Dirosah

Hikam Zain: Jadi Santri Jangan Goblok

Rabu, 21 September 2016 01:50 wib

...

Beberapa kita lihat santri yang sudah berlama-lama tahun mondok, salaman dengan Kyainya masih saja seperti dengan temannya. Atau salaman yang dicium malah tangannya sendiri.

Seorang guru memang tidak pantas untuk meminta di muliakan, akan tetapi seorang murid memuliakan guru adalah wajib hukumnya.

Kadang-kadang saya tergelitik, “La sama pacarnya aja, tangan diciumi dengan begitu Ikhlasnya, hehehe… dengan para penguasa, pejabat dan sebagainya, seakan-akan kita rendah di hadapan mereka. Mengapa kepada guru yang telah mengajar sedemikian banyak, hanya cium tangan saja, gak mau?”

Ini perlu dipertanyakan. Beberapa Dalil yang saya kumpulkan dari beberapa Hadist dan Turots kitab para ulama, bagaimana sieh sebenarnya hukum mencium tangan ? Dan bagaimana para sahabat Nabi juga Ulama’ salaf dalam memperlakukan gurunya.

عَنْ صَفْوَانَ بْنِ عَسَّالٍ
أَنَّ يَهُودِيَّيْنِ قَالَ أَحَدُهُمَا لِصَاحِبِهِ اذْهَبْ بِنَا إِلَى هَذَا النَّبِيِّ نَسْأَلُهُ فَقَالَ لَا تَقُلْ نَبِيٌّ فَإِنَّهُ إِنْ سَمِعَهَا تَقُولُ نَبِيٌّ كَانَتْ لَهُ أَرْبَعَةُ أَعْيُنٍ فَأَتَيَا النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَسَأَلَاهُ عَنْ قَوْلِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ
{ وَلَقَدْ آتَيْنَا مُوسَى تِسْعَ آيَاتٍ بَيِّنَاتٍ }
فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تُشْرِكُوا بِاللَّهِ شَيْئًا وَلَا تَزْنُوا وَلَا تَقْتُلُوا النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ وَلَا تَسْرِقُوا وَلَا تَسْحَرُوا وَلَا تَمْشُوا بِبَرِيءٍ إِلَى سُلْطَانٍ فَيَقْتُلَهُ وَلَا تَأْكُلُوا الرِّبَا وَلَا تَقْذِفُوا مُحْصَنَةً وَلَا تَفِرُّوا مِنْ الزَّحْفِ شَكَّ شُعْبَةُ وَعَلَيْكُمْ يَا مَعْشَرَ الْيَهُودِ خَاصَّةً لَا تَعْدُوا فِي السَّبْتِ فَقَبَّلَا يَدَيْهِ وَرِجْلَيْهِ وَقَالَا نَشْهَدُ أَنَّكَ نَبِيٌّ قَالَ فَمَا يَمْنَعُكُمَا أَنْ تُسْلِمَا قَالَا إِنَّ دَاوُدَ دَعَا اللَّهَ أَنْ لَا يَزَالَ فِي ذُرِّيَّتِهِ نَبِيٌّ وَإِنَّا نَخَافُ إِنْ أَسْلَمْنَا أَنْ تَقْتُلَنَا الْيَهُودُ

رواه احمد

Dari Shafwan bin Assal, ada dua orang Yahudi, salah satunya berkata kepada temannya: Ikutlah bersamaku menghadap Nabi Saw ini, lalu kita tanyakan (sesuatu) padanya! ia menyahut: Jangan katakan Nabi, karena ia memiliki empat mata dan ia mendengar saat engkau mengatakan Nabi. Keduanya datang kepada Nabi Saw dan menanyakan fiman Allah subhanahu wata’ala: “Dan sesungguhnya Kami telah memberikan kepada Musa sembilan buah mu’jizat yang nyata.” (Al Israa`: 101)

Rasululah menjawab: “Janganlah kalian mempersekutukan Allah dengan sesuatu pun, janganlah kalian berzina, membunuh jiwa yang Allah haramkan kecuali dengan hak, mencuri, mempelajari sihir, dan janganlah kamu membawa orang tak mempunyai kesalahan kepada penguasa dengan maksud agar si penguasa membunuhnya, mamakan riba, menuduh wanita baik-baik melakukan perzinahan, dan janganlah kalian lari dari peperangan – Syu’bah ragu – dan wajib atasmu untukmu wahai orang yahudi, janganlah melanggar hari sabtu.” lalu keduanya mencium kedua tangan dan kakinya dan berikrar: Kami bersaksi bahwa engkau adalah seorang Nabi.

Beliau bertanya: “Apa yang menghalangi kalian untuk masuk Islam?” mereka menjawab: Sesungguhnya Dawud pernah berdo’a keada Allah agar Allah senantiasa mengutus seorang Nabi dari keturunannya, dan kami takut jika kami masuk Islam kami akan dibunuh orang Yahudi.

ُ أَنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عُمَرَ حَدَّثَهُ أَنَّهُ كَانَ فِي سَرِيَّةٍ مِنْ سَرَايَا رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ فَحَاصَ النَّاسُ حَيْصَةً فَكُنْتُ فِيمَنْ حَاصَ قَالَ فَلَمَّا بَرَزْنَا قُلْنَا كَيْفَ نَصْنَعُ وَقَدْ فَرَرْنَا مِنْ الزَّحْفِ وَبُؤْنَا بِالْغَضَبِ فَقُلْنَا نَدْخُلُ الْمَدِينَةَ فَنَتَثَبَّتُ فِيهَا وَنَذْهَبُ وَلَا يَرَانَا أَحَدٌ قَالَ فَدَخَلْنَا فَقُلْنَا لَوْ عَرَضْنَا أَنْفُسَنَا عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَإِنْ كَانَتْ لَنَا تَوْبَةٌ أَقَمْنَا وَإِنْ كَانَ غَيْرَ ذَلِكَ ذَهَبْنَا قَالَ فَجَلَسْنَا لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَبْلَ صَلَاةِ الْفَجْرِ فَلَمَّا خَرَجَ قُمْنَا إِلَيْهِ فَقُلْنَا نَحْنُ الْفَرَّارُونَ فَأَقْبَلَ إِلَيْنَا فَقَالَ لَا بَلْ أَنْتُمْ الْعَكَّارُونَ قَالَ فَدَنَوْنَا فَقَبَّلْنَا يَدَهُ فَقَالَ إِنَّا فِئَةُ الْمُسْلِمِينَ
اخرحه البخاري في الادب المفرد، الترمذي ، احمد

Abdullah bin Umar telah menceritakan kepadanya bahwa ia pernah berada dalam kesatuan militer diantara kesatuan-kesatuan militer Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Ia berkata; kemudian orang-orang melarikan diri, dan aku termasuk orang-orang yang melarikan diri. Kemudian tatkala kami nampak, maka kami mengatakan; apa yang akan kita lakukan? Sungguh kita telah lari dari peperangan dan kita kembali dengan kemurkaan. Lalu kami katakan; kita akan masuk Madinah kemudian kita tinggal padanya dan pergi sementara tidak ada seorangpun yang melihat kita.

Kemudian kami masuk Madinah, lalu kami katakan; seandainya kita menyerahkan diri kepada Rasulullah Saw apabila kita mendapatkan taubat maka kita tinggal di Madinah dan seandainya tidak demikian maka kita akan pergi. Ibnu Umar berkata; kemudian kami duduk menunggu Rasulullah Saw sebelum Shalat Subuh. Kemudian tatkala beliau keluar maka kami berdiri menuju kepadanya dan kami katakan; kami adalah orang-orang yang melarikan diri. Lalu beliau menghadap kepada kami dan berkata: “Tidak, melainkan kalian adalah orang-orang yang kembali berperang.” Ibnu Umar berkata; kemudian kami mendekat dan mencium tangan beliau. Lalu beliau berkata: “Kami adalah kelompok orang-orang muslimin.”

عن أُمُّ أَبَانَ بِنْتُ الْوَازِعِ بْنِ زَارِعٍ عَنْ جِدِّهَا زَارِعٍ وَكَانَ فِي وَفْدِ عَبْدِ الْقَيْسِ قَالَ
لَمَّا قَدِمْنَا الْمَدِينَةَ فَجَعَلْنَا نَتَبَادَرُ مِنْ رَوَاحِلِنَا فَنُقَبِّلُ يَدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَرِجْلَه
رواه ابو داود

Dari Ummu Aban bintil Wazi’ bin Zari’ dari kakeknya Zari’ saat itu ia sedang bersama rombongan utusan Abdu Qais, ia berkata, “Ketika kami tiba di Madinah, kami saling berlomba memacu kendaraan kami, lalu kami mencium tangan dan kaki beliau.”

ُ عَنْ ابْنِ جُدْعَانَ قَالَ قَالَ ثَابِتٌ لِأَنَسٍ
يَا أَنَسُ مَسِسْتَ يَدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِيَدِكَ قَالَ نَعَمْ قَالَ أَرِنِي أُقَبِّلُهَا.
رواه احمد١١٥١.

Dari Ibnu Jud’an ia berkata; Tsabit bertanya kepada Anas; “Wahai Anas, pernahkah engkau menyentuh tangan Rasulullah Saw dengan tanganmu?” ia menjawab; “Ya.” Maka ia berkata; “Berikanlah tanganmu kepadaku hingga aku dapat menciumnya.”

وجاء في فتح الباري للعسقلاني : ان ابا لبابة وكعب بن مالك وصاحبيه رضي الله عنهم، قبلوا يداالنبي صلى الله عليه وسلم حين تاب الله عليهم.

Bahwasanya Abu Lubabah dan Ka’ab bin Malik beserta rekannya RodhiAllahu Anhum, mencium tangan Nabi SAW, setelah diterimanya pertaubatannya. [Fathul Bari 11/47]

قال العلامة العسقلاني في كتابه فتح الباري قال الامام النووي وَأَمَّا تَقْبِيلُ الْيَدِ ، فَإِنْ كَانَ لِزُهْدِ صَاحِبِ الْيَدِ وَصَلَاحِهِ ، أَوْ عِلْمِهِ أَوْ شَرَفِهِ وَصِيَانَتِهِ وَنَحْوِهِ مِنَ الْأُمُورِ الدِّينِيَّةِ ، فَمُسْتَحَبٌّ ، وَإِنْ كَانَ لِدُنْيَاهُ وَثَرْوَتِهِ وَشَوْكَتِهِ وَوَجَاهَتِهِ وَنَحْوِ ذَلِكَ ، فَمَكْرُوهٌ شَدِيدُ الْكَرَاهَةِ

Berkata Imam Ibnu Hajar al Asqolani dalam kitabnya Fathul Bari telah berkata Imam Nawawi; Adapun mencium tangan, jika karena kezuhudan dan kesalehan orangnya, atau karena ilmunya, atau mulianya, atau karena dia menjaga perkara keagamaan, maka hukumnya Mustahab (disunnahkan) Dan apabila karena dunianya, kekayaannya dan kepangkatannya dan sebagainya, maka hukumnya sangatlah Makruh.

وقال العلامة الباجوري في حاشيته : ويسن تقبيل اليد لصلاح ونحوه من الامور الدينية كعلم وزهد، ويكره ذالك لغناه ونحوه من الامور الدنيوية كشوكة ووجاهة

Berkata Imama Al Bajuri dalam Hasyiahnya: Disunnahkan mencium tangan orang Sholih, semisal orang alim, orang zuhud dan semisalnya. Dan dimakruhkan mencium tangan seseorang sebab kekayaannya dan semisalnya seperti kekuasaanya atau lebih unggul derajatnya dalam hal duniawi.

المذهب الحنفي : قال العلامة ابن عابدين في حاشيته : ولابأس بتقبيل يد الرجل العالم المتورع على سبيل التبرك، وقيل سنة قال الشرنبلالي وعلمت ان مفادالاحاديث سنية اوندبه

Dalam Mahdzab Hanafi Berkata Imam Abidien dalam Hasyiahnya: Tidak mengapa mencium tangan orang alim wara’ untuk bertabarruk. Ada yang memgatakan Hukumnya adalah Sunnah. Berkata Imam As Syaronbalali: Dan saya telah mengambil faidah dari beberapa hadist bahwa hukum mencium tangan adalah Sunnah.
[ Hasyiah Ibnu Abidien. 5/254]

المذهب الحنبلي : قال العلامة السفاريني في كتابه غداء الاباب قال المورزي : سألت ابا عبد الله الامام احمد بن حنبل رحمه الله عن قبلة اليد فقال : ان كان على طريق التدين فلابأس وان كان على طريق الدنيا فلا.

Dalam Mahdzab Hambali.
Imam Mawarzi bertanya pada Abu Abdillah Imam Ahmad bin Hambal, tentang hukum mencium tangan.

Beliau menjawab : kalau dalam urusan agama maka diperbolehkan, kalau dalam hal pangkat dan keduniawian hukumnya tidak boleh. [Ghidaul Albab. 1/287 ]

المذهب المالكي : قال العلامة العسقلاني في كتابه فتح الباري : قال الامام مالك : ان كانت على وجه التكبر والتعظيم فمكروهة، وان كانت على وجه القربة الى الله لدينه اولعلمه اولشرفه فان ذالك جائز

Dalam Mahdzab Maliki pun mempunyai pendapat yang sama.

Semoga menambah pencerahan agar perilaku kita berubah.

Bahkan kami diajari oleh Al Habib Umar bin Hafidz Yaman,saat nyantri dulu di tahun 2009, mencium tangan orang yang lebih sepuh dari pada kita. Dan beliau ajarkan bukan hanya sekedar teori tapi juga mempraktek-kan.
ونفعاالله بعلومه وببركاته في الدارين

Sungkem meskipun terlihat remeh, mempunyai efek yang kuar biasa.

Wallahul Musta’an.

Referensi :
Adabul Mufrod
Musnad Ahmad
Sunan At Tirmidzi
Sunan Abi Daud
Fathul Bari Syarah Shahih Bukhari
Hasyiah Al Baijuri.
Hasyiah Ibnu Abidien.
Ghidaul Albab.

Salam Takdzim

Ahmad Zain Bad
AnNur II Bululawang Malang.