Kini, Pesantren Sibuk Berpolitik dan Menggalang Dana

Menteri Agama Suryadharma Ali (republika/santrinews.com)

Garut – Lembaga pendidikan tertua di Indonesia, Pesantren, terus berkembang pesat. Setiap bulannya ada saja pesantren baru dibangun. Santri-santri terus berdatangan untuk menimba ilmu di pesantren. Misalnya, pesantren-pesantren di Tasikmalaya yang terus bertambah.

Dalam acara silaturahim ulama di Pondok Pesantren Al-Musaddadiyah, Garut, Jawa Barat, Menteri Agama (Menag) Suryadharma Ali menjelaskan kondisi pesantren saat ini.

“Tapi, kenapa Ahmadiyah tetap saja ada,” kata Suryadharma sambil bertanya di hadapan sekitar seribu ulama Garut, Sabtu, 31 Agustus 2013.

Menurut Suryadharma, salah satu faktornya adalah umat Islam tidak lagi bersatu. Jumlah umat Islam memang banyak, tapi tidak menyatu. Umat Islam Indonesia menurutnya terjebak pada kepentingan-kepentingan sesaat sehingga kurang memperhatikan kepentingan dakwah.

Ketua Rabithah ma’ahid Islamiyah (RMI) Nahdhatul Ulama, Amin Haedari, seperti dilansir republika, tidak membantah pernyataan Suryadharma. Ia mengatakan memang ada pesantren yang hanya menjadi simbol sehingga tidak mempengaruhi masyarakat sekitar.

Pesantren berdiri sendiri, besar sendiri, pintar sendiri, sedangkan masyarakat sekitarnya terjerembab dalam pemahaman akidah Islam yang bertentangan dengan sumber ajaran Islam.

Menurutnya, pesantren seperti ini terjebak dalam hal-hal pragmatis. Kiainya sibuk dengan aktifitas di luar pesantren. Kiainya asik berpolitik praktis atau menggalang dana. Pesantrennya semakin besar dan megah. Namun, tidak berdampak apa-apa bagi kehidupan masyarakat sekitarnya.

Ulama dan santri tidak lagi memainkan peranannya dalam berdakwah. Pengajian mingguan atau bulanan yang biasanya digelar untuk masyarakat sekitar menghilang. Yang ada hanya kegiatan belajar mengajar.

Pesantren menjadi eksklusif, hanya menjadi tempat kaum elit. Mereka yang tidak elit tidak dapat memasuki pesantren. “Kita tidak dapat memungkiri yang seperti ini memang ada,” kata Amin. (jaz/ahay)

Terkait

Daerah Lainnya

SantriNews Network