Uswah

Kiai As‘ad Syamsul Arifin dan KH Ghazali Ahmadi

Sabtu, 17 Juli 2021 09:30 wib

...
Salah satu catatan KH Ghazali Ahmadi

Dalam keluarga besar saya, Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyyah Sukorejo Situbondo Jawa Timur mempunyai kedudukan khusus. Kecuali kakek saya yang alumni Pondok Pesantren Guluk-Guluk Sumenep dan kakek buyut saya yang alumni sebuah pesantren di Pamekasan, maka seluruh keluarga besar saya adalah alumni Pesantren Sukorejo.

Bahkan, KH Ghazali Ahmadi, abah saya menyelesaikan seluruh jenjang studinya di Sukorejo. Mulai dari Madrasah Ibtida’iyah, MTs, Madrasah Aliyah hingga Sarjana Mudanya, semuanya dituntaskan di Pesantren Sukorejo.

Melalui jalur Pesantren Sukorejo ini, nasab keilmuan Abah terhubung ke jaringan ulama di Timur Tengah. Ini karena Kiai Syamsul Arifin (Pendiri dan Pengasuh Pertama) dan Kiai As’ad Syamsul Arifin (Pengasuh Kedua) belajar di Mekah cukup lama.

Tak hanya belajar ilmu kitab, Abah saya juga belajar ilmu laku (ilmul ahwal) kepada Kiai As’ad Syamsul Arifin yang saat itu sudah menjadi Pengasuh Pesantren Sukorejo, menggantikan ayahandanya yang wafat tahun 1951.

Tak jarang Kiai As’ad mengajak Abah ke Surabaya dengan mengendarai angkutan umun, bus. Mungkin untuk suatu keperluan, bertemu para kiai lain atau tokoh politik lain di Surabaya.

Kadang Abah diajak berdakwah oleh Kiai As’ad ke kampung-kampung di sekitaran Situbondo, Bondowoso, Jember, Lumajang. Biasanya, menurut tuturan Abah, Kiai As’ad ceramah 5 menit, selebihnya Abah yang diminta untuk melanjutkan setengah jam atau satu jam dan nanti mik diambil kembali oleh Kiai As’ad untuk diberi tambahan penjelasan singkat dan kemudian ditutup.

Begitulah cara Kiai As’ad mengkader dan mendidik santrinya untuk berani tampil di mimbar-mimbar ceramah. Kiai As’ad mengajak santrinya bertemu para tokoh, agar tidak minder dalam pergaulan sosial dan politik. Mungkin karena didikan Kiai As’ad yang seperti itu, saya tak pernah menyaksikan Abah grogi atau canggung ketika ceramah atau ketemu para tokoh.

Demikian intim hubungan Abah dengan Kiai As’ad karena sosok kiai seperti Kiai As’ad ini menganggap santri-santrinya adalah anaknya sendiri, bukan orang lain.

Ketika sowan, kadang Kiai As’ad nanya cukup detail aktivitas Abah di kampung sampai pada kondisi ekonomi keluarga Abah. Saya yang diajak sowan, biasanya hanya mendengarkan saja hingga kemudian Kiai As’ad nanya saya, “Kamu sudah kelas berapa. Jangan sering pulang, nanti alim”.

Mungkin karena itu Abah seperti tak bisa dipisahkan dari Kiai As’ad. Ketika Kiai As’ad sudah wafat, dalam kondisi apapun Abah selalu berkirim fatihah pada Kiai As’ad. Bahkan, lima menit sebelum wafat, Abah masih sempat berkirim fatihah untuk dua guru mulianya, KHR Syamsul Arifin dan KHR As’ad Syamsul Arifin.

Abah, sekarang Abah sudah tenang, berjumpa dengan guru-guru mulianya. Sebagai anak, Ananda bersyukur kepada Allah, Abah dipertemukan dengan guru-guru agung yang telah mendidik Abah secara dhahir dan bathin. InsyaAllah Abah husnul khotimah.

Ananda bangga dengan Abah. Banyak orang mendoakan Abah dan menangisi kepergian Abah. KH Ghazali Ahmadi lahir 4 Mei 1945 dan wafat Jumat 16 Juli 2021, dalam usia 76 tahun.

اللهم اغفر ذنوب أبى وتقبل جميع أعماله الصالحة

Sabtu, 17 Juli 2021
Salam,
Abdul Moqsith Ghazali