Menag: Ciri Pesantren itu Moderat, Toleran, dan Cinta Tanah Air

Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin (santrinews.com/antara)

Wonosobo – Pesantren termasuk lembaga pendidikan Islam tertua di Indonesia. Pesantren bahkan sudah ada sejak sebelum Indonesia merdeka. Sebagai lembaga pendidikan khas Indonesia, pesantren tumbuh demikian pesat dalam warna dan keberagamaannya.

“Saya mencermati, setiap pesantren mempunyai ragam jenis berbeda yang dikembangkan, sebagai ciri khasnya. Semua disesuaikan dengan situasi kondisi dan kebutuhannya,” kata Menteri Agama H Lukman Hakim Saifuddin, saat memberikan sambutan di hadapan pengasuh, pimpinan, serta para santri dan alumni Pondok Pesantren Modern Sahid, Gunung Menyan, Bogor, Rabu 27 Mei 2015.

Ada pesantren yang mendalami ilmu hadist, tafsir, ilmu alat, dan pada awal tahun 70-an berkembang pesantren yang diarahkan pada pengembangan keterampilan dan pertanian.

Hal itu, menurut Lukman Hakim, karena masing-masing kiai memiliki otonomi yang sangat luas dan kewenangan besar ke arah mana pesantrennya dikembangkan.

“Meski demikian, diantara keragaman yang ada, minimal ada tiga ciri utama yang terdapat dalam setiap pesantren,” ujarnya.

Menurut Lukman Hakim, setidaknya ada tiga ciri yang dengan mudah kita menemui itu pesantren atau bukan. Ketiga ciri itu adalah pemahaman keagamaan yang moderat, sikap yang toleran, serta cinta Tanah Air.

Lukman Hakim menjelaskan ciri pertama setiap pesantren dalam mengembangkan Islam selalu mengajarkan paham Islam yang moderat, tasamuh, Islam wasatiyah yang dikenal dengan Islam Ahlussunnah waljamaah.

“Setiap pesantren bisa dipastikan, menanamkan dan mengajarkan nilai-nilai Islam yang penuh dengan moderasi,” paprnya.

Kedua, ciri pesantren itu dalam melihat, memahami lalu meng-hukumi (membuat hukum) sesuatu dilandasi kesadaran diri bahwa sesungguhnya kita tidak memiliki suatu yang hak mengatakan yang paling benar.

“Ada jiwa besar yang dikembangkan pesantren bahwa meskipun kita meyakini bahwa yang kita pegangi itu benar, tapi tetap terbuka kemungkinan pendapat lain di sana ada potensi kebenaran juga. Ada jiwa besar dan nilai yang ditanamkan bahwa kebenaran itu tidak mutlak milik kita saja,” kata Menag.

Menurutnya, ada kebesaran jiwa, hatta seorang ulama besar Imam Syafii mengatakan, “meskipun aku meyakini pendapatkulah yang benar, tapi dengan rendah hati ia mengatakan boleh jadi pendapat yang aku yakini mengandung hal-hal yang boleh jadi salah, sebaliknya menskipun pendapat orang lain itu salah, tapi boleh jadi yang aku anggap salah itu di sana termuat ada potensi kebenaran”.

Dalam pandangan Menag, itu yang dibangun pesantren, sehingga santri dan kiainya tidak mudah menyalahkan orang lain, mengkafirkan sesama. Dan itulah sesungguhnya yang dibangun, karena pada setiap manusia ada keterbatasan diri, sehingga Allah menciptakan keberagaman. Keberagaman adalah anugerah Tuhan, dan karena keterbatasan sehingga bisa saling melengkapi.

Hikmah lain di balik keragaman, lanjut Menag, adalah memudahkan kita mencari pandangan lain. Cara kita mensikapi keragaman dengan cara tawasut, tawazun, bukan saling menegasikan satu sama lain. “Keragaman harus dilihat dengan kelembutan dan kasih sayang. Pesantren memiliki kontribusi dalam pembentukan karakter Islam,” kata dia.

Ketiga, pesantren pasti mengajarkan santrinya untuk wajib mencintai tanah air. Ini wujud dari ajaran hubbul wathan minal iman. Hanya di daerah atau negara yang tidak bergolak, yang penuh damai, maka nilai dalam syariat Islam bisa ditegakkan, jadi syarat untuk menunaikan ajaran Islam, adalah kondisi negara yang aman.

“Itulah mengapa cinta tanah air bagian dari iman. Nasionalisme ditanamkan di pesantren,” tandasnya. (us/hay)

Terkait

Nasional Lainnya

SantriNews Network