Kader Muda Madura Tolak Munas NU

Wakil Presiden Jusuf Kalla didampingi Rais Aam PBNU KH A Mustofa Bisri, dan Ketua Umum PBNU Said Aqil Siradj, saat pembukaan Munas-Kombes NU, di Kantor PBNU, Jakarta, Sabtu, 1 Nopember 2014 (santrinews.com/rmol)

Sumenep – Kaum Muda Nahdliyin (Kauman) Madura Raya menolak pelaksanaan Musyawarah Nasional Nahdlatul Ulama (Munas NU) yang akan digelar PBNU di Jakarta pada 14-15 Juni 2015 mendatang. Pasalnya, Munas itu lebih kental nuansa politisnya dibanding fokus membahas persoalan keumatan.

“Indikasinya bisa dilihat dari agenda Munas yang hendak memaksakan pemberlakukan sistem pemilihan Rais Amm dengan musyawarah mufakat atau Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA),” kata Koordinator Kauman Madura Raya, Rusman Hadi, dalam keterangan tertulisnya, Rabu, 10 Juni 2015.

Sikap penolakan itu, sambung Rusman, setelah dirinya bersama puluhan kader muda NU se Madura melakukan konsolidasi, di sebuah rumah makan di Sumenep. Hasilnya, menyepakati mengeluarkan sikap bersama menolak pelaksanaan Munas NU. “Kami sepakat menolak pelaksanaan Munas NU,” tegasnya.

Penolakan itu, menurut Rusman, karena Munas hendak memaksakan sistem AHWA dalam pemilihan Rais Amm pada Muktamar ke-33 NU di Jombang awal Agustus mendatang. Padahal, lanjut Rusman, sejumlah pengurus NU tingkat wilayah dan cabang sebenarnya telah menolak pemberlakukan sistem AHWA.

Rusman berharap, Munas NU yang ketiga kalinya ini, jangan dijadikan momentum untuk memaksakan sistem AHWA. Dia meminta, PBNU tidak abai terhadap aspirasi pengurus NU di tingkat bawah.

“Itulah sebabnya, kami kader muda NU di daerah menolak pelaksanaan Munas,” Rusman menjelaskan.

Mantan ketua umum PC PMII Sumenep ini mengaku prihatin atas kondisi kepengurusan PBNU saat ini. Sebab, NU seolah hanya milik segelintir elit pengurus NU tingkat pusat.

“Bukti kalau PBNU sekarang sudah tidak aspiratif ini adalah dengan memaksakan sistem AHWA. Ingat NU ini bukan hanya milik pengurus pusat tapi juga pengurus wilayah dan cabang serta warga NU di bawah,” tegasnya.

Rapat pleno PBNU beberapa waktu lalu memutuskan akan menggelar Munas NU setelah menyaksikan mayoritas PWNU seluruh Indonesia menolak AHWA. Agenda utama Munas NU pertengahan Juni nanti adalah sosialisasi sistem AHWA.

Sebelumnya, Katib Am Syuriah PBNU KH Malik Madani mengakui bahwa Munas NU kali ini digelar setelah sosialisasi AHWA gagal dan mendapat penolakan. “Makanya PBNU akan mengadakan Munas lagi untuk ketiga kalinya,” kata KH Malik Madani.

Dalam tiga acara Pra Muktamar NU yang digelar di Lombok Nusa Tenggara Barat (NTB), Makassar Sulawesi Selatan (Sulsel), dan Medan Sumatera Utara (Sumut), para PWNU dan PCNU yang hadir menolak AHWA.

Bukan hanya menolak AHWA secara lisan, beberapa PWNU dan PCNU yang hadir juga telah menyiapkan surat penolakan berkop resmi PWNU dan PCNU lengkap dengan tanda tangan dan stempelnya. (ali/onk)

Terkait

Nasional Lainnya

SantriNews Network