KH Zakki Abdullah: Takdim kepada Guru Wajib
KH Zakki Abdullah, cucu dari mursyid Tariqah Naqsabandiyin Ahmadiyin, almarhum Hadratus Syekh KH Achmad Sufyan Miftahul Arifin,
*Situbondo*Â - Seorang murid tidak boleh ragu dan punya prasangka buruk pada seorang guru, karena hidayah atau ridha Allah ada pada guru. Hormat dan takdim (tunduk dan patuh) kepada guru adalah kewajiban bagi seorang murid.Â
Begitu pesan KH Zakki Abdullah, cucu dari mursyid Tariqah Naqsyabandiyin Ahmadiyin, almarhum KH Achmad Sufyan Miftahul Arifin, saat memberikan ceramah dalam Haul para Masyaikh Al Naqsyabandiyin Al Ahmadiyin, di Pondok Pesantren Sumber Bunga, Seletreng, Kapongan, Situbondo, Ahad (08/10/2017) malam.
Menurut Kiai Zakky, terus menjalin hubungan kecintaan pada guru itu paling utama dalam tingkatan level thariqah. Terutama para masyaikh mursyid Thariqah.
“Sambungan berupa cinta, berupa husnuddzan (perasangka baik) dan kepercayaan sepenuh hati kepada guru adalah hal utama bagi murid. Jangan sedikitpun kita menyimpan rasa su’uddzan (berperasangka buruk) kepada guru. Apalagi keragu-raguan,” katanya di depan para jemaah.
Menurut Kiai yang juga sebagai Pengasuh Pondok Pesantren Manbaul Hikam, Panji Kidul, Kecamatan Panji, Situbondo itu, mengisahkan sosok Syekh Bahauddin Naqsyabandi saat melakukan perjalanan keluar rumah yang cukup jauh banyak kisah spiritual dan bertabur hikmah yang dipetik.
Saat penempuh perjalanan, dalam jiwa Syekh Bahauddin Naqsabandi tak ada yang diingat selain kepada Allah. Sosoknya sudah menyatu dengan kebesaran Allah sehingga ia menjadi sosok yang luar biasa, guru dari banyak umat Islam yang menjalankan thariqah Narsyabandi.
“Dengan kekuatan sambungan beliau kepada Allah, bisa mengantarkan Syekh Bahauddin Naqsabandi ke berbagai tempat,” kata Kiai Zakki.
Saat melakukan perjalanan spiritual di malam hari, kedua kaki Syekh Bahauddin Naqsabandi hingga tertusuk duri tanpa terasa sakit. “Cita-citanya hanya ingin bertemu dengan gurunya, Sayyid Amir Qulal,” katanya.
Saat itu, cuaca dalam musim dingin dan cuaca ekstrim, Syekh Bahauddin Naqsabandi nekat ingin bertemu gurunya hanya bepakaian jubah tipis. Tak mengenal rasa dingin. Hal itu demi untuk bertemu dengan guru.
Saat tiba di kediaman Sayyid Amir Qulal, Syekh Bahauddin Naqsabandi beber Kiai Zakki, bertemu dengan santrinya benar sayyid Amir Qulal
Kedatangan Syekh Bahauddin Naqsabandi, sudah diketahui oleh Sayyid Amir Qulal, Sayyid Amir Qulal bertanya kepada santrinya.
Saat ditanya, salah santri itu menjawab bahwa yang datang adalah Syekh Bahauddin Naqsabandi. Mendengar jawaban itu, Sayyid Amir Qulal langsung mengusir Syekh Bahauddin Naqsabandi.
“Ketika Syekh Bahauddin Naqsabandi diusir, hampir saja Syekh Bahauddin Naqsabandi akan kehilangan Taslim (Kepercayaannya) terhadap gurunya (Sayyid Amir Qulal). Tapi berkat pertolongan Allah, Syekh Bahauddin Naqsabandi selamat dari petaka. Kepercayaan kepada gurunya tetap tertanam dalam jiwa Syekh Bahauddin Naqsabandi,” katanya.
Tanpa membantah, Syekh Bahauddin Naqsabandi patuh dan takdim menerima keputusan gurunya yang mengusir dirinya. “Beliau memikul semua kehinaan untuk mencari dan mendapatkan ridlo Allah,” tegas Kiai Zakki.
Kiai Zakki menjelaskan bahwa guru adalah pintu mendapatkan ridho Allah. Karena antara murid dan guru ada hubungan tranformasitif serta mengalirkan fuyudahnya sehingga seorang murid harus total percaya kepada guru dalam hal keimanan kepada Allah.(*)