Ziarah

Haji Lane dan Paradoks Singapura

Minggu, 13 Januari 2019 16:00 wib

...
KH Zahrul Azhar As’ad alias Gus Hans saat berjalan-jalan di Haji Lane di Singapura (santrinews.com/ist)

Oleh: KH Zahrul Azhar As’ad

JALAN ini sangat ramai dikunjungi oleh anak-anak muda, baik native (penduduk pribumi) ataupun turis mancanegara, di sini tempat favorit mereka untuk sekadar ngobrol sambil minum-minuman berakohol.

Suasana hiruk pikuk di ujung jalan ini seakan kontras dengan nama dari jalan ini, ya nama jalan ini sangatlah syar’i: Haji Lane.

Dalam perjalanan kunjungan ke Singapura pekan in, saya berkesempatan mengunjunginya. Haji Lane ini terletak di kawasan Arab Street Singapura dan terbentang antara Beach Road dan North Bridge Road.

Dahulu kala tempat ini adalah persinggahan para muslim yang hendak berangkat Haji, mereka tinggal di sini (karena tak jauh dari Masjid Sultan) untuk transit sekaligus berjualan untuk mengumpulkan uang saku selama perjalanan haji.

Tapi kini, tempat ini sudah tidak cocok ditempati “Pak Haji” karena sekarang sudah berubah 180 derajat. Suasana sudah lebih hedon dengan mempertahankan atmosphere yang vintage.

Namun kekontrasan ini jika dibandingkan di Bangkok atau Korea Selatan “lebih bisa diterima” karena hanya terdapat pada papan nama jalan “Haji” yang dilingkari para pengkonsumsi minuman beralkohol saja plus lokasi ini tak jauh dari masjid terbesar di Singapura.

Di Bangkok antara “arab street” dengan lokasi prostitusi saling berhadap-hadapan. Di Korea Selatan lokasi masjid terbesarnya juga tak jauh dari area prostitusi walau agak terselubung (jangan dibayangkan sevulgar seperti di Dolly Surabaya dulu ya).

Kekontrasan lain dari Singapura adalah tentang kepemilikan tanah. Negara ini tidak seperti tampaknya yang “sangat demokratis” tapi pada prakteknya cenderung feodal.

Konsepsi hukum tanah di sini adalah konsepsi feodal dimana semua tanah adalah milik Raja (Pemerintah), rakyat hanya bisa menguasai dan memakai tanah milik Raja. Yang dimiliki bukan tanahnya tetapi haknya (hak untuk memakai tanahnya saja).

Sering kita ini bermain di wilayah cashing semata, tapi menafikan content (isi) sehingga apa yang kita ributkan pun “kurang berisi” tapi lebih seperti ributnya anak Taman Kanak-Kanan yang rebutan permen atau ributnya ABG kampung yang lagi mabuk di konser VA (Via Avalen).

Sebagian kita sibuk menggunakan baju-baju agama tapi perilaku kita jauh asap dari panggang. Sering kita seperti merasa terbelakang dan kurang bersyukur dari penampilan tetangga-tetangga kita. (*)