Tokoh

Kiai Afifuddin Muhajir, Pakar Fikih dan Ushul Fikih

Rabu, 20 Mei 2020 11:30 wib

...
Penulis bersama KH Afifuddin Muhajir (santrinews.com/istimewa)

Hari ini guru saya, Kiai Afifuddin Muhajir (Situbondo Jawa Timur) berulang tahun ke 65. Semoga beliau selalu sehat dan terus menebarkan ilmu-ilmu yang bermanfaat buat umat dan bangsa.

Dalam hidup saya, Kiai Afif adalah istimewa. Di samping ayah dan kakek saya, Kiai Afif adalah guru yang terlibat dalam formasi pembentukan intelektualitas saya sejak awal. Beliau praktis tanpa jeda terus membersamai saya secara keilmuan dari dulu hingga sekarang.

Saya mengaji kepada beliau dari kitab paling dasar seperti Jurumiyah hingga kitab-kitab cukup tebal seperti al-Iqna’ dan Fathul Wahhab. Saya juga mengaji kitab Fathul Mu’in yang dikenal rumit itu kepada Kiai Afif.

Tak hanya kitab fikih, saya juga mengaji kitab ushul fikih pada Kiai Afif, dari kitab ushul fikih klasik seperti Lubbul Ushul dan Jam’ul Jawami hingga ushul fikih modern seperti kitab Ilmu Ushul al-Fiqh karya Syaikh Abdul Wahhab Khallaf.

Itu fase ketika saya masih belajar di Pondok Pesantren Salafiyah-Syafi’iyah, Sukorejo, Situbondo. Ketika berada di luar pesantren, hubungan saya dengan beliau terus berlanjut. Bahkan, kian intim karena kami sering satu komisi dalam forum Bahtsul Masail untuk memproduksi fatwa keagamaan di NU.

Di forum-forum bahtsul masail NU baik di Munas-Muktamar maupun bahtsul masail lainnya, Kiai Afif adalah salah satu perumus bahtsul masail yang sanggup menengahi jika terjadi silang sengkarut antara satu kiai dan kiai lain. Ini karena beliau menguasai fikih dan ushul fikih secara sekaligus.

Tak banyak ulama yang menguasai dua bidang itu secara bersamaan. Jika yang satu alim di bidang fikih, maka biasanya agak kedodoran di bidang ushul fikih. Begitu juga sebaliknya, jika seseorang alim di bidang ushul fikih, maka kerap bermasalah di bidang fikih.

Sebenarnya Kiai Afif tak hanya alim di dua bidang itu. Sebab, Kiai Afif juga memiliki perhatian cukup besar pada bidang bahasa, bukan hanya nahwu sharaf tapi juga ilmu Balaghah —Bayan, Badi’ dan Ma’ani.

Karena itu wajar kalau beliau juga mengagumkan menyangkut ketelitian beliau dalam membaca kitab sesuai gramatika bahasa Arab dan kepiawaiannya dalam memaknai turats klasik secara memikat.

Sekali lagi, selamat ultah, Kiai. Sehat terus dan maaf jika santrinya ini masih seperti dulu, sering bertanya tentang hal-ihwal yang belum dipahami. (*)

Rabu, 20 Mei 2020
Salam

H Abdul Moqsith Ghazali, Alumni Pondok Pesantren Salafiyah-Syafi’iyah, Sukorejo, Situbondo. Kini dosen di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan Wakil Ketua LBM PBNU.