Turats

Kimiya-yi Sa‘adat (17): Hakikat, Kutukan, dan Tujuan Dunia

Senin, 11 Mei 2020 20:00 wib

...

Jadi, manusia membutuhkan dua hal di dunia ini: yang pertama adalah (a) memperoleh santapan hati untuk melindunginya dari penyebab kesengsaraan ukhrawi; dan yang kedua (b) memperoleh santapan jasmani untuk melindunginya dari segala yang akan mencelakakannya [di dunia].

Santapan hati adalah pengetahuan dan cinta kepada Allah. Santapan segala sesuatu akan selaras dengan watak alaminya. Dalam bagian sebelumnya, telah dijelaskan bahwa keduanya adalah kebutuhan watak alamiah manusia. Penderitaan manusia adalah karena ia sibuk dengan sesuatu selain Allah.

Tubuh wajib dilatih oleh hati, karena tubuh itu fana; sementara ruh adalah kekal. Tubuh bagi hati adalah seperti onta bagi jamaah haji. Onta berguna bagi jamaah haji, bukan jamaah haji berguna bagi onta. Jamaah haji wajib memberi makanan, air, dan pelana untuk onta agar ia bisa mencapai Kakbah dan lepas dari keletihan.

Tapi bila ia menghabiskan seluruh waktu untuk memberi makan, menghiasi, dan melatih onta, ia akan ditinggalkan oleh karavan dan ia akan celaka. Begitu pula, bila orang menghabiskan seluruh waktunya untuk melatih tubuh sehingga kekuatannya bertambah dan hal-hal yang berbahaya menjauh darinya, ia akan kehilangan kebahagiaan [ukhrawi] yang amat ia butuhkan.

Tubuh membutuhkan tiga hal di dunia ini: sandang, pangan, dan papan. Pangan sebagai santapan jasmani, sandang dan papan sebagai pelindung dari panas dan dingin. Kebutuhan jasmani seseorang tak lebih dari itu; memang ketiganya merupakan pilar dunia itu sendiri.

Santapan hati adalah pengetahuan. Semakin banyak pengetahuan seseorang, akan semakin baik buatnya; sementara santapan jasmani adalah makanan. Seandainya Engkau makan terlalu banyak, Engkau akan sakit.

Namun, karena kebutuhan inilah Allah memberikan hawa nafsu kepada manusia untuk mendorongnya mencari pangan, sandang, dan papan. Kalau tidak, tubuhnya –kendaraannya— akan celaka. Hawa nafsu diciptakan sedemikian rupa sehingga ia tidak bisa berhenti dan senantiasa mencari. Akal diciptakan untuk membatasinya, dan Syariah diturunkan melalui lisan para nabi untuk menjelaskan perkara ini.

Pada mulanya, yang diciptakan pertama kali adalah hawa nafsu. Sebab, anak-anak membutuhkannya [untuk tumbuh dewasa]. Karena itulah, hawa nafsu mengambil tempat sejak awal dan tertanam secara kokoh [dalam diri kita]. Ia terus-menerus melawan akal dan Syariah yang datang sesudahnya untuk menjaga manusia agar tidak tenggelam dalam pencarian sandang, pangan, dan papan secara total sehingga ia melupakan jatidirinya dan lupa untuk tujuan apa makanan dan pakaian itu ia butuhkan dan mengapa ia diturunkan ke dunia; dan supaya ia tidak melupakan santapan hati yang menjadi bekalnya di akhirat nanti.

Dari semua ini, Engkau menjadi tahu hakikat, kutukan, dan tujuan dunia. Sekarang, Engkau sepatutnya belajar tentang cabang-cabang dan aktivitas-aktivitas duniawi. (*)

Muhammad Ma‘mun, Pengasuh Pondok Pesantren Al-Falah, Silo, Jember.
——-
Kimiya-yi Sa’adat, yang biasa diterjemahkan menjadi Kimia Kebahagiaan, bukanlah karya yang asing bagi para pembaca Imam al-Ghazali di Tanah Air. Karya ini sudah diterjemahkan berkali-kali ke dalam bahasa Indonesia.

Sayangnya, terjemahan ini dipungut dari edisi ringkasnya, biasanya dari bahasa Arab atau dari terjemahan bahasa Inggris yang dikerjakan oleh Claud Field. Terjemahan yang terakhir, seperti yang dijelaskan oleh penerjemahnya, dikerjakan dari terjemahan Bengali-nya yang ringkas. Dus, terjemahan dari terjemahan.

Padahal, edisi asli kitab ini dalam bahasa Persia 2 jilid tebal. Struktur babnya sama dengan Ihya’ ‘Ulum ad-Din, yang terdiri dari 40 buku. Keempat puluh buku dalam Kimiya-yi Sa’adat bisa dibilang merupakan versi padat dari 40 buku Ihya’.

Hal lain yang membedakan Kimiya-yi Sa’adat dengan Ihya’ adalah bab-bab pendahuluannya yang panjang: terdiri dari 4 topik. Keempat topik ini lebih panjang dan lebih filosofis dari buku ke-21 dan ke-22 Ihya’.

Pembicaraan yang teoretis dan filosofis ini mengisyaratkan bahwa Kimiya ditulis untuk kaum terpelajar dan cendekiawan Persia yang tidak bisa berbahasa Arab.

Pada bulan Ramadhan ini, saya ingin berbagi hasil terjemahan saya atas mukadimah Kimiya-yi Sa’adat yang saya ambil dari versi Inggrisnya yang dikerjakan oleh Jay R. Cook.

Untuk kepentingan kawan-kawan, terjemahan saya buat selonggar mungkin, dan dalam beberapa kesempatan atau berseri, lebih merupakan parafrase dari terjemahan literal. Semoga bermanfaat! (*)