Politik

Mahasiswa Islam ‘Haram’ Golput

Selasa, 25 Februari 2014 19:37 wib

...
Mantan Ketua KPU Jawa Timur Andry Dewanto Ahmad (kanan berdiri) dalam dialog interaktif Gemasaba Jatim (Abdul Hady JM/Santrinews.com)

Surabaya – Mahasiswa dan pemuda Islam diminta untuk tidak golput pada Pemilu 2014. Sebab, mahasiswa berperan penting mengajak orang lain memilih calon pemimpin yang terbaik.

Ajakan itu disampaikan Mantan Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Jawa Timur Andry Dewanto Ahmad saat berbicara di hadapan ratusan mahasiswa pada acara dialog interaktif tentang pemuda Islam dan golput, di Gedung Remaja Universitas Wijaya Surabaya, Selasa, 25 Februari 2014.

Acara ini digelar oleh Dewan Pimpinan Wilayah Gerakan Mahasiswa Satu Bangsa (Gemasaba) Jawa Timur. Selain Andry, pembicara lain pada kegiatan yang dipandu Amiruddin Alatas ini adalah Sulanam, dosen UIN Sunan Ampel Surabaya.

“Kalau kita tidak suka dengan seseorang (caleg), jangan tidak datang ke TPS, tapi datanglah dan ajak orang lain untuk memilih orang lain yang lebih baik,” kata Andry.

Dia menjelaskan, tren golput dari tahun ke tahun terus naik. Ini bisa dibuktikan dari data pemilih yang terus menurun. Pada pemilu 1999, jumlah pemilih yang menggunakan hak suaranya 93 persen dari total DPT.

Pemilu berikutnya, 2004, jumlah pemilih sekitar 80 persen dari total DPT. Dan pada pemilu 2009 jumlah pemilih 71 persen dari total DPT. Pilgub Jatim 2013 lalu, kata dia, pemilihnya 60 persen dari total jumlah DPT. Sedangkan pada Pilgub Jatim 2009 hanya 54 persen dari total DPT.

“Jika penurunan ini konsisten, pemilu 2014 jumlah pemilih bisa 61 persen saja dari total jumlah DPT,” papar Andry.

Menurutnya, ada tiga faktor kenapa angka golput masih tinggi: alasan politis, teknis dan alasan keyakinan keagamaan. Alasan keyakinan paling sulit dipengaruhi.

Contohnya kelompok muslim garis keras yang menolak demokrasi dan menginginkan tegaknya pemerintahan Islam. Karena bagi mereka pemerintah yang sah sistemnya harus menggunakan sistem khilafah, maka pemilihan caleg dan pimpinan pemerintahan melalui pemilu dianggap tidak sah, bahkan toghut. “Seperti ini ada, karenanya mereka golput sejak awal,” ujar Andry.

Mantan aktivis PMII itu mengingatkan, mahasiswa, pemuda Islam dan pemilih pemula tidak memilih calon legislatif maupun calon presiden karena diberi uang.

“Kalau memilih karena uang, dipastikan masyarakat menderita dalam waktu yang panjang,” ingatnya.

Karena itu, lanjut dia, untuk menggiring masyarakat agar memilih caleg dan pemimpin yang tepat ini adalah tugasnya mahasiswa dan pemuda Islam.

Andre berpesan adalah dosa sosial bagi masyarakat, apalagi mahasiswa bila memilih Golput. Sebab, menurut Andry, golput bukan pilihan tepat.

“Menentukan pilihan itu cara terbaik dalam memberikan sesuatu bagi bangsa,” tandasnya. Caranya, lanjut Andre, adalah mencari sosok terbaik diantara calon yang ada.

“Kita tak perlu koar-koar tapi datang ke TPS dan cabut kekuasaan (calon incumbent yang tak peduli). Itu yang terbaik,” pesannya. (ahay)