Daerah

Cegah Kekerasan Seksual Anak, Wabup Jombang Blusukan Sambil Berdongeng

Kamis, 19 Februari 2015 03:02 wib

...
Wakil Bupati Jombang, Nyai Hj Mundjidah Wahab, berdongeng di hadapan siswa-siswi (santrinews.com/saif)

Jombang – Wakil Bupati Jombang, Nyai Hj Mundjidah Wahab merasa prihatin dengan tingginya angka kasus kekerasan seksual terhadap anak di Jombang. Dia pun blusukan ke sejumlah sekolah dasar (SD) dan taman kanak-kanak (TK)), terutama di daerah pinggiran.

Di sekolah tersebut, Hj Mundjidah mensosialisasikan bahaya kekerasan seksual terhadap anak, serta cara menanggulanginya. Menariknya, pesan tersebut disampaikan dengan metode telling story atau mendongeng.

Misalnya, saat Hj Mundjidah mengunjungi Raudhotul Athfal (RA/setingkat TK) Muslimat NU, Dusun Nanggalan, Desa Watugaluh, Kecamatan Diwek, Jombang, Rabu, 18 Februari 2015.

Puluhan anak di sekolah tersebut seakan terhipnotis. Mereka mengikuti dongeng yang disampaikan mantan Ketua PC Muslimat NU Jombang itu dengan seksama.

Dengan mendongeng, Nyai Mundjidah menjelaskan, terdapat empat bagian tubuh yang harus dilindungi. Yaitu mulut, dada, kemaluan, serta pantat.

“Makanya jangan ada yang boleh memegang empat bagian tubuh itu, selain ibu dan bapak kandung,” ujar Mundjidah sembari memperlihatkan gambar di layar lebar.

Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muslimat NU Jatim ini lantas membeberkan cara melindungi empat bagian tubuh itu. Yakni, jika ada orang memegangnya, maka bocah-bocah itu diminta berteriak minta tolong.

“Atau kalau di tempat sepi, adik-adik harus berlari jika ada orang yang akan memegang salah satu dari empat bagian tubuh tersebut. Karena empat bagian tubuh itu harus kita lindungi,” tuturnya.

Nyai Mundjidah menjelaskan, acara blusukan sengaja ia lakukan, mengingat tingginya angka kekerasan seksual terhadap anak.

Berdasarkan data di Badan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana (BPPKB) pada tahun 2014 terdapat 117 kasus kekerasan di Jombang. Dari jumlah tersebut, 70 persennya menimpa anak-anak. Sedangkan pelakunya 90 persen adalah orang yang sudah dikenali korban.

Untuk menekan angka itu, lanjut Wabup, selain mensosialisasikan kepada anak, peran orang tua dan guru juga sangat penting.

“Orang tua dan guru bisa memberikan penjelaskan kepada anak. Jangan biarkan orang lain menyentuh tubuh mereka, kecuali saat diperiksa dokter saat sakit dengan ditemani orang tua,” pungkasnya.

Klara (5), salah satu siswa RA Muslimat mengaku senang sekolahnya mendapat kunjungan Wabup Mundjidah. “Kami bisa berjabat tangan dengan Bu Wabup,” kata Klara, dengan wajah sumringah. (saif/ahay)