Madrasah Aman

Dikembangkan Madrasah Aman Bencana

“Diperlukan juga kebijakan sekolah yang mendukung keberlanjutan penerapan sekolah/madrasah aman dari bencana. Sejauh ini, respons dari sekolah cukup baik menyambut gerakan sekolah/madrasah aman.” Yanti Sriyulianti, Ketua Sekretariat Nasional Sekolah Aman Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Jakarta – Gerakan sekolah/madrasah aman dari bencana terus dikembangkan di seluruh Indonesia. Terwujudnya sekolah/madrasah aman ini bagian dari pengurangan resiko bencana, terutama untuk sekolah-sekolah di daerah rawan bencana.

Yanti Sriyulianti, Ketua Sekretariat Nasional Sekolah Aman, di Jakarta, Kamis, 11 April 2013, mengatakan, dari program rehabilitasi sekolah yang dilaksanakan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud), setidaknya ada 640 sekolah yg dibuktikan aman untuk kategori satu. Padahal, sekitar 75 persen sekolah berada di daerah kategori rawan bencana, mulai dari tingkat rendah hingga tinggi.

Gerakan sekolah/madrasah aman juga dilakukan berbagai mitra, salah satunya perkumpulan Keluarga Pendidikan (KerLiP).

Zamzam Muzakky dari Divisi Penelitian dan Pengembangan KerLiP, mengatakan, KeRLiP menjangkau 232 sekolah/madrasah di berbagai daerah. Selain itu juga dikembangkan pemilihan siswa sebagai duta sekolah/madrasah aman.

Menurut Yanti seperti dilansir Kompas, buku pedoman penerapan sekolah/madrasah aman dari bencana sudah ada. Badan Nasional Penanggulangan Bencana bersama Kemdikbud dan Kementerian Agama, serta instansi lain, mengupayakan partisipasi berbagai mitra untuk mendorong pengurangan resiko bencana.

Sekolah/madrasah aman harus dapat memenuhi kriteria secara struktural dan nonstruktural. Lokasi sekolah/madrasah semestinya aman dari bencana. Selain itu, struktur bangunan memenuhi standar nasional indonesia tentang bangunan tahan gempa. Desain dan tata letak kelas memungkin upaya penyelamatan diri yang cepat.

Adapun untuk nonstruktural, sekolah/madrasah aman mesti memenuhi parameter seperti pengetahuan, sikap, dan tindakan, mobilisasi sumber daya, kebijakan sekolah dan perencanaan kesiapsiagaan. Indikator dari nonstruktural ini sederhananya ada jalur evakuasi yg dikenali oleh warga sekolah. Ada rencana evakuasi terintegrasi dan rencana kontingensi, serta komunitas siaga bencana.

“Diperlukan juga kebijakan sekolah yang mendukung keberlanjutan penerapan sekolah/madrasah aman dari bencana. Sejauh ini, respons dari sekolah cukup baik menyambut gerakan sekolah/madrasah aman,” kata Yanti.

Di sekolah-sekolah juga akan digerakkan simulasi evakuasi bencana. Bertepatan dengan Pengurangan Resiko Bencana sedunia akan diluncurkan gerakan Youth Evacuation Simulation (YES) di seluruh sekolah/madrasah. (saif/ahay)

Terkait

Nasional Lainnya

SantriNews Network