Politik

Janji Terapkan Syariat Islam, Politisi Ini Justru Tertangkap Tangan KPK

Jum'at, 01 April 2016 14:23 wib

...
Mohamad Sanusi (santrinews.com/net)

Jakarta – Bakal calon Gubernur DKI Jakarta dari Partai Gerindra, Mohamad Sanusi sempat mengungkapkan keinginannya untuk menerapkan Syariat Islam di Jakarta apabila terpilih dalam Pilkada DKI 2017. Konsep tersebut dinilai sangat cocok untuk diaplikasikan di Ibu Kota.

Namun, keinginan tersebut sepertinya hanya dijadikan kedok untuk merebut simpati umat mayoritas di Jakarta. Pasalnya, Kamis malam, 31 Maret 2016, Anggota DPRD DKI Jakarta itu ditangkap tangan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Padahal, jika betul-betul ditegakkan hukum Islam, tangan dia bisa dipotong.

Sanusi mengatakan, Jakarta tak hanya berperan sebagai ibu kota negara, melainkan juga pusat pemerintahan, ekonomi, budaya, dan metropolitan. Sehingga hal tersebut, kata Sanusi, membuat Jakarta menjadi kota terakus di dunia. Oleh karena itu, penting untuk mencari formula yang tepat, meskipun tidak seperti sistem Syariat di Aceh.

“Syariat yang membuat Jakarta jadi lebih kondusif lagi. Gubernur yang dulu-dulu muslim, tidak ada apa-apa, berjalan baik atau ramai-ramai. Itu yang diharapkan pada umumnya,” kata Sanusi di Masjid Baiturrahman, Jalan Saharjo, Tebet, Jakarta, Jumat, 25 Maret 2016, pekan lalu.

Mimpi Sanusi bertarung di Pilkada DKI 2017 juga bakal pupus karena harus berurusan dengan KPK. Dia diduga terlibat persekongkolan untuk penghentian pengusutan kasus korupsi. Sanusi saat ini menduduki posisi Ketua Komisi D Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) DKI Jakarta.

Selama ini, Sanusi paling sering menuding Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok mengenai dugaan korupsi pembelian lahan Rumah Sakit Sumber Waras. Nyatanya, justru Sanusi ditangkap tangan oleh KPK.

“Ini kan namanya maling teriak maling,” kata Juru Bicara Partai Demokrat Ruhut Sitompul. Menurut Ruhut, sejak Ahok memutuskan meninggalkan Partai Gerindra, para politisinya mulai panik dan “kebakaran jenggot”. Mereka berusaha menyerang Ahok dengan berbagai cara. (us/onk)