Nasional

Tokoh Lintas Agama Peringati Haul Gus Dur

Sabtu, 28 Desember 2013 13:13 wib

...
KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur (santrinews.com/ist)

Klungkung – Tokoh lintas agama memperingati empat tahun wafatnya mantan Presiden KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) di Ashram Gandhi Puri, Kabupaten Klungkung, Bali, Sabtu, 28 Desember 2013.

Sejumlah tokoh agama Hindu, Kristen, Katolik, Islam, Konghucu, dan Buddha berkumpul di pusat pendidikan agama Hindu itu untuk berdoa bersama sesuai keyakinan masing-masing.

Pada kesempatan itu, seperti dilansir laman Antara, hadir pula Ketua Umum PP ISNU H Ali Masykur Musa yang tercatat sebagai salah satu peserta konvensi calon presiden dari Partai Demokrat.

Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Provinsi Bali Ida Bagus Gede Wiyana mengingatkan pentingnya meneladani Gus Dur.

“Gus Dur mengajarkan kita untuk saling menyayangi,” ujar Wiyana. “Kalau kamu bisa melakukan sesuatu yang baik, orang tak pernah bertanya apa pun agamamu,” kata dia menirukan ucapan Gus Dur.

Sementara itu, Ali Masykur Musa menganggap Gus Dur yang wafat pada 30 Desember 2009 bukan milik satu golongan saja.

“Oleh karena itu, hal yang wajar apabila kerinduan terhadap Gus Dur ini dirasakan semua kalangan masyarakat bangsa Indonesia,” kata anggota Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) itu.

Ali Masykur lebih lanjut mengatakan masyarakat mencintai Gus Dur lantaran mantan Ketua Dewan Syuro PKB itu juga mencintai rakyatnya.

“Gus Dur mencintai kemanusiaan. Gus Dur menempatkan manusia itu sebagai subjek, bukan objek. Gus Dur tidak suka dengan diktator mayoritas dan tirani minoritas,” ujarnya.

Gus Dur, di mata Ali Masykur, telah mewariskan semangat kebangsaan kepada semua lapisan masyarakat. Bagi Gus Dur, setiap orang, apa pun latar belakang agama, suku, kelompok dan golongannya harus dihormati harkat dan martabatnya.

Ia mengamati Gus Dur memaknai keIndonesian sebagai kemajemukan yang dirajut dengan kesetaraan dan keadilan yang tak boleh diciderai, apalagi dengan kekerasan.

“Peringatan ini sebagai upaya kami agar kebhinnekaan Indonesia tak boleh luntur. Kami tergerak untuk mengembalikan semangat dan kesadaran supaya lebih menghargai perbedaan serta tidak terjebak gerakan intoleransi,” katanya.

Menurut dia, Gus Dur selalu melindungi tanpa lelah kelompok yang terpinggirkan oleh arogansi kekuasaan.

“Politik di tangan Gus Dur diarahkan untuk memastikan keadilan semua bidang dan tingkatan,” katanya.

Oleh sebab itu, dia mengingatkan bahwa saat ini masyarakat tidak memerlukan sosok pemimpin berpikran dangkal, praktis, dan hanya berorientasi kekuasaan.

“Di era kepemimpinan Gus Dur, perbedaan masyarakat baik itu suku, agama, ras dan antargolongan menjadi bingkai membangun kehidupan bangsa yang damai. Cita-cita Gus Dur harus terus kita perjuangkan,” tegasnya. (ahay)