Cerpen

Cerpen: Mekarnya Kucup Cinta

Senin, 07 Januari 2013 01:15 wib

“Mbak Sarah, ayolah Bantu Rahma.” Rengek Rahma adik Sarah sewaktu aku baru tiba dari kantor.

“Apalagi? Kamu berdebat dengan mama lagi?” Tanyaku agak kesal.

“Rahma bingung mbak, bagaimana harus meyakinkan mama. Mama itu memiliki prinsip yang amat kuat, yang tidak mudah untuk diluluhkan. Mbak masih ingat nggak, dulu aku dan Mas Furqon butuh waktu berapa tahun untuk menyadarkan mama bahwa kepercayaannya tentang anak nomor 3 tidak boleh menikah dengan anak nomor satu itu termasuk kurofat. Sampai-sampai kami harus mendatangkan beberapa orang ustadzah dari luar kota. Nah sekarang ini alasan mama melarang aku nikah karena rasa sayangnya kepada mbak. Mama itu nggak ingin gara-gara aku nikah duluan, nanti mbak akan sulit menemukan jodoh.”

“Ya sudahlah kamu berdoa saja, nanti mbak coba bicara sama mama. Dulu sewaktu Laila menikah ini juga kan alasan mama. Toh pada akhirnya mama juga merestui.”

“Justru itu mbak, mama semakin takut, apa yang selama ini dikuatirkannya akan benar-benar terjadi. Mbak Laila sudah mendahului mbak, masak sekarang aku juga akan Ikut mendahului. Apa Sarah coba minta tolong ke mas Furqon ya mbak, siapa tahu dia punya teman yang sekufu sama mbak , jadi nanti kita bisa nikah barengan deh.”

“Masalahnya tidak segampang itu neng, mbak nggak ingin karena terdesak untuk cepat-cepat nikah akhirnya mbak kehilangan kriteria standardisasi calon suami mbak. Karena pernikahan itu tidak hanya berjalan sebulan dua bulan, tapi ini untuk selamanya dek, bahkan sampai akhirat nanti.”

“Iya tapi mbak terlalu tinggi dong nentuin kriterianya. Akhirnya jadi sulit didapatkan kan..? Bukankah Rasulullah juga telah menganjurkan, untuk segera menikah apabila telah dirasa mampu untuk menjalaninya.”

“Okelah nanti mbak coba untuk berbicara dengan mama, kamu berdoa saja mudah-mudahan Allah memudahkan jalan kita bersama.”

*****

Andaikan Rahma tahu perasaan yang ada di dalam hatiku. Ingin sebenarnya untuk segera menikah, tapi hati ini memang tak bisa untuk dibohongi. Semua calon yang telah diajukan mama dan beberapa orang sahabatku tidak ada yang bisa menyentuh hatiku. Apakah benar kata pepatah, kalau cinta pertama itu sulit dilupakan? Jujur, dalam hatiku masih terbersit nama Hamzah, ikhwan aktivis kampus, saat aku masih kuliah di Bandung.

Tak pernah ada ikatan istimewa diantara kami, yang karena itu memang dilarang dalam islam, dan kami sama-sama aktivis dakwah kampus yang dituntut untuk benar-benar commit terhadap ajaran Islam. Kami hanya berkomunikasi apabila menyangkut suatu urusan yang penting. Tentunya mengenai organisasi, karena kami sama-sama pengurus inti. Aku tak tau bagaimana perasaan beliau terhadapku, sekarangpun aku tak tahu dimana beliau berada. Apakah dia sudah menikah? Ya Allah ampuni hamba bila perasan ini terus bergelanyut dalam hatiku. Tunjukkan selalu yang terbaik untukku.

Malam itu habis magrib ku coba untuk menemui mama di kamarnya.

“Ma…boleh Sarah masuk?” Tanyaku sambil mengetuk pintu.

“Iya nak, masuk saja pintunya nggak dikunci.” Jawab mama lembut.

Kulihat mama masih dengan balutan mukena putihnya sambil memegang mushaf kesayangannya, hadiah dari almarhum papa.

“Maaf ya ma, kalau Sarah mengganggu, Sarah ingin membicarakan sesuatu sama mama”

“Bicaralah nak, buatmu tak ada istilah mengganggu buat mama.’

“Ma, kenapa mama tidak memberikan restu pada Rahma dan Furqon lagi?”

“Nak mama ini sudah tua, mama ingin sebelum mama meninggal, mama melihat ketiga putri mama sudah menikah semua. Dulu kamu sudah mengalah kepada Laila dan sekarang Sarah pun akan mendahuluimu, mama tak rela nak.”

“Ma… Dari dulu kan Sarah sudah bilang, kalau jodoh itu di tangan Tuhan. Dan yang mampu menggetarkan hati ini ketika mama mengajukan beberapa calon untuk Sarah, juga Allah. Karena hati ini berada dalam genggamannya. Sarah hanya tak ingin ma, menjalankan sesuatu yang Sarah sendiri masih bimbang dan ragu. Percayalah ma, ketika Sarah berupaya memperbaiki diri, pasti Allah juga akan memilihkan jodoh yang terbaik untuk Sarah.”

Tapi mama takut nak, apa kata nenekmu dulu menjadi kenyataan. Karena kamu didahului oleh kedua adikmu, akhirnya kamu sulit untuk mendapatkan jodoh.”

“Ma, bukankah setiap hari mama sholat, mama membaca Al-Qur’an dan juga pastinya tidak lupa memperbarui syahadat. Apakah mama lupa setiap kali kita bersyahadat kita harus rela, Allah itu sebagai tuhan kita, islam itu agama kita dan nabi Muhammad itu nabi kita, tidak ada yang pantas untuk kita takuti selain Allah. Kita juga harus mengislamkan aqidah kita, berjanji untuk menjadi orang yang tunduk dan patuh atas peraturan Allah. Mama jangan terjebak oleh ajaran nenek moyang. Kita harus menjadi manusia yang mulia dengan jalan mempertebal ketakwaan kita kepada Allah. Inna akromakum ‘inda llahi atqokum”.

“Allah juga telah berjanji, apabila kita bertakwa kepada Allah, Allah akan menjadikan mudah setiap masalah yang kita hadapi. Mama jangan terlalu membesarkan masalah dan peristiwa yang ada. Kita harus bersikap adil ma, seimbang dan jangan berlebihan. Jangan pula kita larut dalam bayang-bayang semu dan fatamorgana yang menipu. Rahma punya hak ma, untuk mendapatkan restu dari mama, jangan hanya gara-gara Sarah mama tidak memberikan restu itu dan menunda-nunda pernikahan Rahma, Sarah sudah ikhlas ma…”

“Sarah, hatimu sungguh mulia nak, semoga Allah senantiasa menyayangimu dan memberikan pendamping hidup yang terbaik untukmu. Mama pernah mendapat nasihat dari seorang teman yang mengatakan bahwa seorang
muslim sejati selalu tampak santai dalam kesibukannya, tersenyum dalam kesedihan, tenang dibawah tekanan, tabah dalam kesulitan dan selalu optimis dalam setiap tantangan. Dan itu selalu mama lihat ada dalam diri
kamu nak. Mama bangga padamu.”

“Alhamdulillah, terimakasih ma.. Allah yang telah membimbing Sarah menjadi seperti ini.”

*****

“Assalamu’alaikum, kakakku tercinta. Selamat pagi.” Sapa Rahma dengan riang gembira saat aku berkemas hendak pergi ke kantor.

“Wa’alaikum salam cantik, girang benar pagi ini.” Balasku menggoda.

“Iya dong mbak, karena mama telah memberi restu pernikahanku dengan Mas Furqon. Terima kasih ya kak, telah membantu Rahma untuk membujuk mama.”

“Bukankah sudah kewajiban seorang kakak untuk senantiasa menyayangi dan membahagiakan adiknya?”

“Tapi tetap saja Rahma harus berterimakasih, mbak memang kakak paling baik sedunia. Oh ya mbak, nanti sore temenin Rahma ya, lihat-lihat baju pengantin muslim. Mau ngajak mas Furqon kan belum ada ikatan, takutnya malah digoda syetan.”

“Aduh sebenarnya pengen sih, tapi nanti sore mbak sudah ada janji dengan Bu Sita, teman sekantor kakak. Katanya di rumahnya ada acara tasyakuran buat putranya yang baru selesai kuliah dari luar negri.”

“Yah… Tapi ngak papa kok mbak, kan tanggal pernikahannya juga belum ditentukan. Rahma cuma pengen lihat-lihat dulu aja kok. Maklumlah sudah tak sabar.”

“Du ile.., yang mau nikah lagaknya….” Godaku sambil mencolek pingggangnya.

“Ih mbak sarah, Jadi malu deh. Makanya mbak cepetan cari dong.. Jadi kita bisa pilih baju pengantin barengan.”

“Ah kamu ini ada-ada aja, emangnya orang ilang apa pakai dicari segala, sudah ah kakak mau berangkat ke kantor takut kesiangan. Assalamu’alaikum.”

*****

Sore itu aku membantu bu Sita mempersiapkan acara tasyakuran buat putranya. Di rumahnya sudah tampak banyak orang.

“Assalamu’alaikum” Sapaku ketika akan memasuki rumah beliau.

“Wa’alaikum salam, eh Sarah kamu sudah datang cantik.” Sambut bu Sita dengan panggilan khasnya.

“Eh iya bu, Sarah terlambat ya kok sudah banyak orang?”

“Oh tidak, kamu datang tepat waktu kok. Sesuai dengan motomu: Disiplin, berani dan setia.”

“Ah ibu, itu kan bunyi salah satu dari Dasa Darma Pramuka.”

“Duduk dulu sar, begini ibu memintamu datang kesini, selain untuk ikut acara tasyakuran juga ada hal penting yang ingin ibu bicarakan.”

“Tentang masalah apa ya bu?”

“Sebentar ya Sar, ibu kedalam dulu.”

Lima menit kemudian bu sita datang dengan seorang pria berkulit bersih, laki-laki itu…, laki-laki itu…membuat hatiku berdesir dan jantungku berdetak lebih cepat.

“Ham… Hamzah..” ucapku sambil terbata.

“SARAH…” Balasnya dengan raut muka terkejut.

“Lho, ternyata kalian sudah sama-sama kenal to?” tanya bu Sita heran.

“Iya umi, Sita ini teman kuliah Hamzah di Bandung, akhwat tangguh yang sering Hamzah ceritakan.”

“Oh… rupanya Sarah to perempuan yang telah mencuri hatimu. Pantas saja semua perempuan yang telah ibu ajukan kau tolak.”

“DEG” hatiku begitu kaget mendengar ucapan bu Sita barusan. “Mencuri hati, kapan aku melakukannya?” pikirku dalam hati.

“begini lo Sar, sebenarnya tadi ibu ingin mengenalkanmu dengan putra kebanggaan ibu ini, ya kalau Tuhan berkehendak bahwa kalian adalah jodoh ibu akan merasa sangat bahagia.”

Ya Allah sekian tahun aku mengenal bu Sita, baru kuketahui sekarang bahwa beliau adalah ibu dari ikhwan yang pernah kukagumi dulu.

“Sarah, kok malah melamun.”

“Eh..iya bu, maaf.”

“Beri waktu Sarah untuk berfikir dulu mi..” ucap Hamzah lembut.

“Bu Sita masih ingat ikhwan aktivis kampus yang pernah Sarah ceritakan dulu?”

“Oh iya…jangan-jangan…”

“Iya bu, dia adalah akh Hamzah putra ibu.”

“Subhanallah, maha suci Allah yang telah mengatur semua ini, jadi kamu bersedia jika Hamzah ini menjadi pendamping hidupmu?”

“Insya Allah bu, kalau akh Hamzah juga bersedia.” Jawabku tersipu malu.

“Ukhti, asal anti tahu, setiap kali ana beristikharah trrhadap calon yang dipilihkan umi, entah kenapa dihati ini selalu terbersit namamu. Ana juga tidak tahu kalau perempuan yang akan dikenalkan umi sore ini adalah anti. Akhwat yang kukagumi. Sungguh indah cara Allah mempertemukan kita. Jadi kapan ana boleh melamar anti?”

Pertanyaan Hamzah membuat hatiku berdesir. Kucup cinta itu telah mekar, mekar dalam ikatan yang begitu suci, mekar dalam keridhoan Ilahi.

Terimakasih ya Allah Engkau telah menjaga hatiku untuk tidak memberikan cinta yang belum waktunya, kini Kau buktikan kekuasaanmu, bahwa Engkau tak akan pernah mengecewakan hambamu yang senantiasa bersabar dalam menjalankan perintah dan menjauhi larangan-Mu.