Uswah

KH Syafawi Ahmad Basyir, Anak PKI, dan Metode Dakwah Humanis

Selasa, 04 Agustus 2020 02:00 wib

...
Kiai Syafawi dan Nyai Zainab Hanafi, pada 1977

Dalam buku Benturan NU dan PKI 1948-1965, Abdul Mun’im DZ banyak mengurai kronologi ketegangan politik-ideologis di era Orde Lama yang berujung pada peristiwa berdarah tahun 1965.

Ketika Bung Karno mulai mengkonsolidasikan kekuatan politiknya melalui Nasakom (Nasionalis-Agama-Komunis), maka NU memilih menjadi penyeimbang di antara kubu Nasionalis (yang diwakili oleh PNI dan faksi TNI-AD yang semakin menguat) dan kubu Komunis di bawah komando DN. Aidit.

Dampak dari masuknya NU dalam Nasakom ini membuat para ulama NU dikecam habis-habisan. Termasuk ketika KH Abdul Wahab Chasbullah membawa NU masuk Kabinet Gotong Royong (sebagai pengganti konstituante yang dibubarkan oleh Bung Karno), semakin kuatlah tudingan bahwa NU adalah organisasi politik yang oportunis.

Padahal anggapan tersebut tidak sesederhana yang tampak. NU dengan polotik tawassuth dan tawazun-nya berusaha menjadi penengah sekaligus kekuatan tengah di antara beberapa kubu yang berkonflik.

Ketika TNI-AD mengkampanyekan dan membentuk milisi sukarelawan dalam operasi Mandala dan Konfrontasi dengan Malaysia, serta PKI yang mengusulkan kepada Bung Karno agar membentuk dan mempersenjatai Angkatan Kelima (maksudnya, angkatan setelah AD, AL, AU dan Polisi), maka NU tak mau ketinggalan. Mereka membentuk Barisan Ansor Serbaguna (BANSER) pada 1962 sebagai paramiliter internal, sekaligus juga berjaga-jaga apabila ketegangan sosial politik yang ada meletus menjadi kerusuhan massal.

Dan benarlah, di beberapa daerah menjelang tahun 1965 terjadi beberapa bentrokan. Suasana memanas. Gesekan yang terjadi antara para pemuda Ansor NU dengan Pemuda Rakyat PKI yang sebelumnya sudah memanas di berbagai daerah mulai meningkat menjadi bentrokan kecil, seperti di Kediri, Jombang, Blitar, Banyuwangi dan Surabaya.

Di Desa/Kecamatab Jombang Kabupaten Jember, suasana memanas. Tegang. Sebelumnya, PKI senantiasa memanas-manasi keadaan dengan cara provokatif. Misalnya, mereka menyelenggarakan ludruk dan tayub tak jauh dari Masjid al-Huda Jombang. Bahkan, sempat pula mementaskan lakon “Gusti Allah Sedo”, ”Malaikat Kawin” dan ”Haji Bahrum”, sebuah cerita yang secara provokatif menempatkan sosok kiai dan haji sebagai orang yang suka kawin dan menindas rakyat kecil.

Alur cerita semacam ini tentu saja semakin membuat panas suasana. Bahkan, dalam sebuah pementasan yang digelar beberapa meter dari Masjid al-Huda, Desa Jombang, seniman Lekra yang dibekingi oleh Pemuda Rakyat sengaja mementaskan lakon drama provokatif tersebut.

Beberapa anggota GP Ansor sebenarnya sudah melayangkan protes, namun orang-orang komunis ini tetap cuek dan merasa percaya diri. Penyebabnya, antara lain, mereka punya beking polisi dan tentara. Apalagi kepala stasiun Jombang dulunya juga pro-PKI dan punya menantu tentara komunis. Danramil Kencong, Pak Arifin, ternyata juga simpatisan PKI.

Tak heran jika di Kencong dan Jombang, dua kecamatan yang terletak di Kabupaten Jember, PKI merasa percaya diri karena didukung oleh beberapa tokoh penting.

Di Masjid al-Huda, anggota GP Ansor berlatih beladiri silat. Mereka juga mengumandangkan Shalawat Badar. Tak jauh dari Masjid al-Huda, di sebuah rumah (kini berdiri kantor BRI Jombang), para Pemuda Marhaen rajin berlatih karawitan dan gamelan, sedangkan kurang lebih 200 meter di sebelah timurnya, di markas PKI, para Pemuda Rakyat juga berlatih teater, silat, hingga menyanyikan Genjer-Genjer.

Di Pondok Pesantren Mabdaul Ma’arif, yang diasuh oleh KH Syafawi Ahmad Basyir, saat itu juga diajarkan pencak silat dan gemblengan mental-fisik-spiritual. Parade tarung bebas di atas ring, atraksi kebal bacok, berjalan di atas api dan duri salak, sepakbola api, hingga pamer ketangkasan dan kedigdayaan kerap digelar. Para santri dan pemuda desa unjuk kebolehan. Bahkan, ada sekelompok santri yang suka atraksi pamer kejadugan dan membentuk grup “Bintang Sembilan”.

Kiai Syafawi mengundang KH Jufri (Kaliwining) dan Kiai Mahalli (Balung Tutul), untuk aktif menggembleng santri Mabdaul Ma’arif dan para pemuda GP Ansor Jombang. Total ada 45 pemuda yang ikut gemblengan fisik dan ruhani ini. Mereka rata-rata berusia 20-35 tahun. Semua sudah siap digembleng fisik, mental dan spiritual.

Setelah itu, gemblengan dilanjutkan oleh KH Khobir, Rambigundam. Karena permintaan gemblengan semakin banyak, maka Kiai Syafawi mengundang KH Mas Muhajir, Sidoresmo, Surabaya, untuk menggembleng para santri, GP Ansor dan Muslimat NU. Peserta gemblengen mencapai 100 orang. Latihan digelar di depan langgar Pesantren Mabdaul Ma’arif pada malam hari.

***
Manakala unsur tentara melakukan pembersihan PKI hingga ke akar-akarnya, di awal 1966, beberapa orang komunis di Desa Jombang ketakutan. Beberapa di antaranya memilih melarikan diri. Meloloskan diri dari kejaran TNI-AD. Namun banyak juga dari mereka yang kebingungan dan merasa pasrah, khususnya mereka yang hanya anggota ikut-ikutan alias anggota pasif. Mereka ini adalah rakyat lugu yang terjebak propaganda PKI. Misalnya banyak petani yang ikut acara Barisan Tani Indonesia (BTI), underbow-nya PKI, gara-gara dijanjikan mendapatkan tanah secara gratis.

Demikian pula, beberapa perempuan hanya ikut kumpul-kumpul yang diadakan Gerwani. Mereka tidak paham ideologi komunisme, hanya ikut acara yang diselenggarakan Gerwani karena diajak tetangganya.

Pada akhirnya, mereka ini memilih meminta perlindungan kepada Kiai Syafawi. Oleh beliau, mereka diterima dengan tangan terbuka dan diizinkan tinggal di pesantren, sehingga selamat dari aksi pembersihan yang dilakukan TNI-AD.

Kiai Syafawi bukan tidak menyadari resiko menampung eks PKI ini, bisa-bisa dirinya juga ikut dituduh menyembunyikan orang PKI dan melindungi target operasi tentara. Namun alasan kemanusian lah yang mendorongnya melakukan hal ini.

Manakala serombongan tentara mendatanginya dan menanyakan beberapa orang yang diindikasikan PKI, Kiai Syafawi menjawab bahwa orang-orang yang dituduh PKI sebenarnya bukanlah pendukung komunis, melainkan Sukarnois, pendukung Bung Karno.

Beberapa kali di antara mereka juga ikut mengaji di pondok. Setelah berdiskusi dengan keras, pihak tentara akhirnya hanya menciduk beberapa orang Jombang yang benar-benar terbukti sebagai anggota PKI, bukan rakyat kecil yang hanya diajak ikut acara dan kegiatan PKI.

Di sebelah utara Ponpes Mabdaul Ma’arif dulu terdapat sebuah rumah yang digunakan sebagai kantor Gerwani, salah satu organisasi ibu-ibu yang bernaung di bawah PKI. Mereka sebelumnya sama sekali tidak pernah ikut mengaji di pondok, tiba-tiba dengan tergopoh-gopoh meminta perlindungan dan ingin diakui sebagai santri pondok. Karena banyak di antara mereka yang tidak punya kerudung, maka Nyai Zainab Hanafi, istri Kiai Syafawi, meminjamkan mereka kerudung milik santriwati.

Kaum perempuan yang ketakutan ini kemudian diminta duduk berjajar di halaman ndalem. Mereka diajar untuk bersyahadat lagi, dan kalau perlu mengaku sebagai anggota Muslimat NU.

Demikian pula dengan beberapa laki-laki yang dicap anggota PKI gara-gara pernah menonton kesenian yang diselenggarakan partai komunis tersebut. Mereka berbondong-bondong meminta perlindungan di pondok. Semua diterima dengan tangan terbuka.

Di timur sungai, depan Pondok Pesantren Mabdaul Maarif, juga terdapat seseorang yang menjadi teliksandi PKI. Manakala terdesak dan tentara sudah nyaris menciduknya, dengan tersedu-sedu dirinya sowan ke Kiai Syafawi meminta perlindungan.

Bagaimana kelanjutan nasibnya? Ia selamat. Sebab manakala tentara sudah mau menjemputnya, Kiai Syafawi pasang badan mengakui bahwa mata-mata PKI itu bukan komunis, melainkan orang NU.

“Abah saat itu bisa meyakinkan tentara kalau orang tersebut adalah warga NU, meskipun ini hanya strategi menyelamatkan nyawa seseorang,” kata KH Achmad Zaini, putra Kiai Syafawi, mengenang peristiwa tersebut.

Di antara alasan Kiai Syafawi melindungi mereka yang disangka PKI adalah, sebagai manusia dirinya wajib menolong mereka yang membutuhkan pertolongannya, apalagi berkaitan dengan nyawa. Kedua, beliau tahu, apabila seseorang menjadi komunis, belum tentu anaknya mengikuti langkah orangtuanya. Oleh karena itu, beliau senantiasa berusaha melindungi beberapa santri yang kedua orangtuanya diindikasikan sebagai simpatisan komunisme.

Bagi Kiai Syafawi, merancang masa depan anak-anak mereka jauh lebih penting daripada hanya mencibir kelakuan orangtua mereka. Karena itu, ada beberapa anak yang orangtuanya dituduh PKI kemudian dipondokkan di Pondok Pesantren Mabdaul Ma’arif.

Setelah beberapa tahun mereka sudah lancar mengaji, “Ini lho pak, putra panjenengan sekarang sudah pandai mengaji,” kata Kiai Syafawi kepada orangtua santri, sebagaimana dituturkan oleh Kiai Achmad Zaini, putranya.

Meski menjadi target bunuh PKI, namun Kiai Syafawi menyadari bahwa tak semua unsur PKI tahu dan terlibat dalam merancang mengenai plot pembunuhan, apalagi beberapa orang ikut PKI maupun underbow-nya karena sekadar ikut-ikutan saja.

Apa yang dilakukan oleh Kiai Syafawi ini selaras dengan apa yang dilakukan oleh para ulama lain ketika menghadapi suasana chaos. Misalnya seperti yang dilakukan oleh KH Muslim Rifa’i Imampuro alias Mbah Liem. Kiai eksentrik yang dipercayai sebagai waliyullah ini menetap di kawasan kampung “abangan” di daerah Klaten pada tahun 1959.

Saat itu, dirinya hanyalah satu-satunya orang yang melaksanakan shalat. Maklum, di desa tersebut semuanya orang awam yang juga simpatisan PKI. Fitnah, permusuhan, dan ejekan menyakitkan diterima Mbah Liem setiap hari dari para tetangganya. Mereka juga gemar menyaksikan sandiwara olok-olok dan parodikal seperti “Kematian Tuhan”, “Malaikat Kawin” dan sebagainya.

Mbah Liem tidak menentang secara frontal aksi drama yang mengejek umat Islam tersebut. Dia malah mendirikan sebuah masjid kecil yang sederhana. Anak-anak kecil dia ajari dasar-dasar Islam. Targetnya, anak-anak dipersiapkan menjadi santri masa depan. Target jangka panjangnya mengubah desa tersebut menjadi perkampungan muslim yang taat.

Maka, ketika terjadi gonjang ganjing 1965, dan tentara mengirimkan pasukan pembunuh ke desa tersebut untuk melakukan pembersihan unsur komunis, Mbah Liem lah yang pasang badan membela penduduk. Dengan lantang, dia mengatakan di depan pasukan, “Jika kalian membunuh mereka semua, lantas siapakah yang akan sembahyang di masjidku?”

Meskipun berhasil melindungi para penduduk dari aksi pembantaian, namun Mbah Liem masih menghadapi gempuran kekuatan hitam dari alam lain. Namun dengan riyadlahnya, Mbah Liem berhasil menetralisir kekuatan tersebut. Sejak saat itu desa ini berubah menjadi kawasan santri. Mbah Liem juga berhasil mengembangkan sebuah lembaga pendidikan bernama Pondok Pesantren al-Muttaqin Pancasila Sakti (Alpansa), di desa Troso, Karanganom, Klaten tersebut (Martin Van Bruinessen, Urban Sufism [Jakarta: Rajawali, 2013], hlm. 184).

Di daerah lain, para kiai menyelamatkan anak-anak para korban yang disangka PKI dengan cara mengasuh dan merawatnya hingga menyekolahkannya, bahkan mencarikan pekerjaan dan menikahkannya. Mereka sadar apabila spiral kekerasan harus dihentikan, trauma harus dihilangkan dan rekonsiliasi harus dijalankan.

Kiai Syafawi, Mbah Liem, dan para ulama lain tahu bahwa cara-cara manusiawi memiliki atsar yang kuat yang bakal terpatri di hati. Apabila cara-cara kemanusiaan bisa dilakukan dengan jalan yang elegan, mengapa harus menggunakan cara-cara yang kotor dan tidak manusiawi? (*)

(Tulisan ini disusun dalam rangka Haul Kiai Syafawi, yang ke-37, hari ini).

Rijal Mumazziq Z, Rektor Institut Agama Islam Al-Falah As-Sunniyyah (Inaifas) Kencong, Jember, Jawa Timur.