Nasional

Kenang Jasa Mahbub Djunaidi, Pendiri PMII Itu Layak Jadi Pahlawan Nasional

Selasa, 28 November 2017 16:36 wib

...
Lutfi Joko Prihatin, Maskuri Ismail, Isfandiari Mahbub Djunaidi dan Arifin MH. Dalam Seminar Nasional IKA PMII Situbondo di Aula Depag Situbondo (Foto Fawaid Aziz)

Situbondo – Pengurus Cabang (PC) Ikatan Alumni ( IKA) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kabupaten Situbondo gelar Seminar Nasional. Dihadiri putra pendiri PMII Isfandiari Mahbub Djunaidi. 

Acara Seminar Nasional dengan tema “ Menegaskan peran Strategis Mahbub Djunaidi Dalam Pergerakan Nasional” dihadiri oleh pengurus IKA PMII Situbondo dan Ratusan Kader PMII di Aula Depag Situbondo, Selasa, 28/11/2017.

Arifin MH. Selaku ketua IKA PMII Situbondo dalam sambutannya menyampaikan kegiatan ini diharapkan mampu memahami sepak terjang pendiri PMII dan mempublikasikan bahwa pendiri PMII Mahbub Djunaidi layak dan pantas mendapatkan penghargaan sebagai pahlawan Nasional.

“Kader-kader PMII harus menjadi penyambung Dalam hal tulis-menulis Mahbub temasuk sangat piawai pada masanya, misalnya beliau yang menerjemahkan buku 100 tokoh yang berpengaruh di dunia karangan Michael H. Hart. Pun, dalam menulis kolom,

Mahbub sangat terkenal dengan bahasa satire dan bahasanya yang humoris. Bahkan, Bung Karno samapai terkesan dengan tulisan beliau, karena Mahbub mengatakan Pancasila lebih agung dari Declaration of Independence, sehingga Bung Karno sempat mengundang Mahbub ke Istana Bogor.

“Dari situlah Mahbub Junaidi menjadi sangat dekat dengan Bung Karno, dan Mahbub sangat kagum dengan sang penyambung lidah rakyat tersebut,” tegas Arifin.

Sementara itu Ketua Majlis Pertimbangan IKA PMII Situbondo, Lutfi Joko Prihatin menyampaikan kita cukup bangga menjadi Kader PMII dan hari ini kita kedatangan Putra beliau Isfandiari Mahbub Djunaidi untuk memberikan pemantapan dengan buku yang ditulis dengan Judul “ Bung Memoar Tentang Mahbub Djunaidi“ 

Lutfi Menegaskan, Mahbub Djunaidi adalah tokoh nasional yang bersahaja, seorang jenius yang berkarakter mengamati perkembangan hidup melalui tulisan-tulisannya, penggerak organisasi dan seniman politik yang dimiliki oleh NU dan masyarakat Indonesia pada umumnya. Sementara Mahbub Djunaidi meninggal dunia pada tahun 1995 di usia 62 tahun, usia yang masih cukup untuk beraktivitas dan berjuang.

Pada masa kepemimpinan sahabat Mahbub Junaidi inilah PMII secara politis menjadi sangat populer di dunia kemahasiswaan dan kepemudaan, sampai pada periode pertama sahabat Zamroni. Pernah ketika itu, sebagai ketua umum PMII dirinya menunjukkan tajinya, saat HMI hendak dibubarkan oleh Bung Karno, dikarenakan tokoh-tokoh Masyumi terlibat dalam pemberontakan PRRI PERMESTA di Sumatera Barat.

Mahbub yang menjabat sebagai ketua PMII langsung berangkat ke Istana Bogor untuk berdialog langsung dengan Bung Karno, dan pemintaan Mahbub sangat tegas, yaitu “HMI jangan dibubarkan.” Dan akhirnya tuntutannya itu terkabul.

Saat menjadi aktivis mahasiswa, Mahbub juga ahli dalam membuat lagu, mars PMII dan mars Gerakan Pemuda Ansor juga ciptaan dari Mahbub Junaidi. Dari kariernya sebagai ketua umum PB PMII, membuat kaiernya melesat ke Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Pungkasnya lutfi dalam sambutannya. 

Diakhir sambutannya lutfi mengaskan bahwa kita bertanggung jawab untuk terus mempublikasikan kepada seluruh masyarakat dan pemerintah bahwa Mahbub Djunaidi layak dan pantas mendapatkan gelar pahlawan Nasional. (*)