Khazanah

Kiai Umar Sumberwringin Jember dan KH Ghazali Ahmadi yang Berburu Nabi Khidir

Kamis, 22 Juli 2021 18:00 wib

...
Ilustrasi Nabi Khidir

Sudah cukup masyhur kisah Nabi Khidir dan Nabi Musa. Nabi Khidir berasal dari Persia, anak keturunan Nabi Nuh. Nama lengkapnya, Ablaya ibn Malkan ibn Faligh ibn Syalih ibn Arfahsyad ibn Sam ibn Nuh.

Nabi Khidir punya karomah. Ia memiliki ilmu “ladunni” dan memiliki umur panjang, bahkan masih hidup hingga sekarang. Menurut al-Qurthubi dalam kitab al-Jami’ Li Ahkam al-Qur’an, Nabi Khdir adalah nabi yang dipanjangkan umurnya tapi tak semua orang bisa menjumpainya (والصحيح أن الخضر نبى معمر محجوب عن الابصار)

Nabi SAW sendiri sering berjumpa dengan Nabi Khidir terutama pada musim haji. Karena itu, para ulama memperselisihkan, apakah Nabi Khidir termasuk Sahabat Nabi SAW atau bukan.

Tak hanya Nabi SAW. Bahkan, banyak ulama pewaris Nabi yang bisa berjumpa dengan Nabi Khidir. Salah satunya adalah Kiai Umar Sumberwringin Jember, salah seorang kiai yang diakui kewaliannya oleh Kiai As’ad Syamsul Arifin.

Mendengar kelebihan Kiai Umar yang bisa berjumpa dengan Nabi Khdir setiap saat, maka Abah, KH Ghazali Ahmadi, sowan khusus kepada Kiai Umar. Sebelum menyampaikan keinginannya, Kiai Umar sudah menjelaskan, “Sampeyan belum bisa dijumpai Nabi Khidir tahun ini”.

Usai ngaji khataman kitab pada bulan Puasa tahun berikutnya pada Kiai Umar, tiba-tiba Kiai Umar memanggil Abah dan dawuh, “Tahun inipun sampeyan belum diagendakan ketemu Nabi Khidir”.

Baru ada cahaya terang pada Ramadlan tahun berikutnya. Sore hari, selesai melaksanakan shalat Ashar di akhir bulan Ramadlan, Kiai Umar meminta Abah segera bergerak ke belakang masjid. Kata Kiai Umar, “Sampeyan sedang ditunggu Nabi Khidir di belakang masjid”.

Ma sya’a Allah, perjumpaan yang indah. Abah menjelaskan sosoknya dengan suka cita. Tangannya yang lembut dan mukanya yang berpendar cahaya. Tapi, hingga wafat, Abah tak pernah menyampaikan isi pembicaraannya dengan Nabi Khidir. Percakapan singkatnya dengan Nabi Khidir terus dirahasiakan hingga ajal datang.

Di waktu lain, dalam percakapan telpon dengan saya, Abah menyampaikan bahwa kemarin Nabi Khidir shalat Ashar di rumah. Saat itu para jemaah saling bertanya tentang sosok asing yang ikut shalat berjemaah itu. Ternyata itu adalah Nabi Khidir. Abah tak sempat salaman karena Nabi Khidir buru-buru pergi.

Memang dalam dunia tasawuf, tak semua pengalaman spiritual bisa disampaikan. Saya pun menceritakan peristiwa ini ke publik karena Abah sudah tidak ada, meninggal dunia.

Hanya poin yang ingin saya sampaikan melalui kisah ini adalah; kita yang tidak hebat ini butuh guru yang hebat agar kita cepat sampai ke tujuan. Tanpa guru, kita ini bukan siapa-siapa.

Di samping Kiai As’ad, maka Kiai Umar telah membantu mengantarkan Abah untuk sampai pada yang dicita-citakan. (*)

Kamis, 22 Juli 2021
Salam,

Abdul Moqsith Ghazali