Menag Ajak Santri Penuhi Konten Internet dengan Ajaran Kiai

Lirboyo – Menteri Agama H Lukman Hakim Saifuddin mengajak masyarakat pesantren untuk memenuhi konten-konten internet dengan nilai-nilai baik yang diajarkan oleh para kyai pesantren. Ia juga berharap masyarakat pesantren dapat melakukan inovasi strategi dakwah Islamiyah yang ramah di bumi nusantara.

Menurutnya, dakwah ke depan tidak hanya dilakukan secara konvensional, tapi juga sudah harus memanfaatkan perangkat teknologi.

“Saya berharap alumni pesantren jangan gagap teknologi. Umat yang mesti dilayani bukan cuma berada di masjid, tapi juga di dunia maya, internet, seperti facebook, twitter, dan lainnya,” harap Menag saat memberikan sambutan pada Penutupan Musyawarah Nasional III Himpunan Alumni Santri Lirboyo (Himasal) dan Rakernas Lembaga Ittihadul Muballighin (LIM) di Aula Muktamar, Pesantren Lirboyo, Kediri, Senin malam, 25 Mei 2015.

“Penuhilah konten-konten di internet dengan hal-hal baik yang diajarkan para kyai pesantren. Hapus dahaga para pencari ilmu dan wacana keislaman dengan konten yang bermutu dan ajaran yang benar,” tuturnya sembari mengingatkan agar para pencari referensi tidak mendapatkan asupan konten yang bertentangan dengan Islam rahmatan lil alamin.

Selain itu, seperti dilansir Antara, Menag juga berharap para alumni pesantren mampu meneruskan semangat transformasi KH Hasyim Asysari dan para sesepuh pesantren. Upaya transformasi, menurut Menag sangat diperlukan dalam menghadapi era Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA).

“Kita harus siap beradaptasi dengan tren pertumbuhan ekonomi. Industiaslisasi dan modernisasi semakin menggeliat dan kita tidak boleh diam,” katanya sebagaimana dikutip kemenag.go.id.

Selain membentengi masyarakat dari dampak buruk industriaslisasi dan modernisasi, Menag berharap pesantren juga dapat menyuplai kebutuhan SDM seiring pertumbuhan ekonomi. “Pesantren diharapkan tak cuma menghasilkan ahli doa dan ahli kitab kuning, tapi juga ilmuwan, pengusaha, dan tenaga teknis yang salih dan berintegritas,” harap Menag.

Meski demikian, Menag menggarisbawahi bahwa proses modernisasi lembaga pesantren tidak boleh melunturkan karakter dan jati diri peantren itu sendiri sebagai lembaga tafaqquh fiddin dan lembaga pembentuk karakter bangsa.

“Transformasi pesantren senantiasa memelihara dan mempertahankan karakter pesantren sesuai jargon almuhafadhatu “╦ťala al-qadim al-shalih wa al akhdzu bi al jaded al ashlah,” tandasnya. (saif/ahay)

Terkait

Nasional Lainnya

SantriNews Network