Uswah

In Memoriam Nyai Nur Ismah, Pendidik Generasi Qurani

Sabtu, 19 September 2020 08:30 wib

...

Kita baru saja kehilangan seorang nyai yang patut dijadikan teladan bukan hanya sebagai ibu, tetapi juga sebagai figur “pendidik” yang ideal. Ibu Nyai Hj Nur Ismah binti KH Abdullah Salam, istri KH M Ulin Nuha Arwani, pengasuh Pondok Pesantren Yanbu’ul Quran, Kudus.

Saya memang tidak begitu dekat mengenal pribadi Nyai Nur Ishmah, tetapi dalam satu kesempatan wawancara dengan seorang nyai di arena KUPI (Konggres Ulama Perempuan Indonesia), saya pernah direkomendasikan untuk mewawancai beliau sebagai sosok nyai yang ideal dalam subkultur pesantren. Namun sayang, saya masih belum berkesempatan bertemu dan mengambil hikmah sampai beliau dipanggil sang Kekasih sejati.

Melihat banyak sekali ungkapan duka yang bertebaran di media sosial, tentu saja beliau bukan orang sembarangan. Memang secara genealogi beliau adalah “putri” dari seorang kiai yang dikenal sangat dekat dengan Allah, atau waliyullah yakni kiai Abdullah Salam dari Kajen Pati.

Nyai Nur Ishmah (Almarhumah) di samping putri seorang kiai yang alim, juga dikenal sebagai sosok Bu Nyai yang tawadhu, ahli dzikir, istiqomah, dermawan dan terkenal sabar dalam mendidik “anak didiknya” atau santrinya.

Beliau adalah sosok perempuan Qur’ani yang bukan hanya sekedar hafal 30 juz Al Qur’an, tetapi juga menguasai hikmah di dalamnya dan istiqomah mengamalkannya. Hanya wali Allah SWT yang bisa memiliki anugerah besar seperti beliau ini. Maka tak perlu heran jika ribuan orang merasa kehilangan dengan kepergian beliau.

Hidup di zaman akhir yang dipenuhi dengan godaan teknologi dan kebebasan ideologis saat ini memang sangat berat. Bukan hanya bagi orang tua, kiai, nyai, dan para guru, tetapi juga bagi santri atau murid itu sendiri. Zaman dahulu, figur keteladanan mungkin dengan sangat mudah dan intens ditemui pada sosok orang tua, kiai, nyai, guru dan teman-teman dekat kita.

Kualitas interaksi sosial yang kita bangun dengan figur-figur tersebut juga berjalan secara alami atau langsung di dunia nyata (di rumah, pesantren dan madrasah) dan bukan di dunia maya. Sementara di era generasi Z sekarang ini, sangat susah mencari sosok atau figur Nyai semacam almarhumah Nyai Ishmah di dunia nyata apalagi di dunia maya. Padahal ini adalah sesuatu yang sangat penting, agar para santri dan terutama santriwati juga punya sosok perempuan yang bisa diteladani.

Munculnya lingkungan “sosial yang serba digital” juga telah melahirkan figur keteladan semu yang artifisial. Gambaran tentang sosok ideal sebagai contoh atau teladan, mulai “dilekatkan” kepada aktor-aktor di dunia maya. Kualitas dan intensitas “bersosialisasi” dengan orang tua, keluarga, masyarakat dan teman sebaya di dunia nyata begitu drastis berkurang. Ayah, ibu, anak, kakak, adik, kakek, nenek semua sama-sama sibuk dengan gadget masing-masing.

Akhirnya, figur keteladanan itu lebih sering “muncul” di dunia maya, yakni di televisi, di internet, YouTube, dan dunia sosial media lainnya. Figur ini bisa merupakan tokoh fiksi, baik dalam serial drama sinetron, film, animasi kartun, artis atau selebritis, atau bahkan bisa berupa karakter dalam permainan game dan juga subjek-subjek populer di ranah dunia maya lainnya yang muncul secara instan. Kita dan terutama anak-anak generasi z adalah mereka yang (sengaja dibuat) lebih suka “memuja” kepalsuan yang bisa memberikan “kepuasan” instan.

Maka tak perlu heran jika mimpi-mimpi generasi Z adalah mimpi yang terkait dengan keberhasilan dan kenikmatan instan yang semu dan asosial. Mereka malas bekerja keras dan enggan menikmati proses kehidupan nyata yang “berat”. Meskipun mereka sadar bahwa itu sangat diperlukan untuk bisa membentuk karakter subjek yang kritis, proaktif, kreatif, inovatif dan mandiri.

Dalam situasi yang serba sulit inilah kita membutuhkan figur pendidik seperti Nyai Ishmah yang tetap istiqomah “nguri-nguri” (merawat dan menghidupkan) ilmu hikmah secara “tradisional” kepada para santrinya.

Ke depan nampaknya kita perlu memikirkan untuk “menciptakan” tokoh-tokoh yang lebih banyak di dunia maya, yang memiliki karakter ideal seorang kiai atau nyai. Karena santri generasi Z pun akan lebih banyak menghabiskan waktunya berinteraksi di dalam dunia maya ketimbang dunia nyata.

Kita patut bersyukur saat ini kita masih bisa mendapatkan keteladanan dari para kiai dan ulama seperti Habib Quraisy Shihab dan Gus Mus atau KH Mustofa Bisri di dunia medsos. Namun kita juga perlu mempunyai figur yang lebih muda agar bisa menggaet nitezen gen z yang mungkin tidak terlalu mengenal para ulama senior tersebut.

Saat ini memang sudah ada generasi yang lebih muda seperti Gus Baha, Gus Nadhirsyah Husain, dan Gus Ulil Abshar Abdalla yang bisa jadi teladan. Tetapi mereka masih mewakili kelompok milenial. Kita masih perlu bekerja keras agar bisa melahirkan “artis” macam Gus Azmi dan Nisa Sabyan yang lebih “ideal” dan “Qur’ani” seperti sosok almarhumah Nyai Ishmah di dunia maya, agar para santri dan terutama santriwati juga punya sosok perempuan yang bisa diteladani di dunia maya.

Munculnya figur Ning Nyai Nur Rofiah, dan Nyai Badriyah Fayumi untuk generasi millenial adalah contoh bahwa dunia “pesantren” mampu melahirkan sosok perempuan teladan yang bisa berkiprah di segala medan.

Pesantren harus segera bersikap dan mengambil peran yang lebih aktif untuk melahirkan “kiai dan nyai” bagi generasi Z yang “komplit”, agar bisa hadir mewarnai dunia maya untuk membentengi santri generasi Z agar tetap bisa istiqomah dalam ber-iman, ber-Islam dan ber-ihsan. Dalam bahasa sederhananya tetap menjadi rahmat bagi seluruh alam. Kagem Bu Nyai Nur Ishmah, alfatihah. (*)

Tawangsari 19 September 2020

Muhammad Khodafi, Dosen UIN Sunan Ampel Surabaya.