Turats

Khataman Burdah: Masa Lalu Penyair dan Amplop Imam Bushiri

Senin, 26 April 2021 12:30 wib

...

Senin, 26 April 2021, hari ini, Ngaji Burdah yang diasuh Gus Mus (semua rekaman ngaji, ada di Gus Mus Channel di Youtube) sudah rampung. Dan tiba-tiba, saya seperti diserang rasa melankoli — rasa sakit karena menyadari ada sesuatu yang hilang.

Selama puasa ini, saya menganggap ngaji Burdah ini sebagai bagian dari ritual pagi. Setelah khatam, saya merasa ada yang “bolong,” hilang, kurang.

Selama hampir setengah bulan, ngaji Burdah juga telah menolong saya terhindar dari “godaan bulan puasa yang lezat sekali” — tidur setelah Subuh. Saya tak tahu, apakah setelah ini, saya masih bisa bertahan terhadap godaan ini atau tidak.

Di ujung Burdah, ada bait yang amat menakjubkan saya, dan di-syarahi oleh Gus Mus dengan keren juga. Bunyi bait itu:

Khadamtuhu bi-madihin astaqilu bihi #
Dzunuba ‘umrin madla fi al-syi’ri wal-khadami

Dalam bait ini, al-Bushiri (pengarang Burdah) bercerita secara tak langsung tentang masa lalu-nya yang “gelap” sebagai seorang penyair. Dulu, kata beliau, dia menghabiskan masa muda dengan menulis puisi-puisi yang ditujukan untuk memuji orang-orang yang berduit, untuk mendapatkan, istilah Gus Mus, “persenan,” alias amplop.

Gus Mus memberikan “syarah” yang menarik: Setiap penyair biasanya punya masa lalu seperti Imam Bushiri ini; menulis puisi sebagai profesi, untuk memuji penguasa, misalnya. Kadang memujinya kebablasan; sampai “watuk,” batuknya penguasa saja dipuji. “Batuk njenengan kok merdu sekali!”

Al-Bushiri menulis kasidah Burdah ini, antara lain, untuk “menebus” masa lalu yang gelap tersebut. Ia kemudian menulis:

In aati dzanban fa-ma ‘ahdi bi-muntaqidlin # Minan-Nabiyyi wa-la habl bi-munsharimi.

Pada masa-masa ketika aku “tersesat” dahulu, karena menulis syair sekedar untuk mencari “persenan” yang bersifat duniawi, tali-cintaku pada Nabi sebetulnya tidak pernah putus. Dengan kata lain: al-Bushiri hanya sedang “lengah” sesaat saja, lalu balik lagi. Burdah lahir untuk menandai “masa balik”-nya Imam Bushiri ini.

Dan jadilah Burdah ini sebagai nyanyian madah dan pujian pada Nabi yang amat indah. Dalam beberapa bagian, Gus Mus menegaskan, ada bait al-Bushiri yang jauh lebih indah dari bait Abu Nuwas dan Umar Khayyam. (*)