Al-Qolam, Kampus Aliansi Pesantren

Kira-kira dua belas tahun yang lalu, saya diundang oleh alm KH M Qosim Bukhari، ketua Yayasan Al-Qolam, ke ndalem beliau di Pesantren Raidlatul Ulum 2 desa Putuk Rejo Gondanglegi, Malang.

Kondisi beliau saat itu sedang sakit, ternyata disana diajak untuk rapat bersama para pengurus untuk membahas masa depan Kampus STAI Al-Qolam, sebuah kampus perguruan tinggi kecil yang awalnya didirikan oleh para kiai untuk menjadi kampus Fakultas Syari’ah UNISMA di desa Putat Lor Kecamatan Gondanglegi wilayah Malang selatan.

Saya belum pernah terlibat sebelumnya dengan kampus ini, namun entah kenapa pada saat rapat para pengurus tersebut tiba-tiba saya ditunjuk oleh beliau sebagai ketua yayasan Al-Qolam, padahal hadir saat itu pak Rendra Kresna, Pak Sanusi (bupati Malang saat ini) dan para tokoh yang lain.

Akhirnya dengan mengucap bismillah, saya pun harus menerima tugas amanah beliau memimpin yayasan Alqolam demi memajukan lembaga perguruan tinggi Islam warisan para ulama satu satunya di wilayah Malang selatan yang akan menjadi basis kuliah para santri dari puluhan pesantren yang berdiri di sekitarnya.

Awal perjalanan memimpin yayasan perguruan tinggi dari nol ini membuat saya harus banyak belajar, mulai penggalian dana, mengawasi ketertiban kegiatan kuliah, urusan legalitas operasional kampus hingga pembangunan fisik karna sarana yang ada saat itu sangat minim, wajah Kampus terlihat hanya seperti sebuah SD inpres di pinggir jalan.

Sungguh saya sangat bersyukur proses ini didukung sepenuhnya oleh Prof Dr KH Imam Suprayogo, rektor UIN Malang saat itu, seorang profesor berhati mulia yang dengan senang hati bersedia mendukung sepenuhnya kemajuan kampus Al-Qolam, beliau yang membantu semua proses legalitas, perijinan dan akreditasi perguruan tinggi dengan memanfaatkan jaringan kolega beliau yang sangat kuat di Kemenag pusat Jakarta.

Alhamdulillah, setelah tahun demi tahun berlalu, perkembangan jumlah mahasiswa semakin meningkat seiring datangnya pengakuan legalitas oleh pemerintah dan meningkatnya jumlah bangunan dan sarana pendidikan. Pengurus yayasan tahap awal rela urunan ikut menyumbang untuk pembangunan sarana ibadah, pimpinan dan para dosen juga bersemangat membuat kampus Al-Qolam terus semakin dikenal.

Dalam lima tahun pertama, peningkatan penerimaan mahasiswa baru naik sangat signifikan, dari semula puluhan orang menjadi ratusan, dan ribuan disaat ini. Pada suatu saat saya bertemu Prof Imam Suprayogo di bandara, beliau bertanya; berapa Gus jumlah mahasiswa baru Al-Qolam? Saya jawab hampir 400-an, dia pun terkaget kaget, luar biasa katanya, dahulu kan cuma puluhan.

Pembangunan sarana di kampus Al-Qolam berkembang tidak lepas dari dukungan Pemprov Jatim yang secara berkala memberikan dana pengembangan sarana dan juga kucuran beasiswa mahasiswa program Madin di setiap tahun. Ini termasuk faktor yang membuat jumlah mahasiswa Al-Qolam semakin meningkat dan naik status dari STAI menjadi Institut Al-Qolam.

Dengan semakin banyaknya minat masyarakat untuk kuliah di Al-Qolam, saya dan Prof Imam berfikir untuk melakukan pengkaderan pimpinan kampus dari keluarga kiai para pendiri yang telah menempuh pendidikan tinggi di jenjang doktoral.

Saya setengah memaksa meminta Gus Adib, Gus Abdurrahman, Gus Madarik Yahya untuk bersedia terjun memimpin kampus Al-Qolam, agar kampus semakin maju karena saya meyakini adanya “ghirah” mereka untuk meneruskan warisan perjuangan para sesepuhnya, dan saya sempat mengancam akan mengundurkan diri jika mereka tidak bersedia bekerja sama dengan saya memajukan Al-Qolam.

Alhamdulillah, kini harapan saya benar benar telah menjadi kenyataan, ditangan para doktor generasi muda alumni Pesantren kampus IAI Al-Qolam sudah mengalami banyak kemajuan di berbagai bidang, progam pasca sarjana yang baru lahir tahun kemarin sudah mampu menerima ratusan mahasiswa baru.

Ini sungguh prestasi yang sangat membanggakan. Saya berharap agar IAI Al-Qolam akan semakin maju dan menjadi universitas kebanggaan santri di masa yang akan datang. Amien. (*)

Terkait

MADRASAH Lainnya

SantriNews Network