Opini

Untuk Apa PMII Didirikan?

Minggu, 17 April 2016 12:04 wib

...

Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) pada 17 April 2016 genap berusia 56 tahun. Sebagai warga pergerakan sekaligus pendiri PMII, penulis bangga sekaligus bersyukur ke hadirat Illahi Robbi yang telah memberikan karunia dan nikmat untuk terus mengabdi dan berjuang dalam mencari ridla-Nya.

Bangga karena tidak terasa ternyata PMII sudah berusia 56 tahun, umur yang dalam hitungan usia sudah tidak muda lagi, tapi semangat dan jiwa sebagai warga pergerakan harus muda dan siap menjadi garda terdepan dalam mengawal tradisi dan ajaran Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja).

Semakin tua semakin menjadi. Artinya, dengan sikap kesatria, profesional dan mandiri, PMII harus lebih produktif memberikan sumbangsih dan kontribusi terhadap agama dan bangsa Indonesia. Meskipun acapkali PMII selalu menjadi momok dalam rumah sendiri, tapi itulah perjuangan, bahwa perjuangan hanya butuh pengorbanan bukan imbalan.

Meminjam istilah Bung Karno “berikan aku 10 pemuda, maka akan kuguncang dunia”, begitu juga dengan PMII, sekali PMII selamanya berjuang bersama PMII. Di PMII hanya butuh pemuda yang idealis dan semangat berjuang mengawal tradisi Aswaja. Berorganisasi itu belajar menghargai orang lain, latihan mengenal orang, menghormati keyakinan orang lain. Orang yang tanpa latihan maka dia akan menjadi pemimpin yang wagu, yang tidak pernah menghargai orang lain, apalagi menghormati orang lain.

Nah, pada harlah (hari lahir) PMII kali ini, terpenting dan yang paling penting adalah mengenang dan mendoakan (haul) jasa para pendiri PMII. Meneruskan perjuangan dan menjaga tradisi paham Aswaja. Tentu, melalui acara istighotsah, tahlil, dan doa bersama. Karena inilah etika dan kebudayaan model Aswaja.

Harlah PMII dalam setiap tahun harus selalu diperingati agar para generasi PMII tahu, orang lain tahu, apa sih PMII dan mengapa didirikan. Ini penting!

Mengapa PMII berdiri? Pada saat itu, tahun 1960 partai-partai besar mempunyai angkatan muda khususnya di kalangan mahasiswa, seperti GMNI, HMI, Masyumi, dan lain sebagainya. Akan tetapi NU yang memiliki basis massa terbesar justru tidak memiliki. HMI yang dulunya menjadi garda NU akan tetapi lebih condong kepada Masyumi.

Akhirnya, munculah ide dan gagasan dari daerah-daerah untuk mendirikan pergerakan mahasiswa yang selanjutnya diberi nama PMII. Beridirnya PMII tidak mulus begitu saja, banyak ganjalan dan kendala untuk mendirikan sebuah pergerakan Islam. Namun, karena keukeuh dan tekad bulat dari para pendiri PMII, maka hingga saat ini PMII tetap kokoh berdiri dan eksis sepanjang masa.

Gagasan Mendirikan PMII
Gagasan untuk mendirikan PMII berawal muncul dari pojok Sekretariat IPNU di Yogyakarta, dan waktu itu yang menjadi koordinator sementara adalah Ismail Makki. Setelah semua ide dikumpulkan, maka sepakat untuk mendirikan PMII. Sebanyak 13 orang sowan (menghadap) kepada Pengurus Besar NU di Jakarta yang isinya niatan untuk mendirikan PMII.

Akhirnya, setelah berbincang dan membahas panjang, maka PBNU setuju PMII didirikan yang tujuannya adalah untuk mengikat para mahasiswa NU agar tidak bisa dan memiliki rumah sendiri.

Pada tahun 1960-an tepatnya bulan Ramadhan, selama 3 hari di Kaliurang,Yogyakarta, berkumpulah para tokoh IPNU dan 13 pimpinan IPNU wilayah se-Indonesia. Ketika itu, saya merupakan ketua IPNU cabang Solo yang saat itu sedikitnya memiliki 7 perguruan tinggi. Karena memang syarat mendirikan PMII di daerah harus ada perguruan tingginya. Sedangkan utusan dari PBNU yang hadir adalah KH Anwar Mussadad.

Nah, dalam kongres pertama inilah PMII resmi berdiri lalu melahirkan berbagai macam aturan dan okoh muda yang selanjutnya diberikan mandat untuk meneruskan perjuangan Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) di Nusantara. Karena esensi didirikannya PMII adalah pertama, untuk meneruskan estafet perjuangan NU.

Kedua, untuk melatih diri bermasyarakat dan berorganisasi tanpat mengubah pendirian dalam mempertahankan Aswaja. Dan ketiga, untuk menyiapkan generasi yang mampu menangani pergolakan tanpa mengorbankan prinsip akidah.

Untuk mendirikan PMII di daerah, saya sowan ke KH Abdul Hadi Al Hafidz di Langitan, Tuban. Niatan itu mendapat restu dan pesan untuk menunaikan puasa. Saya puasa 7 hari, dan mendirikan PMII di Lamongan, kemudian harus kembali lagi ke Solo untuk melanjutkan kuliah. Jadi, tidak main-main untuk memperjuangkan PMII. Bahwa berjuang di NU itu tidak mengandalkan pemikiran saja tetapi juga mengorbankan harta dan mendekatkan diri kepada Yang Maha Kuasa.

Sekali lagi inilah perjuangan. Jadi, idealis itu butuh generasi, bahwa mendirikan PMII sampai merawat organisasi itu tidak gampang dan butuh perjuangan panjang. Untuk itulah, generasi saat ini hanya tinggal meneruskan dan merawat saja, tidak kurang, tidak lebih. Dan yang paling utama adalah tradisi Aswaja jangan sampai pudar dan musnah ditelah modernnya zaman.

Setelah PMII berdiri, maka para pengurus langsung eksen dan menyebarkan PMII di kampus-kampus. Berawal di kampus Yogyakarta, selama beberapa tahun anggotanya bisa dihitung jari, karena banyak mahasiswa yang tidak tertarik dengan PMII. Apa PMII itu? Mahluk apa itu? begitu kira-kira pertanyaannya.

Alhamdulillah, di Asia Tenggara, hanya PMII-lah yang sampai hari ini tetap eksis dan banyak anggotanya hampir mencapai satu juta dua ratus, tiap kota ada PMII. Dari 9 tokoh pendiri PMII, kini tinggal 3 orang yang masih hidup dan terus berjuang agar PMII tetap eksis dan menjadi penerus perjuangan ajaran Aswaja. Ketiga tokoh itu di antaranya, saya, KH Munsih Nahrawi dan KH Khalid Mawardi.

Sampai sekarang saya masih terus bergerilya ke daerah-daerah untuk menyuarakan panji-panji PMII. Pada tanggal 17 April 2016 saya menghadiri harlah PMII di Tuban, lanjut ke Lamongan pada tanggal 18, terus ke Bekasi, dan tanggal 19 saya menghadiri harlah PMII di Bondowoso, dan tanggal 20 saya menghadiri harlah PMII di Pamekasan, Madura. Kalau dituruti, hidup saya di jalanan, tapi enggak apa-apa, memang harus begini. Yang penting PMII tetap hidup dan terus berkembang.

Kalau saya tidak turun, saya khawatir, dalam ilmu sosiologi, suatu organisasi yang lama didirikan tanpa sentuhan pendiri maka lambat laun akan berubah. Makanya, saya khawatir PMII kalau tidak diurusi, akan berubah dan lama-lama tidak keruan. Saya sangat memperhatikan, terlebih kalau di luar daerah, apakah saya diundang MUI, NU, atau acara lainnya, saya selalu telepon temen-temen PMII untuk kumpul sama-sama bicara soal PMII dan masa depan PMII. Ini saya lakukan, mumpung saya masih hidup.

Tantangan hari ini, besok dan lusa PMII adalah budaya zaman. Tapi kalau idealisme PMII selamanya tidak bisa berubah yakni Aswaja, begitu juga soal akidah tidak bisa kompromi dan berubah, sekali NU selamanya tetap NU. Memang zaman sekarang berbeda jauh dengan zaman dulu, dari sisi budaya, karakter dan modelnya.

Untuk itulah, generasai PMII saat ini harus bisa mengalahkan zaman atau paling tidak, jangan sampai kalah dengan budaya zaman saat ini. Boleh kita bicara budaya, boleh kita bergaya modern, boleh kita berdandan barat, boleh kita berpolitik, dan seterusnya. Tapi, jangan sekali-kali idealisme dan idiologi Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) berubah. Karakter NU harus tetap melekat walaupun penampilan bukan NU.

Salam pergerakan! Wallahul muwaffiq ila aqwamith thariq. Wassalam. (*)

KH Nuril Huda, Pendiri dan Deklarator PMII.