Uswah

Gus Dur dan Kiai Fattah Tambakberas: Mengaji Kitab Kuning dan Main Catur

Selasa, 22 Desember 2020 12:00 wib

...
Gus Dur suatu ketika saat mengajar

Setelah menyelesaikan mondok di Pesantren Tegalrejo Magelang, Gus Dur dikirim ibunya ke Pesantren Tambakberas (1959 -1963).

Pada masa itu pesantren dibawah asuhan KH Wahab Hasbullah dan KH Abdul Fattah Hasyim, dua sosok yang bagi Gus Dur tidak asing, karena beliau berdua masih kerabat dekat Gus Dur.

Adalah Kiai Fattah Hasyim dan istrinya, Nyai Musyarofah Bisri (adik kandung Nyai Sholihah Bisri, ibunya Gus Dur) yang merawat Gus dur selama mondok di Tambakberas. Gus Dur yang tinggal di Asrama Pangeran Diponegoro kamar 3 (Pangdip-3) selain mengaji kepada para kiai pengasuh pesantren Tambakberas, juga mengaji di hadapan Kiai Fattah, pamannya sendiri itu.

Gus Dur mengaji kitab Hadits Shahih Bukhari dan Shahih Muslim yang dibaca Kiai Fattah di masjid. Menurut cerita teman-teman mondoknya, Gus Dur bukanlah sosok santri yang rajin ngaji tetapi kecerdasannya tidak tertandingi.

Ketika waktunya ngaji Gus Dur berangkat mengikuti pengajian cuma sebentar saja, kemudian tanpa sepengetahuan Kiai Fattah yang mengampu pengajian itu, beliau meninggalkan majlis pengajian untuk pergi entah kemana.

Kadang Gus Dur pergi ke Tebuireng dengan naik sepeda onthel sejauh 10 kilomete atau pergi entah kemana yang teman-temannya tidak tahu. Mereka hanya dititipi kitab yang ditinggal di majlis pengajian itu dalam posisi kitab itu sengaja terbuka. Tidak ada yang tahu kenapa kitab itu ditinggalnya dalam keadaan terbuka seperti itu.

Beliau juga ngaji privat kepada pamannya itu kitab hadits Bulughul Maram. Menariknya, pengajian privat ini dilaksanakan pada tengah malam, diatas jam 1 dini hari. Dan sebelum pengajian itu dimulai, Kiai Fattah selalu mengajak keponakannya itu bermain Catur.

Setelah jam menunjukkan pukul 1 dini hari dimulailah pengajian itu meskipun kadang permainan catur belum selesai. Ketika permainan catur itu belum selesai dan waktu ngaji sudah datang, maka papan catur dengan bidak-bidaknya dalam posisi utuh saat permainan terakhir itu disimpan oleh Kiai Fattah dan ditaruh di atas lemari untuk dilanjutkan besok malam pada saat menjelang pengajian privat itu dilaksanakan.

Dengan nada bercanda, Kiai Fattah selalu mengatakan: “Dur, kamu gak mungkin bisa mengalahkan saya (dalam bermain catur ini)”. Begitulah model unik Kiai Fattah saat memprivat ngaji kitab kuning kepada Gus Dur.

Di luar pengajian kitab kuning yang rutin diadakan di pesantren, Gus Dur juga ikut belajar di Madrasah Muallimin yang dikelola Kiai Fattah. Dan disitulah nantinya Gus Dur ketemu dengan jodohnya, Ibu Sinta Nuriyah.

Setelah lulus dari madrasah itu, Gus dur diminta oleh Kiai Fattah untuk menjadi kepala madrasahnya karena dipandang sangat layak. Tetapi setelah beberapa waktu menjadi kepala madrasah, Gus Dur tertarik untuk melanjutkan belajar ke Al Azhar Mesir setelah ada kunjungan Grand Syekh Al Azhar saat itu, Syekh Muhammad Shaltout ke Tambakberas. Sehingga di Tahun 1963 atas restu Kiai Fattah, Gus Dur berangkat kuliah ke Mesir.

Di Tambakberas ada kisah yang menarik ketika Gus Dur ditugasi menjadi petugas keamanan pondok. Suatu ketika ada kasus santri yang melakukan pelanggaran berat dan berdasarkan peraturan pondok, santri itu harus dipulangkan ke rumah asalnya.

Ketika kejadian itu dilaporkan kepada Kiai Fattah justru respon beliau membuat Gus Dur kaget, karena Kiai Fattah “nggandoli” santri yang melanggar aturan itu dengan menyatakan bahwa santri itu telah dipasrahkan oleh orang tuanya agar dididik menjadi orang yang baik.

Akhirnya dengan sikap bijaksananya seorang Kiai Fattah, santri itu dikeluarkan dari kamarnya di pondok sesuai dengan aturan pesantren tapi kemudian disuruh pindah menempati kamar depan rumah Kiai Fattah. Santri itu dijadikan abdi ndalem yang ditugasi membawakan kitab Kiai Fattah dimanapun beliau mengaji atau mengajar sehingga kelak santri itu pulang ke rumah setelah menyelesaikan belajar di pondok dengan baik.

Bagi Gus Dur, sikap yang diambil oleh Kiai Fattah itu merupakan pelajaran yang berharga dan sangat membekas bagi dirinya untuk mengenal nilai humanisme dari seorang kiai. Sehingga beliau sering menyampaikan bahwa Kiai Fattah adalah salah satu kiai yang mempengaruhi pembentukan pola pikirnya.

Seminggu sebelum Gus Dur wafat, beliau sempat ziarah ke makam pamannya itu di Tambakberas.

Untuk Kiai Fattah dan Gus Dur, alfatihah. (*)