Sosok

Hasan Aminuddin: Laku Spiritual dan Jejak Guru Besar Para Politisi

Kamis, 07 Januari 2021 14:30 wib

...
Hasan Aminuddin bersama istri mending Gus Dur, Nyai Hj Sinta Nuriyah, di sebuah acara di Surabaya pada 2013 (santrinews.com/antara)

Hasan Aminuddin menginfakkan hidupnya untuk melakoni suluk mursyid thariqah siyasah nahdliyah.

Pada 7 Januari 1965, 56 tahun lalu, lahir seorang anak dan ditakdir sebagai tokoh besar di Republik Indonesia ini. Namanya, Drs H Hasan Aminuddin, MSi, Wakil Ketua Komisi IV DPR RI dari Fraksi Partai NasDem.

Pindhere Hasan atau Pak Hasan, nama akrabnya, adalah keluarga kepala daerah tersenior di Jawa Timur sekarang. Ia gilang gemilang dalam memimpin daerah, lempeng dan sepi dari skandal korupsi yang menjerat banyak kepala daerah.

Putra KH Aminuddin-Nyai Hj Mahmuda ini Pengasuh Pondok Pesantren Hati Kraksaan Probolinggo. Ia membangun basis politik di atas laku spiritual yang ketat: qiyamul lail, kafilul yatim, shadaqah dan silaturrahmi. Inilah rahasia di balik “tahta Probolinggo” yang menghujam di hati rakyat. Mahkota kekuasaan yang didapat sebagai buah dari tanaman sosial sedari muda sampai sekarang.

Baca juga: Puncak Pencarian Nyai Hj Noer Chalida Badrus di Pesantren dan Kampus

Selepas jam kerja, Pendopo Probolinggo, selain sebagai rumah dinas bupati, juga merupakan padepokan para politisi. Banyak para politisi yang antri bertandang dan berguru kepada Pak Hasan. Khususnya para kader muda NU yang ngangsu kawruh tentang ilmu politik dan pemerintahan. Di antara mereka, sudah menyusul jejaknya sebagai kepala daerah, seperti Abdullah Azwar Anas, Baddrut Tamam, Slamet Junaidi, dan banyak lagi.

Banyak politisi NU yang berhutang budi kepada Pak Hasan. Suami Bupati Probolinggo, Hj Tantri Hasan Aminuddin ini, gemar membina kader muda. Mereka diberikan jalan menuju panggung kekuasaan. Bahkan bukan hanya itu, mereka diorbitkan, dipromosikan, dibina dan dibantu, menjadi pengurus partai, anggota dewan, dan kepala daerah.

Perkenalan Tak Terduga
Alkisah, di awal tahun 2011, saya diperkenalkan oleh Almaghfurllah Drs H Miftahul Ulum MSi kepada Kiai Hasan sebagai nominator Ketua Partai NasDem Jember. Sore itu, di Bandara Juanda Terminal 1, kita bertemu tanpa sengaja. “Ini Eksan, Ra (Hasan). Yang saya ceritakan,” kata Cak Ulum (Miftahul Ulum), Ketua PKB Jember dan Wakil Ketua Komisi A DPRD Jawa Timur.

“O iya. Nanti Rabu ke Pendopo iya, sama teman saya SMA 1, Purwanto namanya,” sambut Pak Hasan sambil terburu-terburu check in dalam sebuah penerbangan Surabaya-Jakarta.

“Siap Bapak!,” jawab saya. Tiba waktunya, saya, Mas Pur Almarhum, Mas Muhid, menghadap kepada Pak Hasan. Waktu itu di pendopo, saya menerima mandat untuk mengomandani Partai NasDem Jember. Inilah pintu masuk berpartai dan berNasDem sampai hari ini.

Mursyid Thariqah Politik Nahdliyah
Pak Hasan adalah guru besar para politisi, yang menginfakkan waktu, tenaga, dan fikiran untuk melakoni suluk mursyid thariqah siyasah nahdliyah. Ketua DPW Partai NasDem DKI Jakarta ini, bukan guru yang jarkoni (pinter ngajar ora ngelakoni), tetapi, perjalanan politiknya menjadi contoh terbaik bagi aktivis yang istiqomah di atas jalan politik kekuasaan dan kebangsaan. Mengapa?

Pertama, semenjak 1992 sampai sekarang, karier politik Kiai Hasan sambung-menyambung. Tak ada waktu jeda satu haul pun, tanpa pengabdian di dunia politik dan pemerintahan. Tercatat pernah menjadi anggota DPRD Kabupaten Probolinggo dari PPP (1992-1998), Ketua DPRD Kabupaten Probolinggo dari PKB (1999-2003), Bupati Probolinggo (2003-2013), Anggota DPR RI dari Partai NasDem (2014-sekarang).

Kedua, dari 38 kabupaten/kota se-Jawa Timur, Pak Hasan adalah keluarga kepala daerah yang tetap berkuasa sampai sekarang. Trah Kiai Fuad Amin Imron Bangkalan dan Sutrisno Kediri, yang memenangi Pilbup lewat DPRD dan pilihan langsung rakyat seperti Pak Hasan, sudah mengalami power discontinue dalam politik dan pemerintahan.

Baca juga: Kemenangan PKB Karena Keramatnya Kiai Sepuh NU

Ketiga, Pak Hasan sampai sekarang secara struktural di PCNU dan Ansor Probolinggo, masih aktif sebagai Musytasyar Syuriah NU dan Ketua Dewan Penasehat GP Ansor. Aktifitasnya di ormas, sejalan dengan posisinya di DPP Partai NasDem sebagai Ketua Bidang Agama dan Masyarakat Adat.

Jadi, Pak Hasan merupakan guru besar para politisi yang kaya ilmu dan pengalaman politik dan pemerintahan. Siapapun pasti sepakat dengan kesimpulan ini. Namun cerita sukses tersebut, tentu mengalami lika-liku dan jalan yang terjal. Berbagai gelombang ujian dan cobaan sudah dilalui dalam sepanjang sejarah hidupnya, tapi tetap istiqomah di jalan politik kekuasaan dan kebangsaan.

Pada road to Pendopo Probolinggo pertama 2003, Pak Hasan pernah berseberangan dengan DPP PKB yang merekom Holili Mugi. Dan ternyata, dari 45 kursi, Pak Hasan mengantongi 27 suara DPRD Kabupaten Probolinggo.

Setia Gus Dur
Kendati demikian, Pak Hasan tetap loyal dan setia kepada Gus Dur. Terbukti, pada saat memimpin DPW PKB Jawa Timur 2007-2009, walau terjadi dualisme kepengurusan antara kubu Gus Dur dan Muhaimin Iskandar, Pak Hasan tetap makmuman lillahi ta’ala kepada Gus Dur, meski beresiko dibekukan dan daftar calon anggota DPRD Propinsi pada Pemilu 2009 ditolak oleh KPU Jawa Timur.

Pak Hasan memaknai semua kejadian tersebut, sebagai pembelajaran politik dan ujian komitmen kesetiaan kepada Sang Guru: Gus Dur. Dalam buku 3600 Hari Mewujudkan Mimpi, ditegaskan bahwa Gus Dur baginya bukan sekadar sosok ulama, tetapi juga pemimpin politik teladan yang harus dijadikan panutan.

Baca juga: Heroisme Demo Para Kiai Jelang Pelengseran Gus Dur

Konflik di internal PKB, jujur, telah mematangkan psikopolitik Pak Hasan. Dari sanalah, pesonanya sebagai seorang politisi membuat Surya Paloh jatuh hati, sehingga diamanahi sebagai Ketua DPW Ormas Nasional Demokrat (2010-2013), pendiri Partai NasDem serta Ketua Bidang Agama dan Masyarakat Adat DPP NasDem (2013-sekarang).

Hari ini, Pak Hasan adalah texbook politik NU dan Indonesia, dimana episode perjalanan hidupnya adalah bab, dan hari demi harinya adalah halaman buku yang berisi bagaimana menang, berkuasa dan bertahan di tengah kontestasi politik yang kian pragmatis dan oligarkhis.

Dengan basis politik yang kuat katanya, mau dari partai apapun, maka ia akan tetap hidup dan berjaya. Selamat ulang tahun ke-56, ya Bapak! Semoga panjang umur, sehat dan sukses selalu. Amien. (*)

Moch Eksan, Pendiri Eksan Institute.