Opini

Agama untuk Manusia (3): Rukhsah, Konsep Negosiasi Hukum

Rabu, 29 April 2020 18:00 wib

...

Agama adalah wahyu Allah. Ia datang dari dzat yang Qudus. Olehnya agama selalu bersifat ilahiyyah-samawiyyah. Namun semua agama tidak lahir di alam yang kosong, ia selalu lahir dalam ruang sosial, politik, ekonomi dan budaya masyarakat dimana agama hadir.

Imam as-Syafi’i dalam kitabnya Ar-Risalah, sebelum memulai kajian metode bagaimana memahami Islam (ushul fiqh), beliau mengawalinya dengan memetakan konteks sosial, politik dan budaya masyarakat Arab saat al-Qur’an diturunkan.

Konteks sosial, politik dan budaya penting dalam usaha penafsiran al-Qur’an. Kehilangan konteks itu, akan meyebabkan kesalaham kesalahan serius dalam menafsirkan teks, begitu menurut Imam al-Syatiby.

Dialektika antara teks suci al-Qur’an dan konteks sosial, polotik dan budaya inilah yang menjadi ciri utama Islam, yaitu disamping memiliki dimensi ilahahiyyah (ketuhanan) di saat yang sama ia memiliki demensi insaniyyah (kemanusiaan). Aspek kemanusiaan inilah yang seringkali hilang dalam dakwah dakwah kekinian, khususnya dari pengusung teologi teosentris.

Maka, saatnya mengembalikan kembali dimensi kemanusiaan dalam penafsiran dan dakwah. Karena agama sekalipun ia ilahiyyah namun ia diperuntukkan untuk manusia. Bahkan, seringkali terlihat jelas, “keinginan Allah” direlakan untuk “kepentingan manusia”.

Rukhshah, Konsep Negosiasi Hukum
Konsep rukhshah dalam fikih memperlihatkan dengan jelas bahwa banyak hukum Islam yang kemudian dinegosiasikan karena kepentingan manusia. Shalat memiliki waktu yang telah ditentukan, dan jumlah rakaat yang telah ditentukan pula. Namun jika pelaksanaannya memberatkan manusia, maka waktu-waktu itu digabung (jama’) dan jumlah rakaatnya bisa dikurangi (qashar).

Puasa Ramadhan adalah kewajiban bagi semua umat beriman, namun jika ia sakit atau dalam perjalanan, maka bisa diganti di waktu yang lain. Shalat Jumat adalah kewajiban setiap muslim, namun jika dalam pelaksanaanya menyulitkan maka boleh ditinggalkan atau dilakukan dengan cara yang tidak menyulitkan. Dan masih banyak lagi contoh di semua bidang fikih.

Konsep rukhshoh mislanya, dan contoh contoh diatas menunjukkan bahwa agama diperuntukkan manusia, bukan sebaliknya, manusia untuk agama.

Ada kesalahan pemahaman terhadap konsep rukhshah ini, sehingga kadang ada kesan agama dipermainkan. Misalnya pandangan bahwa Jumat tidak wajib ketika ada udzur, dalam kondisi dharurat atau hajat hal-hal yang diharamkan menjadi halal, dll.

Pandangan ini salah. Sesuatu yang diwajibkan, selamanya akan wajib selama sebab kewajiban melekat, hanya saja jika ada udzur maka kewajiban itu boleh ditinggalkan atau diganti dengan cara lain. Apakah “khamer” misalnya menjadi halal ketika kondisi dharurat? Tidak, khamer tetap haram, hanya ia boleh dikonsomsi untuk sekadar mempertahankan hidup. Dan begitu contoh yang lain.

Al-hasil, bila membaca ayat-ayat suci al-Qur’an, hadist Nabi dan produk fikih, kita akan meyakini bahwa agama sangatlah memperhatikan sisi kemanusiaan manusia. Oleh karena itu marilah kita hadirkan kembali sisi kemanusiaan manusia dalam penafsiran dan dakwah. Jangan melulu bicara yang ghaib-ghaib terus yang kadang tidak bersentuhan dengan kenyataan riil manusia.

Kata Imam al-Ghazali “dunia adalah tempat bercocok tanam/ladang akhirat”. Nah marilah kita bicara tentang dunia, tengtang manusia, pastilah akhirat terpetik. Jangan bicara akhirat terus menerus, tapi lupa menanami ladang dunia. Wallahu a’lam.

Situbondo, 28 April 2020

KH Imam Nakha’i, Dosen Fikih-Ushul Fikih di Ma’had Aly Salafiyah-Syafi’iyah Sukorejo, Situbondo.