Opini

Kiai, Pejuang Sepenuh Hati

Jum'at, 16 Oktober 2020 14:00 wib

...

Pewaris pesantren di masa kini harus berkaca dari keikhlasan pendahulunya agar tidak manja.

Menyongsong peringatan hari santri 22 Oktober besok adalah momentum untuk membaca kembali lembaran sejarah perjuangan para ulama pahlawan dalam mempertahankan negeri tercinta ini. Betapa resolusi jihad seorang Kiai Hasyim Asy’ari mampu menggelorakan semangat perjuangan rakyat hingga meletuskan perang besar 10 Nopember di Surabaya.

Mengenang sejarah pengorbanan tanpa pamrih mereka di tengah banyaknya keterpurukan yang dialami oleh bangsa saat ini menjadi sangat penting agar menjadi landasan niat perjuangan bagi generasi penerusnya. Selain itu juga membangkitkan semangat juang para santri di masa depan yang tersebar di seluruh penjuru negeri untuk meneladani semangat berjuang ulama masa lalu demi membangun negeri ini tanpa pamrih.

Perkembangan situasi yang terjadi pada masa ini telah banyak mengubah perilaku masyarakat secara luas menjadi semakin materialis, rakus dan kapitalis, hingga ketulusan dan ikhlas pengabdian hampir menjadi sesuatu yang langka atau aneh tapi nyata. Kenyataan ini terkadang membuat para pejuang dakwah nyaris menyerah dan putus asa.

Banyak orang menjadi tidak peduli dan apatis terhadap apa yang terjadi dengan lingkungan sekitarnya. Mereka membiarkan semua kemungkaran berlalu begitu saja karena telah berada pada posisi titik paling terjenuh. Disini diperlukan kemauan dan kesungguhan untuk membaca sejarah perjuangan ulama masa lalu, sebagai pemicu semangat atau setidaknya untuk mengetahui bahwa pernah ada orang-orang di negeri ini yang telah berjuang dengan ikhlas sepenuh hati.

Saat ini banyak sekali orang yang merasa dirinya sudah berjuang dalam kebaikan. Namun, hanya sedikit yang benar-benar melakukannya dengan ikhlas sepenuh hati. Masih banyak penyakit hati yang susah dihilangkan saat berjuang bersama melakukan usaha kebaikan, sering kali terjadi kesalahpahaman karena diantara mereka masih ada pamrih, riya, hasad, ingin dipuji, ingin dihargai ataupun mencari keuntungan pribadi tersembunyi dan lain sebagainya.

Saya melihat, beberapa pesantren kini telah mengalami krisis kepemimpinan dan bahkan krisis ulama, karena banyak putra kiai yang sudah tidak lagi pandai mengaji atau bahkan telah beralih profesi, sehingga pesantren warisan leluhurnya terbengkalai atau beralih fungsi. Tidak jarang pula terdengar kegaduhan internal antar pewaris pesantren soal rebutan remeh temeh fasilitas untuk diakui menjadi kiai.

Padahal, salah satu ciri khas perjuangan ulama sebagai pewaris para nabi adalah berjuang dan berdakwah tanpa pamrih. Tak ada sedikitpun niatan untuk mendapat keuntungan atau balasan dari dakwah mereka.

Para ulama di masa lalu tidak mengharapkan tanda jasa atas perjuangan mereka. Setelah perang gerilya selesai mereka kembali ke pondok pesantren menekuni pengajian membimbing santri. Mayoritas bangunan pesantren masa lalu dibangun diatas lahan milik pribadi para kiai dengan dibantu swadaya masyarakat sekitar lalu tumbuh dan berkembang ribuan pesantren menjadi tumpuan pendidikan yang mudah dan murah berbasis masyarakat saat ini.

Para kiai dan guru ngaji di masa lalu bekerja sangat giat, namun tidak pernah menuntut gaji, bahkan tak sedikit harta pribadinya diberikan demi pengembangan pesantren. Semisal pesantren keluarga kami di Bululawang Malang. Tanah pesantren awal mula adalah milik pribadi nenek yang diwakafkan untuk dibangun madrasah dan sarana pesantren oleh kakek saya tanpa beliau meminta imbalan apapun hingga terus berkembang luas saat ini.

Hati yang ikhlas dan berjuang tanpa pamrih inilah kata kunci dari keberhasilan perjuangan dakwah para ulama mengikuti misi para nabi, sebagaimana yang disebut dalam Alquran:

وَمَا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ مِنْ أَجْرٍ ۖ إِنْ أَجْرِيَ إِلَّا عَلَىٰ رَبِّ الْعَالَمِينَ

“Dan aku sekali-kali tidak minta upah kepadamu atas ajakan-ajakan itu; upahku tidak lain hanyalah dari Tuhan seru semesta alam.” (QS. Asy-Syuara’: 109).

Sejarah mencatat kesuksesan perjuangan para ulama dan kiai di masa lalu yang mengajarkan Islam rahmatan lil alamin dengan tidak mengenal lelah. Mereka berjuang dari desa ke desa, dari gunung ke gunung, bahkan menyeberang sungai dan lautan untuk menyapa warganya dengan ramah dan santun, sehingga kini Islam menjadi agama mayoritas di Indonesia.

Pewaris pesantren di masa kini harus berkaca dari keteladanan keikhlasan perjuangan pendahulunya agar tidak menjadi generasi manja yang sibuk dengan urusan kemewahan duniawi dan melupakan ikhtiar ruhani dalam lelaku wirid, tirakat dan rajin mengaji membina santri. Para Gus harus berjuang menghidupkan pesantren dan jangan malah sibuk mencari hidup di pesantren.

Seringkali saya bercanda mengkritik dengan para Gus; karena adanya pesantrenlah kita menjadi mulia, tanpa pesantren mungkin kita bukan siapa siapa.

Memilih menjadi seorang kiai atau guru adalah tugas mulia yang merupakan bagian dari tugas kenabian. Tentunya harus disertai niat, adab dan akhlak yang diajarkan oleh Rasulullah SAW. Almarhum ayah saya berpesan agar saya mengajar meskipun tidak dibayar, karena tugas mengajar adalah berkah dan diharapkan menjadi amal jariyah yang mengalirkan pahala berlimpah sampai akhir masa.

Makanya ketika saya menerima amanah meneruskan kepemimpinan pesantren hal yang pertama saya lakukan di bidang keuangan adalah mencoret nama saya sendiri dari daftar penerima tabsyiroh para asatidz dan pengasuh pondok sebagai penghormatan saya kepada almarhum Abuya yang telah mendidik saya dan meniatkan pahalanya menjadi amal jariyah kedua orang tua saya.

Semoga pesantren masa depan terus tumbuh berkembang, maju dan bermanfaat seiring perkembangan zaman. Amin. (*)

Dr KH Ahmad Fahrur Rozi, Pengasuh Pondok Pesantren Annur 1 Bululawang Malang, Wakil Ketua PWNU Jawa Timur.