Merawat Keindonesiaan (12): Memelihara Semangat Juang Pahlawan

Mobil Brigadir Jenderal Mallaby, Komandan Pasukan Inggris, yang ditembak mati pejuang santri.

Kemerdekaan Indonesia bukanlah hadiah dari para penjajah. Akan tetapi hasil perjuangan para pahlawan melawan penjajah, merebut dan mempertahankan kemerdekaan serta mengisinya dengan pembangunan.

Kata “merdeka” bukan sekadar susunan huruf dan untaian kata indah. Di baliknya, ada tragedi, air mata, darah, pengorbanan dan perjuangan rakyat dalam menjaga eksistensi bangsa dan negara yang berdaulat.

Ada 7 perang besar yang lekat dalam memori perjalanan sejarah Indonesia merdeka. Pertama, penyerangan Batavia sebagai pusat kekuasaan Vereenigde Oostindesche Compagnie (VOC) yang merupakan persatuan dagang Hindia Timur. Penyerangan ini dilakukan oleh Sultan Agung dari Kesultanan Mataram Yogyakarta pada 1628. Sultan yang berkuasa 1613-1645 ini mengerahkan 10.000 pasukan untuk menyerbu Benteng Holandia. Pasukan ini berhasil dipukul mundur oleh pasukan VOC dan tercatat tak kurang dari 744 orang meninggal dari pasukan Mataram.

Pada 1629, Sultan Agung kembali menyerang Batavia dengan menggerakkan 14.000 pasukan Mataram. Serangan kedua ini dibarengi dengan menyiapkan lumbung pangan di Karawang dan Cirebon, belajar dari kekalahan sebelumnya yang kehabisan pasokan logistik. Kendati strategi ini terdeteksi oleh mata-mata pasukan VOC, dimana lumbung pangan tersebut kemudian dibakar.

Pasukan Sultan Agung menderita kekurangan pasokan logistik kedua, ditambah dengan kena wabah malaria dan colera. Pasukan Mataram mengotori Sungai Ciliwung yang menjadi sumber air Batavia, sehingga Gubernur Jenderal VOC, Pieterszoon Coen yang berkuasa 1619-1629 terjangkit colera pula dan meninggal dunia.

Kedua, perang Diponegoro yang berlangsung 5 tahun. Perang ini lazim juga disebut dengan “The Java War (Perang Jawa)”. Perang yang berlangsung antara 1825-1830, dimana pasukan Jawa dipimpin oleh Pangeran Diponegoro, dan pasukan Belanda dipimpin oleh Hendrik Merkus De Kock.

Akibat Perang Jawa ini, 200.000 penduduk Jawa meninggal dunia. Dan 8.000 pasukan Belanda serta 7000 serdadu pribumi meninggal Dunia. Perang ini dilatarbelakangi oleh intervensi pemerintah Belanda dalam urusan internal Keraton Yogyakarta.

Selain pemberlakuan pajak tanah dengan uang tunai dan kerja paksa terhadap petani dan rakyat kecil, Pemerintah Belanda juga membuat kebijakan yang menguntungkan Pengusaha Tionghoa dalam tata niaga Kayu Jati dan bea cukai Bandar Pelabuhan Peti Kemas.

Perang yang disebut De Java Oorlog berakhir setelah pasukan Diponegoro terserang wabah penyakit Malaria dan Disentri, perlawanan menghadapi pasukan Belanda melemah. Pasukan Diponegoro terkepung di daerah Magelang, Wali Raja Sultan Hamengkubuwono V ini akhirnya bersedia menyerahkan diri dengan syarat seluruh pasukannya dilepas. Sang pangeran ini diasingkan ke beberapa tempat: Manado, kemudian dipindahkan ke Benteng Rotterdam Makassar dan meninggal dunia disana pada 1855.

Ketiga, pertempuran 10 November 1945 berawal dari aksi perobekan Bendara Belanda di Hotel Yamato pada 18 September 1945. Aksi ini berlanjut dengan bentrokan senjata antara rakyat dengan pasukan Inggris. Bentrok ini berujung dengan kematian Brigadir Jenderal Mallaby, seorang komandan pasukan Inggris di Surabaya.

Pasca bentrokan senjata pada 30 Oktober 1945, pasukan Inggris mengultimatum rakyat Surabaya untuk menyerahkan senjata dan menghentikan perlawanannya, selambat-lambatnya pada 10 November 1945. Tapi arek-arek Suroboyo tak mengindahkan ultimatum tersebut dan terus melawan dengan senjata yang ada, hatta bambu runcing sekalipun.

Pertempuran 10 November 1945 merupakan perang kemerdekaan yang paling heroik. Sebuah perang kota yang berhasil menobatkan Surabaya sebagai Kota Pahlawan. Perang ini menelan korban 6.000-16.000, dan 200.000 orang mengungsi. Semangat juang mereka terbakar oleh Resolusi Jihad NU dari Hadratus Syeikh KH Hasyim Asy’ari dan KH Abdul Wahab Hasbullah, serta Pidata Heroik dari Bung Tomo.

Keempat, Bandung lautan api. Tak kurang dari 200.000 rakyat membakar rumahnya sendiri untuk mencegah Netherlandsche Indische Civil Adminastration (NICA) dan Sekutu untuk menjadikan Bandung sebagai Markas Strategis militer. Sampai-sampai mereka mengungsi ke pegunungan Selatan Kota Parahyangan tersebut.

Strategi pembakaran rumah penduduk lantaran Tentara Rakjat Indonesia (TRI) dan Barisan Rakjat Indonesia (BRI) tak sebanding kekuatannya dengan pasukan NICA dan Sekutu. Tapi pasukan musuh tetap menyerang Bandung dan terjadi pertempuran sengit di Desa Dayeuhkolot. Di desa ini pula terdapat gudang amunisi milik lawan yang dibakar oleh dua milisi pejuang Indonesia yang turut menjadi korban dalam aksi pertempuran.

Pasukan milisi tentara rakyat dipimpin oleh Kolonel HA Haris Nasution, sementara pasukan NICA dan Sekutu dipimpin oleh Brigadir Macdonald. Bentrok bersenjata ini terjadi pada 23 Maret 1946. Setelah Bandung dikuasai sejak 12 Oktober 1946. Hotel Homman dan Hotel Preanger dijadikan markas pasukan musuh.

Kelima, Puputan Margarana. Sebuah perang yang terjadi di Marga Tabanan Bali yang dipimpin oleh Kolonel I Gusti Ngurah Rai dalam menghadapi serangan pasukan NICA dan Sekutu. Milisi dan rakyat Bali memilih terus melawan untuk mempertahankan kedaulatan wilayah.

Perang Puputan Margarana ini menelan korban dari kedua pasukan yang berseteru. Pejuang kemerdekaan Indonesia kehilangan 96 orang, termasuk komandan milisi Kolonel I Gusti Ngurah Rai. Sedang dari pihak NICA dan Sekutu kehilangan 400 pasukan yang meninggal dunia.

Untuk menyerang basis milisi Indonesia, pasukan NICA dan Sekutu telah mengerahkan segala kekuatan militer dan mendatangkan pesawat tempur dari Makassar. Namun kerugian terbesar dialami oleh pasukan penjajah yang ingin menguasai Indonesia kembali.

Keenam, perang gerilya Jenderal Besar Soedirman. Perang dari agresi militer ke-2 Belanda dan Inggris yang menyerang Yogyakarta sebagai ibu kota negara dan menangkap para pemimpin nasional. Ir Soekarno, Muhammad Hatta, Sultan Syahrir, Haji Agus Salim, RS Soejadarma, Mr Assaat, Mr AG Pringgodigdo ditangkap serta diasingkan ke berbagai tempat: Bangka Belitung, Pangkal Pinang, dan Medan.

Agresi militer ke-2 dilakukan oleh Belanda dan Inggris dengan melakukan serangan udara dan darat pada 19-20 Desember 1948. Pada akhir 1948, Ibu Kota Yogyakarta jatuh ke tangan penjajah kembali. Jenderal Besar Soedirman memimpin perang gerilya dari pinggir kota. Kendati dalam kondisi sakit berat, Jenderal bintang lima ini menyerang basis pasukan Belanda dan Inggris di berbagai daerah.

Jenderal Besar Soedirman membuat markas sementara di Sobo, dekat Gunung Lawu. Selama 7 bulan melakukan perang gerilya, keluar masuk hutan, naik turun gunung, melintasi lembah dan sungai, serta menyusun serangan umum 1 Maret 1949 yang berhasil menduduki Yogyakarta selama 6 jam. Serangan umum ini dipimpin oleh Letnan Kolonel Soeharto.

Pasca serangan umum tersebut, memang pasukan Belanda dan Inggris dapat memukul mundur pasukan TNI pimpinan Jenderal Besar Soedirman yang berkekuatan 10.000-22.000, namun secara politik, pemerintah republik mendapatkan keuntungan besar. Bahwa Indonesia masih ada, dan pasukan militer sewaktu-waktu bisa meluluhlantahkan brigade musuh.

Berlahan, pasukan NICA dan Sekutu menarik diri dari Yogyakarta dan Panglima Besar Jenderal Soedirman pulang kembali ke rumah. Belanda dan Inggris balik ke Meja perundingan yang berujung pada pengakuan kedaulatan Republik Indonesia pada 27 Desember 1949. Dan Jenderal Soedirman pun akhirnya menghembuskan nafas terakhir pada 29 Januari 1950 akibat TBC akut yang dideritanya.

Ketujuh, operasi Trikora (tri komando rakyat). Operasi militer dipimpin oleh Mayor Jenderal Soeharto yang bertujuan untuk mengambil kembali wilayah Irian Jaya ke pangkuan Ibu Pertiwi. Wilayah Papua merupakan wilayah integral NKRI yang diklaim sebagai Propinsi Kerajaan Belanda.

Trikora merupakan tiga komando yang memuat: pertama, gagalkan pembentukan negara boneka Papua buatan Belanda. Kedua, kibarkan sang merah putih di Irian Barat tanah air Indonesia. Dan ketiga bersiaplah untuk mobilisasi umum guna mempertahankan kemerdekaan dan kesatuan tanah air dan bangsa. Tiga Komando ini berasal dari Presiden Ir Soekarno sebagai pemimpin besar revolusi.

Operasi Trikora menyebabkan pertempuran dahsyat di Laut Aru pada 15 Januari 1962. Indonesia mengerahkan 13.000 tentara, 7.000 pasukan terjun payung, 4.000 pasukan marinir, 139 pesawat, dibantu 3.000 tentara Uni Soviet, 6 kapal selam, 3 pesawat pembom strategis Tupolev Tu-95. Sementara dari pihak Belanda, ada 10.000 tentara, 1.000 relawan, 5 kapal perusak, 2 fregat, 3 kapal selam, dan 1 pesawat pengangkut.

Konflik bersenjata di Papua tersebut, dari pihak Indonesia menyebabkan 94 orang tewas. Termasuk Komodor Yos Sudarso. Sedangkan, dari pihak Belanda 111 orang tewas. Namun, proses penyelesaian konflik militer tersebut melalui meja perundingan antara Indonesia dan Belanda pada 15 Agustus 1962 di New York Amerika Serikat. Pada 1 Mei 1963, Papua diserahkan Oleh PBB melalui United Nations Temporary Executive Authority (UNTEA) ke pemerintah Indonesia.

Sesungguhnya, selain 7 perang paling ikonik dalam perjuangan kemerdekaan di atas, di wilayah nusantara lain, juga terjadi perang semisal. Seperti Cut Nyak Dhein di perang Aceh, Tengku Imam Bonjol di Perang Padri Padang, Sultan Hasanuddin melawan serangan Belanda di Makassar, Pattimura pada perang dagang di Maluku dan seterusnya.

Berbagai kisah perang tersebut, inti kekuatannya pada semangat juang yang berkobar dari para pemimpin dan rakyat dalam melawan penjajahan Belanda.

Untuk itu, dalam rangka merayakan keindonesiaan, semangat juang inilah yang harus dipelihara. Sebab, pada hakekatnya perjuangan melawan kedzaliman dan ketidakadilan itu tiada akhir, baik melawan bangsa sendiri maupun bangsa asing.

Dalam konteks ini, Bung Karno menyatakan: “Perjuanganku lebih mudah karena melawan penjajah, namun perjuangan kalian akan lebih sulit karena melawan bangsa sendiri”. (*)

Moch Eksan, Pendiri Eksan Institute.

Terkait

FIKRAH Lainnya

SantriNews Network