Nasional

Santri Nusantara Sesalkan Kiai Penolak AHWA

Senin, 03 Agustus 2015 14:38 wib

...

Jombang – Pelaksanaan Muktamar ke-33 NU semakin memanas. Perdebatan konsep pemilihan Rais “˜Aam dalam Muktamar NU ke-33 di Jombang tak sesuai jadwal acara muktamar. Hal tersebut terlihat sejak ditundanya pleno pasca pembukaan yang dihadiri oleh Presiden Jokowi.

Bahkan dikabarkan nyaris ada bentrok fisik yang terjadi di forum muktamar, belum diketahui apa penyebab pastinya.

Ketua Santri NUsantara, Deni Mahmud Fauzi menilai bahwa pro-kontra sistem baru dalam pemilihan Rais Aam (Syuriyah) PBNU yang dikenal dengan Ahlul Halli Wal Aqdi (Ahwa) menjadi alasan memanasnya agenda Muktamar.

Perdebatan yang terjadi di forum muktamar, menurut Deni, adalah dinamika yang biasa. Namun, Deni menyayangkan sikap para kiai yang menolak sistem AHWA. “Ternyata terbukti bahwa yang menolak AHWA adalah orang yang ingin meruntuhkan dan merusak NU, buktinya mereka berani menentang para kyai, Astaghfirullah,” kata Deni, dalam keterangan tertulisnya yang diterima SantriNews.com, Siang, 2 Agutus 2015.

Ketua umum PBNU KH Prof Dr Said Aqil Siroj dalam sambutan pembukaan menyatakan mendukung penuh sistem pemilihan Rais “˜Aam dengan model AHWA. Sebab kalau pilihan langsung, dikesankan mengadu kekuatan antar kiai, dan karena itu dicarikan jalan musyawarah yang lebih tepat seperti Ahlul Halli Wal Aqdi. Selain itu, sistim pemilihan langsung ditakutkan akan melahirkan kubu-kubuan, kampanye hitam (black campaign), dan saling menjatuhkan,” kata Kiai Said.

Karena itu, menurut Deni, warga Nahdliyin akan terus beranggapan bahwa suksesi pimpinan tertinggi di NU sama saja dengan partai politik. “Tergantung mana yang kuat uangnya, dan kita bisa lihat pada muktamar kali ini.

“Selain itu Ahwa memang sangat kontekstual jika melihat kondisi dan situasi politik kebangsaan hari ini. Tidak hanya itu, konsepsi Ahwa sebenarnya sudah menjadi tradisi bangsa ini yakni musyawarah untuk mufakat, jadi tidak ada yang perlu dipermasalahkan. Kami malah khawatir jika NU tetap saja menggunakan pemilihan langsung, maka banyak kepentingan politik yang akan menunggangi,” sambungnya.

Deni lalu menyebut catatan sejarah, bahwa NU pernah menggunakan model Ahwa dalam pemilihan Rais ‘Aam Syuriyah PBNU, pada muktamar ke 27 di Situbondo. Penggunaan sistim Ahwa ini didasarkan pada beberapa pertimbangan. Yang paling mengemuka adalah pertimbangan penyelamatan NU dari kepentingan dalam upaya melanggengkan kekuasaan Orde Baru. (shir/jaz)