjakan dari terjemahan Bengali-nya yang ringkas. Dus, terjemahan dari terjemahan.

Padahal, edisi asli kitab ini dalam bahasa Persia 2 jilid tebal. Struktur babnya sama dengan Ihya’ ‘Ulum ad-Din, yang terdiri dari 40 buku. Keempat puluh buku dalam Kimiya-yi Sa’adat bisa dibilang merupakan versi padat dari 40 buku Ihya’.

Hal lain yang membedakan Kimiya-yi Sa’adat dengan Ihya’ adalah bab-bab pendahuluannya yang panjang: terdiri dari 4 topik. Keempat topik ini lebih panjang dan lebih filosofis dari buku ke-21 dan ke-22 Ihya’.

Pembicaraan yang teoretis dan filosofis ini mengisyaratkan bahwa Kimiya ditulis untuk kaum terpelajar dan cendekiawan Persia yang tidak bisa berbahasa Arab.

Pada bulan Ramadhan ini, saya ingin berbagi hasil terjemahan saya atas mukadimah Kimiya-yi Sa’adat yang saya ambil dari versi Inggrisnya yang dikerjakan oleh Jay R. Cook. Untuk kepentingan kawan-kawan, terjemahan saya buat selonggar mungkin, dan dalam beberapa kesempatan atau berseri, lebih merupakan parafrase dari terjemahan literal. Semoga bermanfaat! (*)

Muhammad Ma’mun, Pengasuh Pondok Pesantren Al-Falah, Silo, Jember.
——-
Kimiya-yi Sa’adat, yang biasa diterjemahkan menjadi Kimia Kebahagiaan, bukanlah karya yang asing bagi para pembaca Imam al-Ghazali di Tanah Air. Karya ini sudah diterjemahkan berkali-kali ke dalam bahasa Indonesia.

Sayangnya, terjemahan ini dipungut dari edisi ringkasnya, biasanya dari bahasa Arab atau dari terjemahan bahasa Inggris yang dikerjakan oleh Claud Field. Terjemahan yang terakhir, seperti yang dijelaskan oleh penerjemahnya, dikerjakan dari terjemahan Bengali-nya yang ringkas. Dus, terjemahan dari terjemahan.

Padahal, edisi asli kitab ini dalam bahasa Persia 2 jilid tebal. Struktur babnya sama dengan Ihya’ ‘Ulum ad-Din, yang terdiri dari 40 buku. Keempat puluh buku dalam Kimiya-yi Sa’adat bisa dibilang merupakan versi padat dari 40 buku Ihya’.

Hal lain yang membedakan Kimiya-yi Sa’adat dengan Ihya’ adalah bab-bab pendahuluannya yang panjang: terdiri dari 4 topik. Keempat topik ini lebih panjang dan lebih filosofis dari buku ke-21 dan ke-22 Ihya’.

Pembicaraan yang teoretis dan filosofis ini mengisyaratkan bahwa Kimiya ditulis untuk kaum terpelajar dan cendekiawan Persia yang tidak bisa berbahasa Arab.

Pada bulan Ramadhan ini, saya ingin berbagi hasil terjemahan saya atas mukadimah Kimiya-yi Sa’adat yang saya ambil dari versi Inggrisnya yang dikerjakan oleh Jay R. Cook.

Untuk kepentingan kawan-kawan, terjemahan saya buat selonggar mungkin, dan dalam beberapa kesempatan atau berseri, lebih merupakan parafrase dari terjemahan literal. Semoga bermanfaat! (*)