Politik

Menghadirkan Narasi Politik Khas Kaum Pesantren

Jum'at, 07 Februari 2020 23:00 wib

...
Salah satu pengasuh Pondok Pesantren Mathaliul Anwar, Pangarangan Sumenep, Mohammad Saifa Ibadillah (santrinews.com/istimewa)

Cara-cara berpolitik masyarakat Sumenep harus mengedepankan fatsun politik santri.

Sumenep – Perhelatan Pilkada Sumenep 2020 tinggal beberapa bulan lagi. Beberapa nama calon bupati sudah mulai bermunculan. Kalangan pesantren menaruh harapan besar agar kontestasi politik berpijak pada fatsun politik santri.

Salah satu pengasuh Pondok Pesantren Mathali’ul Anwar, Pangarangan Sumenep Mohammad Saifa Ibadillah, mengatakan, sejak reformasi panggung politik di Sumenep didominasi politisi berlatar belakang pesantren.

Karena itu, menurut Gus Ibad —panggilan akrab Mohammad Saifa Ibadillah, politik di Sumenep seharusnya menjadi barometer terhadap perbaikan kualitas demokrasi.

“Mereka lebih paham tentang etika dan tanggung jawab politik pada masyarakat. Politik itu amanah. Maka, melaksanakan tugas dan amanah politik secara benar, adalah keniscayaan bagi kaum pesantren,” kata kata Gus Ibad, di Sumenep, Jumat, 7 Februari 2020.

Baca juga: Kemampuan Debat KH Maruf Amin, Pertaruhan Kaum Pesantren

Gus Ibad berharap keterlibatan kaum pesantren dalam politik termasuk pada Pilkada serentak 2020 bisa melahirkan demokrasi yang berkualitas.

“Masyarakat Sumenep adalah masyarakat santri. Maka, cara-cara berpolitiknya harus mengedepankan fatsun politik santri,” ujarnya.

Selain persoalan etika dan tanggung jawab politik, Gus Ibad punya keyakinan keterlibatan kaum pesantren di ranah politik akan mengubah wajah perpolitikan Sumenep.

“Sekali lagi, kita berharap, peran kaum pesantren di politik semakin memperbaiki kualitas demokrasi kita. Jangan sampai, kaum pesantren yang terjun ke panggung sekadar jadi magnet penarik suara. Tapi benar-benar punya imajinasi dan narasi politik khas kaum pesantren,” tandasnya. (wed/hay)