Solusi DPRD Jatim Sikapi Kasus Siswa Tantang Guru

Anggota Komisi E DPRD Jatim, Moch Eksan (santrinews.com/ist)

Surabaya – Dunia Pendidikan di Jawa Timur kembali dihebohkan dengan peristiwa yang sempat viral di media sosial, dimana seorang siswa SMP PGRI Wringinanom Gresik, memperlakukan gurunya dengan tidak hormat.

Dalam video berdurasi 54 detik itu, sang murid tiba-tiba memegang kepala gurunya. Kemudian mendorong si guru dan mencengkram kerah bajunya seakan-akan hendak memukul si guru sambil memaki.

Sang guru, yang diketahui bernama Nur Kalim (30) itu, hanya diam membisu melihat tingkah laku anak didiknya tersebut. Sedangkan si murid meneruskan aksi kurang ajarnya dengan merokok di dalam kelas.

Meski kasus ini akhirnya berujung damai dan si murid meminta maaf, tapi peristiwa ini mendapat sorotan dari anggota Komisi E DPRD Jatim, Moch Eksan. “Tentu saya sangat prihatin atas peristiwa tersebut,” tukas Eksan saat dikonfirmasi di Surabaya, Selasa, 12 Februari 2019.

Baca: Moch Eksan: Mahasiswa Ruh Perubahan Bangsa Indonesia

Politisi asal Partai NasDem ini menuturkan, bila kasus tersebut adalah bagian dari sekian kasus yang terjadi di Jawa Timur dan tidak boleh hanya dibaca secara parsial tetapi juga harus dibaca secara fundamental. “ Ini menunjukkan betapa moral siswa hari ini mulai sangat membahayakan bagi proses pendidikan itu sendiri,” kata Eksan.

Untuk itu, lanjut Eksan, kedepan harus ada ikhitiar yang sungguh-sungguh dari semua komponen masyarakat agar pendidikan kita kembali menjadi chandradimuka untuk kepentingan pembentukan karakter yang baik. “Sehingga seorang siswa menghormati guru, dan guru menyanyangi siswanya,” tandas Wakil Sekretaris PC NU Jember ini.

Eksan menambahkan, pola hubungan yang sangat humanistik seperti itu yang diharapkan dalam dunia pendidikan. Sehingga mampu melahirkan generasi yang baik dan bermanfaat untuk kepentingan bangsa dan negara. “Tanpa itu maka dunia pendidikan kita hanya sekedar melakukan proses belajarnya berdasarkan hubungan yang kontraktual,” beber Eksan.

Baca juga: Moch Eksan: Muara Pendidikan Tinggi Terlibat Aktif Majukan Masyarakat

Padahal, menurut mantan Komisioner KPUD Jember ini, siswa dan guru bukan hanya diikat oleh perjanjian semata-mata, tetapi lebih dari itu adalah hubungan rohani antara seorang siswa dengan guru.

Dalam berbagai kitab-kitab klasik, urai Eksan, menghormati ilmu itu dengan cara menghormati guru. Wa min ta’dimil ilmi ta’limil ustadz, artinya menghormati ilmu itu adalah dengan cara menghormati guru, menghormati guru bagian dari menghormati ilmu.

“Bagaimana kita dapat ilmu yang baik, ilmu yang bermanfaat, ilmu yang barokah, tanpa kita menghormati guru itu hal yang mustahil,” tandasnya.

Padahal, kata Eksan, yang diharapkan dari seorang guru bukan hanya sekedar ilmunya, tetapi suri tauladannya, bukan hanya suri tauladannya tetapi bimbingan rohaninya, bukan hanya bimbingan rohaninya tetapi doa-doanya yang dipanjatkan oleh seorang guru, ketika seorang guru bermunajat keharibaan Allah SWT. Sehingga, menurut Eksan, ia memohonkan para muridnya menjadi Min ahlil ilmi wa ahlittuqo, yaitu menjadi golongan orang yang berilmu dan yang bertaqwa keharibaan Allah SWT.

Baca juga: Santri Jadi Pelopor Penguatan Pendidikan Karakter

Di tengah-tengah menjelang pelantikan Gubernur Jatim yang baru kasus ini, ungkap Eksan, menjadi warning bagi pemerintah Jatim, bagaimana dengan sungguh-sungguh mencarikan solusi agar peningkatan kualitas moral ini dilakukan sungguh-sungguh di Jatim. Karena Jatim merupakan sebuah Provinsi yang agamis.

“Dimana NU lahir, Pesantren terbesar ada di Jatim, dan banyak sekali kaum santri yang bersebaran diseluruh pelosok Jatim menjadi sendi bagi kehidupan masyarakat Jatim sebagai bagian dari Republik Indonesia ini,” jelas mantan aktifis IPNU ini

Oleh karena itu, Pemerintah di bawah Gubernur baru Khofifah Indar Parawansa dan Emil Dardak, diharapkan dapat menemukan formula yang terbaik bagi peningkatan kualitas akhlak dan moral siswa kita ke depan, sehingga anak Jatim berbeda dengan anak-anak di luar Provinsi Jatim.

“Yaitu karakter agamisnya dicerminkan oleh pola hubungan yang baik antara siswa dan guru yang didasarkan oleh ketulusan hubungan yang produktif untuk kepentingan pendidikan itu sendiri sekaligus juga untuk pembangunan bangsa,” pungkasnya. (rus/onk)

Terkait

Daerah Lainnya

SantriNews Network