Daerah

Gandeng DPKS, STIT Al-Karimiyyah Gelar Kajian Pendidikan

Minggu, 06 Oktober 2019 22:00 wib

...
Suasana Kajian Tantangan Pendidikan di Era Industri di kampus STIT Al-Karimiyyah, Beraji, Gapura, Sumenep (santrinews.com/bahri)

Sumenep – Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Al-Karimiyyah Beraji, Kecamatan Gapura, Sumenep, Jawa Timur menggelar Kajian Pendidikan guna menumbuhkan kepekaan mahasiswa dalam menjawab tantangan pendidikan di era industri.

Kajian bertema Tantangan Pendidikan di Era Industri 4.0 itu berlangsung di ruang Micro Teaching STIT Al-Karimiyyah, Ahad, 6 Oktober 2019, pagi.

Bekerjasama dengan Dewan Pendidikan Kabupaten Sumenep (DPKS), kajian dilaksanakan dalam rangka Asosiasi Bidik Misi STIT Al-Karimiyyah.

Hadir sedikitnya 50 mahasiswa. Mereka terdiri dari pengurus BEM, UKM, dan mahasiswa Prodi Manajemen Pendidikan Islam (MPI).

Baca juga: PMII STIT Al-Karimiyyah Sukses Ciptakan Warna Baru Kesadaran Gender

Ketua Prodi MPI STIT Al-Karimiyyah Fawaid Zaini mengatakan, kajian diadakan untuk memancing emosi mahasiswa dalam menjawab tantangan pendidikan di era industry. Menurut dia, mahasiswa harus peka dan mampu mengimbangi kemajuan yang semakin pesat.

“Sebagai pengembangan potensi diri mahasiswa agar memiliki jiwa kritis melalui adanya kajian pendidikan,” kata Fawaid.

Ia berharap, pasca kajian mahasiswa benar-benar bisa membaca pola sekaligus tantangan pendidikan di masa mendatangt. Sehingga mereka mampu menunjukkan jati dirinya sebagai pioner kemajuan pendidikan.

“Saya sudah suruh agar mahasiswa nanti selalu mengadakan kajian seperti kajian tokoh dan filsafat,” ujar Fawaid.

Baca juga: Di Pesantren Tebuireng, Ditjen Pendis Beberkan Tantangan Pendidikan Islam

Ketua STIT Al-Karimiyyah Dr Ach Syaiful menyebut apa yang dilakukan Kampus Kuning dan DPKS itu adalah upaya untuk mencari formula pendidikan yang cocok bagi kaum milenial dalam menghadapi era Industri 4.0.

“Komitmen kita akan terus berupaya mencari terobosan pendidikan di Kabupaten Sumenep,” kata Syaiful yang juga Ketua DPKS.

Hadir juga sebagai pemateri, Wakil Ketua III Bidang Kemahasiswaan Amiruddin, dan Dr Musleh Wahid dari DPKS.

Dalam paparannya, Dr Musleh menyatakan bahwa pendidikan di era Industri 0.4 memiliki pengaruh sekaligus tantangan sangat besar. Karena itu, diperlukan penyeimbang antara Ilmu Pengetahuan Teknologi (IPTEK) dengan Iman dan Takwa (IMTAQ).

“Tantangan pendidikan di era 0.4 sangat besar, baik yang positif dan negatif, sehingga perlu adanya keseimbangan IPTEK dan IMTAQ,” tegasnya. (ari/onk)