Tolak Kenaikan BBM, PMII Tulungagung Aksi Jalan Mundur

PMII menggelar aksi menolak kenaikan harga BBM. Tampak aksi teaterikal yang meniru Presiden Jokowi dan ketua umum PDIP Megawati (santrinews.com/ tribunnews)

Tulungagung – Puluhan Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Tulungagung, Jawa Timur, Rabu 19 Nopember 2014, melakukan aksi jalan mundur sebagai bentuk protes atas kebijakan pemerintah menaikkan harga bahan bakar minyak bersubsidi.

Massa PMII yang berjumlah kurang lebih 25 orang bergerak dari dua arah jalan protokol berbeda sebelum akhirnya sampai dan berkumpul menjadi satu di perempatan TT, Kota Tulungagung.

Mereka membentangkan spanduk berisi kecaman sekaligus penolakan atas kebijakan pemerintah menaikkan harga BBM bersubsidi.

Massa aksi yang tergabung dari mahasiswa IAIN Tulungagung, STKIP Tulungagung, Univesitas Tulungagung dan STAI Diponegoro tersebut juga berorasi di sepanjang jalan yang mereka lalui sembari terus berjalan mundur.

“Pemerintah Jokowi telah bohong soal kebijakannya menaikkan BBM. Program kompensasi yang dijanjikan juga tidak merata, hanya dilakukan di sejumlah kota besar, tidak sampai pelosok daerah,” kecam koordinator aksi PMII, Antony.

Setelah sempat berorasi dan membentangkan spandung di tugu bundaran perempatan TT, selatan alun-alun Kota Tulungagung, massa kembali bergerak menuju kantor DPRD setempat dengan mendapat pengawalan ketat dari puluhan anggota kepolisian.

Di depan kantor wakil rakyat ini massa PMII kembali mengeluarkan pernyataan sikap penolakan terhadap kebijakan kenaikan harga BBM yang mereka nilai telah memicu rangkaian lonjakan harga-harga kebutuhan pokok maupun sekunder lainnya.

Meski sempat berupaya memasuki halaman kantor DPRD, seperti dilansir Antara, aksi berlangsung damai.

Polisi yang berjaga di pintu masuk kantor dewan sigap menahan pergerakan mahasiswa hingga akhirnya dua wakil rakyat dari PKB (Adib Makarim, Wakil Ketua DPRD) dan Golkar (Asrori, anggota Komisi A) keluar dan menemui massa aksi.

“Sama seperti aspirasi teman-teman mahasiswa, kami juga menolak kebijakan kenaikan ini (BBM) karena memberatkan ekonomi rakyat kecil,” kata Asrori dan Adib di hadapan mahasiswa. (shir/onk)

Terkait

Daerah Lainnya

SantriNews Network