Fikrah

NU dan Benteng Moral-Spiritual IKN Nusantara

Senin, 31 Januari 2022 08:30 wib

...
Munas NU di Pesantren Sukorejo, Situbondo, 1983 (santrinews.com/istimewa)

Langkah PBNU ini mematahkan tudingan bahwa IKN Nusantara adalah rencana komunis menguasai Indonesia.

Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Yahya Cholil Staquf telah mencanangkan pembangunan gedung baru PBNU di Kecamatan Sepaku, Kabupaten Penajam Paser Utara, tempat Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara berdiri.

Ini artinya NU merupakan organisasi pertama yang menyiapkan diri untuk menyambut kelahiran ibukota negara baru tersebut. Organisasi kelahiran 31 Januari 1926 ini memilih untuk tak melibatkan diri dalam pro-kontra tentang IKN. Sebab suka atau tidak, Indonesia telah memilih wilayah dua kabupaten, Kutai Kertanegara dan Penajam Paser Utara, menjadi wilayah ibukota.

Gus Yahya menyampaikan, disamping Kantor PBNU, juga akan mendirikan pesantren, perguruan tinggi dan rumah sakit NU. Keputusan penting dan strategis PBNU pasca hasil Muktamar ke-34 NU di Lampung pada 2021, telah memprakarsai penerimaan IKN seraya menyiapkan diri pindah markas pusat dari Jakarta ke Propinsi Kalimantan Timur.

Prakarsa NU ini mengulang kembali kepeloporan NU menerima asas tunggal Pancasila. NU yang menjelang satu abad memberi contoh cara merespon dengan cerdas keputusan politik yang telah diambil oleh pemerintah dan Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI).

NU mengambil bagian untuk menyukseskan berdirinya ibukota baru. Sebuah keputusan yang progresif daripada sikap konservatif dan pro status quo beberapa pihak untuk mempertahankan Jakarta sebagai Daerah Khusus Ibukota (DKI).

Di tengah maraknya penolakan IKN Nusantara dari para tokoh kritis, seperti Rizal Ramli, Din Syamsuddin, Faisal Basri dan yang lain-lain, NU justru menyusun rencana aksi membuat benteng moral dan spiritual terhadap IKN tersebut.

Upaya NU sekaligus mematahkan tudingan miring bahwa IKN merupakan rencana komunis menguasai Indonesia dan menjadi IKN Nusantara sebagai tempat pemukiman penduduk China.

Alfian Tandjung seorang tokoh yang getol mengkampanyekan ancaman riil Partai Komunis Indonesia (PKI) terhadap kelangsungan dan keberlanjutan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Mantan narapidana kasus ujaran kebencian ini menuding pemindahan ibukota sebagai program PKI dan wilayah IKN Nusantara akan dijual pada China.

Narasi Chinaphobia tersebut, bagian dari propaganda melawan hegemoni Negeri Tirai Bambu dalam menguasai ekonomi dunia. Di balik narasi tersebut, pasti ada kekuatan besar yang sedang berebut pengaruh terhadap rezim pemerintah yang berkuasa. Selain, ada unsur psikologis berupa iri, dengki dan benci terhadap anak keturunan Tionghoa di Indonesia.

NU sedari Gus Dur sampai dengan Gus Yahya telah terbukti merupakan pelindung bagi kaum minoritas yang rentan menjadi korban kekerasan politik. Kendati, sikap NU ini menentang arus besar umat Islam lain. Organisasi yang dibidani oleh Hadratus Syeikh KH Hasyim Asy’ari memilih misi Islam rahmatan lil alamin.

Memang, PKI telah dua kali berkhianat terhadap bangsa dan negara. Banyak kiai dan santri yang menjadi korban kekejaman partai pimpinan Musso Manowwar dan DN Aidit. Tetapi, NU memilih untuk berdamai dengan masa lalu demi masa depan Indonesia. BJ Habibie mengatakan: “Masa lalu saya adalah milik saya, masa lalu kamu adalah milik kamu, tapi masa depan adalah milik kita.”

IKN Nusantara merupakan masa depan kita, masa depan Indonesia. Barangtentu, NU ingin menjadi bagian dari penting masa depan tersebut. Pembangunan gedung PBNU menggambarkan pemikiran kaum nahdliyyin yang futuristik, dan tak terjebak dengan romantisme sejarah masa lalu.

Sesungguhnya, mereka yang kontra IKN Nusantara rerata berada dalam zona nyaman di wilayah DKI Jakarta. Bila pindah, mereka dihantui rasa ketakutan yang mendalam terdepak dari wilayah aman yang penuh dengan fasilitas hidup yang melimpah. Secara sosiologis, mereka adalah kelompok status quo yang telah menikmati kondisi yang sudah ada.

Sangat jelas dari paparan di atas, ternyata NU adalah kelompok reformis yang berada di jalan perubahan bangsa menuju perbaikan dan kebaikan bersama. Muhammad Iqbal, cendekiawan muslim Pakistan mengingatkan, tak ada yang abadi di dunia kecuali perubahan itu sendiri. Selamat ulang tahun NU ke-96. Semoga warga NU di seluruh pelosok Nusantara, panjang umur, sehat dan sukses selalu. Amien! (*)

Moch Eksan, Pendiri Eksan Institute