Seberapa Besar Kekuasaan Yang Harus Dimiliki Seorang Pemimpin?
Oleh: Fauzi Efendi
JELAS bahwa pemimpin membutuhkan kekuasaan agar dapat efektif, akan tetapi tidak berarti bahwa memiliki kekuasaan yang besar selalu berarti lebih baik. Besarnya kekuasaan keseluruhan yang sangat penting untuk kepemimpinan yang efektif dan campuran dari berbagai tipe kekuasaan menjadi pertanyaan yang mulai terjawab oleh sebagian para peneliti.
Jelas bahwa besarnya kekuasaan yang diperlukan tergantung pada apa yang dibutuhkan dalam menyelesaikan berbagai pekerjaan dan keterampilan seorang pemimpin dalam menggunakan kekuasaan yang tersedia. Kekuasaan yang tidak telalu besar dibutuhkan oleh pemimpin yang mempunyai keterampilan menggunakan kekuasaan secara efektif dan yang mengetahui pentingnya berkonsentrasi pada tujuan yang paling penting.
Bauer (1968, hlm. 17) memaparkan tentang tata cara yang bijaksana dalam menggunakan kekuasaan secara selektif dan hati-hati.
Dalam berbagai institusi, kemampuan untuk menyelesaikan sesuatu yang penting adalah bergantung pada sejauh mana bisa mempertahankan saluran kebaikan. Orang yang memperjuangkan setiap masalah, seakan-akan masalah itu adalah vital akan menghabiskan sumber dayanya, termasuk di dalamnya adalah kesabaran dan kebaikan dari mereka yang menjadi gantungannya untuk menyelesaikan pekerjaan itu sendiri.
Untuk itu, ini tidak boleh hanya dianggap sebagai satu hal yang mengejutkan atau bahkan tidak bermoral. Sehingga, saat masalah tidak lagi menonjol, maka orang yang bijakasanaa dapat menggunakannya untuk kemudian membangun kebaikan di masa yang akan datang, atau sedekar untuk melunasi kewajiban masa lalu, bersama-sama dengan orang yang bagi mereka hal itu merupakan masalah yang amat sangat menonjol.
Beberapa situasi suatu kepemimpinan membutuhkan lebih banyak kekuasaan daripada dalam situasi lainnya agar seorang pemimpin dapat lebih efektif. Dalam hal ini akan lebih banyak pengaruh yang dibutuhkan dalam organisasi yang sedang melakukan perubahan besar, sementara di sisi lain ada beberapa pihak yang menentang proposal perubahan yang diajukan oleh pemimpin tersebut.
Amat sulit bagi seorang pemimpin yang mngetahui bahwa organisasinya akan menghadapi krisis di masa yang akan datang, krisis yang hanya dapat dilampaui jika persiapannya dilakukan jauh sejak awal, tetapi bukti-bukti akan terjadinya krisis belumlah cukup untuk dapat membujuk para anggota untuk dapat melakukan tindakan sesegera mungkin.
Situasi yang sama adalah kasus di mana pemimpin berkeinginan untuk mambuat perubahan yang membutuhkan pengorbanan jangka pendek dan diimplementasikan dalam jangka waktu yang sangat lama sebelum keuntungan belum sepenuhnya bisa diraih, sementara di satu sisi banyak tantangan dari pihak-pihak yang memiliki perspektif jangka pendek.
Dalam situasi sulit sperti ini, pemimpin membutuhkan kekuasaan berdasarkan keahlian dan referensi yang memadai untuk meyakinkan anggotanya bahwa perubahan tersebut diperlukan dan amat diinginkan, atau kekuasaan politik dan kekuasaan posisi yang kuat untuk menyadarkan mereka orang-orang yang menentang dan berusaha untuk menunjukkan bahwa proposal perubahan yang diajukan tersebut memang diperlukan dan akan efektif.
Ketahuilah bahwa, kombinasi kekuasaan personal dan posisi meningkatkan kemungkinan untuk berhasil, akan tetapi memaksakan perubahan adalah selalu beresiko. Wallahu A’lam. (*)
Fauzi Efendi, Penggiat Forum Komunikasi Mahasiswa Santri Banyuanyar (FKMSB), Mahasiswa UIN Ar-Raniry Banda Aceh.