Politik

Achmad Fauzi vs Fattah Jasin: Karir & Jejak Kasus Korupsi

Kamis, 29 Oktober 2020 10:30 wib

...
Achmad Fauzi dan Fattah Jasin, dua figur calon bupati Sumenep periode 2021-2026 (santrinews.com/fathor)

Sumenep – Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) serentak 2020 tinggal 42 hari lagi. Ada sebanyak 270 daerah di Indonesia yang akan menyelenggarakan Pilkada pada 9 Desember 2020. Rinciannya, sembilan provinsi, 224 kabupaten dan 37 kota.

Di Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, diikuti dua pasangan calon bupati-wakil bupati yang akan berlaga. Yakni, Achmad Fauzi-Nyai Dewi Khalifah dan Fattah Jasin-Kiai Ali Fikri. Dua pasangan calon dengan ragam latarbelakang yang saling melengkapi.

Baca juga: Pilkada Sumenep 2020, Pengamat: Lebih Potensi Dimenangi Figur Non Kiai

Achmad Fauzi-Dewi Khalifah, pasangan pengusaha dan nahdliyin atau pesantren. Begitu juga Fattah Jasin-Kiai Ali Fikri, pasangan birokrat dan nahdliyin atau pesantren. Alhasil, wakil dari dua calon bupati Sumenep sama-sama berakar dari kultur pesantren dan NU.

Sumenep satu-satunya kabupaten —dari empat kabupaten— di Madura yang bakal melangsungkan Pilkada 2020.

Jejak Karir
Achmad Fauzi dan Fattah Jasin adalah dua putra terbaik Sumenep yang memiliki karir yang cukup cemerlang. Fauzi berlatarbelakang pengusaha sukses. Begitu juga Fattah Jasin. Karirnya sebagai birokrat tercatat cukup gemilang.

Fauzi lahir di Sumenep 21 Mei 1979. Pendidikan dasar hingga menengah atas ia selesaikan di tanah kelahirannya.

Sebelum menjabat wakil bupati Sumenep periode 2015-2020, Fauzi berkarir sebagai pengusaha. Mulai usaha periklanan, percetakan hingga Migas.

Baca juga: Silaturahim dengan Rais Syuriah NU Sumenep, Achmad Fauzi Minta Doa Kiai Sepuh

Fauzi tercatat menduduki berbagai posisi strategis di banyak perusahaan. Diantaranya Direktur Promosi PT Karina Disni Jaya (2008-sekarang), Direktur Umum PT Petrogas Pantai Madura (2011-2013), Direktur Utama PT Djakarta Dua Satu (2003-sekarang), dan Direktur Utama PT Madura Mahasa Investama (2011-sekarang).

Sementara Fattah Jasin lahir di Sumenep, 25 April 1962. Lulus dari SD St. Yosep di Sumenep pada 1975, Fattah pindah ke Malang. SMP dan SMA ia selesaikan di sana.

Fattah lebih 32 tahun berkarir sebagai birokrat. Berbagai posisi strategis di lingkungan Pemprov Jawa Timur pernah dia duduki. Diantaranya Kepala Dinas Koperasi dan UKM, Kepala Badan Perencanaan dan Pembangunan (Bapepda), dan Kepala Biro Perekonomian Pemrov Jatim.

Baca juga: 32 Tahun Bangun Jatim, Fattah Jasin Resmi Daftar Bacabup Sumenep

Sebelum menjabat Kepala Dinas Perhubungan Jatim, Fattah Jasin ditunjuk oleh Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo sebagai Pejabat Bupati Pamekasan pada 2018. Ia adalah cucu dari Bupati Pamekasan periode 1942-1950, Zainal Fattah. Terakhir ia menjabat Kepala Bakorwil Madura.

Sementara wakilnya sama-sama berlatarbelakang pesantren dengan kultur Nahdlatul Ulama yang kuat. Selain menjabat Ketua PC Muslimat NU Sumenep selama tiga periode, Nyai Dewi Khalifah adalah pengasuh Pondok Pesantren Aqidah Usymuni Tarete.

Kiai Ali Fikri adalah putra almarhum KH A Warits Ilyas, cucu KH Muhammad Syarqawi pendiri Pondok Pesantren Annuqayah Guluk-Guluk. Kiai Ali Fikri kini mengemban amanah sebagai pengasuh Annuqayah daerah Lubangsa Raya.

Jejak Kasus Korupsi
Pada Pilkada Sumenep 2020, Achmad Fauzi-Dewi Khalifah diusung koalisi PDIP, PAN, Hanura, Gerindra, PBB, dan PKS. Sedang Fattah Jasin-Kiai Ali Fikri diusung PKB, Demokrat, PPP, Golkar, dan NasDem.

Dua pasangan calon terbaik berprestasi dengan latarbelakang berbeda ini tengah merebut “simpati” masyarakat Sumenep pada 9 Desember 2020. Keduanya punya peluang yang sama memenangi kontestasi politik.

Achmad Fauzi maupun Fattah Jasin juga sama-sama pernah terseret dalam pusaran kasus korupsi.

Baca juga: KPK: 82 Persen Calon Kepala Daerah Dibiayai Sponsor

Fauzi tersandung dalam dugaan korupsi dana Participating Interest (PI) di PT Wira Usaha Sumekar (WUS), salah satu BUMD milik Pemkab Sumenep. Kasus dengan nilai kerugian negara sebesar Rp4.43 Miliar dan USD 203.630 ini ditangani Kejaksaan Jawa Timur pada 2017. Fauzi terseret dalam kapasitasnya sebagai Kepala Kantor Perwakilan PT WUS di Jakarta.

Sementara Fattah Jasin sempat “digarap” oleh KPK dalam kasus suap pengadaan barang dan jasa di Kabupaten Tulungagung yang menjerat mantan Ketua DPRD Tulungagung Supriyono dan eks bupati Syahri Mulyo.

Rumah Fattah di Jalan Nginden Intan Tengah, Surabaya, pernah digeledah enam penyidik KPK pada Rabu malam, 7 Agustus 2019. Sebelumnya, Jumat 2 Agustus 2019, Fattah diperiksa sebagai saksi untuk tersangka Supriyono setelah sebelum sempat mangkir. Fatah diperiksa dalam kapasitasnya saat menjabat kepala Bapedda Jatim 2018.

“Kalau sebagai saksi iya. Semua warga Indonesia harus hadir kalau dimintai keterangan sebagai saksi. Warga negara, siapapun. Saya tak ada ada kaitan (dalam kasus itu),” kata Fattah Jasin saat ditemui usai konsolidasi di kantor DPC Partai Demokrat Sumenep, Kamis, 13 Agustus 2020.

Baca juga: Kejati Tindaklanjuti Laporan PPSDS Jatim

Sama seperti Fattah, Fauzi juga pernah mangkir dari panggilan penyidik. Fauzi mangkir dari panggilan pertama pada Jumat, 3 Nopember 2017. Ia memenuhi panggilan kedua pada Selasa, 7 Nopember 2017. Dengan menaiki mobil Mitsubishi Pajero, Fauzi tiba di Kejati Jatim sekitar pukul 10.00 WIB. Usai menjalani pemeriksaan selama hampir 7 jam, Fauzi keluar sekitar pukul 17.00 WIB.

Begitu juga dalam persidangan di Pengadilan Tipikor Surabaya. Fauzi absen sebagai saksi untuk terdakwa mantan Direktur Utama PT WUS Sumenep Sitrul Arsyih Musa’ie.

Dalam kasus ini, Sitrul dan Divisi Keuangan PT WUS Taufadi sudah divonis bersalah oleh Pengadilan Tipikor Surabaya. Khusus putusan untuk Sitrul dan Taufadi sudah inkracht. Kejaksaan belum mengembangkan lagi perkara itu ke pihak lain yang diduga kuat turut terlibat.

Belum ada keterangan dari Achmad Fauzi ihwal kasus ini. Beberapa kali berupaya wawancarai Fauzi selalu gagal. Memasuki masa kampanye, SantriNews hanya mendapat press rilis agenda dan kegiatan Fauzi.

Itulah dua pasangan calon pemimpin Kabupaten Sumenep periode 2021-2026, dengan rekam jejak karir masing-masing. Siapapun nanti yang diberi mandat, itulah pilihan terbaik bagi masyarakat Sumenep. (jaz/shir)