Ziarah

Masjid Sabilillah, Saksi Perjuangan Kaum Santri

Minggu, 10 Juni 2018 02:03 wib

...
Masjid Sabilillah, Monumen Perjuangan Kaum Santri Malang (santrinews.com/ngalam)

MASJID Sabilillah Malang. Tempat ibadah yang berdiri di atas lahan seluas 8.100 meter persegi ini dulu pernah menjadi markas para pejuang yang terhimpun dalam pasukan Laskar Sabilillah dan Hizbullah.

Laskar Sabilillah dipimpin oleh KH Masykur, dan Laskar Hizbullah diimami oleh KH Zainul Arifin. Kedua laskar Islam tersebut ikut andil dalam pertempuran 10 November 1945 di Surabaya melawan pasukan Inggris dan Agresi Belanda dua tahun kemudian.

10 November 1945 merupakan hari yang istimewa bagi kaum muslimin. Pada hari itu, ribuan umat islam turut nerjuang membela agama dan kehormatan bangas Indonesia. Semua ikut jihad di jalan Allah SWT. Dengan resolusi jihad yang dipelopori oleh KH Muhamamd Hasyim Asy’ari, semua umat turun jalan melawan penjajah hingga titik darah penghabisan. Ruh jihad bergelora, karena demi agama dan bangsa. Siapa yang wafat, wajib baginya masuk surga. Begitulah salah satu isi dari Resolusi Jihad.

Salah satu dari pejuang sejati yang ikut serta dalam pertempuran 10 November adalah Arek-Arek Malang, mereka adalah KH Maskur dan KH Oeman Mansur, dan KH Nahrawi Thohir. Mereka adalah santri dari KH Muhammad Hasyim Asy’ari sang pejuang sejati Aswaja dan pendiri Negara Kesatuan Repubik Indonesia (NKRI).

KH Masykur dan Sabilillah tidak bisa dipisahkan. Karena KH Masykur itu salah satu pejuang sejati lascar Sabilillah melawan penjahan Jepang, Belanda dan Ingris. Pada 10 November 1945, pasukan yang terdiri dari santri-santri yang tergabung pada laskhar Sabilillah dipimpin langsung oleh KH Masykur.

Sedangkan santri-santri dan masyarakat kota Malang yang tergabung dalam laskar Hizbullah di pimpin langsung oleh KH Nahrawi Ibn Thohir. Ikut serta di dalam memimpin perang waktu itu yaitu “KH Oesman Mansur”.

Bersumber dari resolusi Jihad yang difatwakan “Rois Akbar Nahdlotul Ulama” Al-Imam KH Muhammad Hasyim Asy’ary. Dua kekuatan besar yang bernama “Laskar Hizbullah” dan “Lakskar Sabilillah”, dua pasukan besar yang ikut serta berjuang merebut dan memperjuangkan NKRI dalam pertempuran 10 November 1945.

Laskar Hizbullah dipimpin seorang ulama yang bernama “KH Nahrawi Thohir” sementara “Laskar Sabilillah” dipimpin langsung oleh KH Masykur yang berasal dari Singosari Malang (Roeslan Abdul Gani, 1982).

Barangkali pasukan yang yang dipimpi KH Masykur modalnya adalah niat, tekad, berjuang melawan penjajahan dan penindasan. Tujuan utamanya adalah “merdeka atau mati dalam kondisi syahid”. Nila-nilai inilah yang menjadi latar belakang perjuangan pasukan Laskar Sabilillah dan Laskar Hizbullah.

Berdirinya Masjid Sabilillah ini pada hakekatnya untuk mengenang pejuang dan perjuangan para mujahid di jalan Allah SWT, maka dibangunlah monument sakral dalam bentuk tempat Ibadah “Masjid Sabilillah” yang terletak di Jalan Ahmad Yani No.15 Blimbing. (*)