Politik

Bersama PPP, Achmad Yunus Siap Majukan Samenep dengan Prinsip Ideologi NU

Selasa, 21 Januari 2020 19:30 wib

...
Achmad Yunus saat mengisi kuliah umum di STKIP PGRI Sumenep pada 14 Januari 2020 (santrinews.com/istimewa)

Genealogi ke-NU-an Achmad Yunus terpanggil untuk bersama berjuang membenahi Sumenep.

Sumenep – Achmad Yunus menunjukkan komitmennya mengabdikan diri untuk masyarakat dengan maju sebagai bakal calon wakil bupati Sumenep pada Pilkada 2020. Ia tengah mengincar rekomendasi dari dua partai politik yang berlatarbelakang kaum santri.

Setelah resmi mendaftar di DPC PKB Sumenep, Yunus kini kembali mendaftar ke PPP. Dua partai politik yang secara historis dilahirkan para kiai Nahdlatul Ulama.

Baca juga: Membangun Sumenep melalui Konsep Trilogi Pelajar

Berbeda ketika mengembalikan formulir pendaftaran di PKB pada 15 Nopember 2019, Yunus tidak mengembalikan sendiri formulir ke PPP. Ia diwakili oleh Sekretaris Tim Pemenangan, Dedy Waskito.

“Mas Yunus tidak bisa datang sendiri karena ada kegiatan di Jakarta yang sudah terjadwal jauh-jauh hari,” kata Dedy kepada wartawan usai mengembalikan formulir di kantor DPC PPP Sumenep, Jl. Lingkar Barat, Selasa, 21 Januari 2020.

Dikonfirmasi alasan mendaftar lewat PPP, Yunus mengatakan ia tidak ingin melupakan sejarah bahwa PPP dilahirkan oleh para kiai NU.

“Secara historis, PPP tidak bisa dipungkiri sebagai anak pertama yang dilahirkan NU,” kata Yunus.

Baca juga: LaKSNU: PPP juga Dilahirkan NU

Karena itu, Yunus merasa terpanggil juga mendaftar melalui PPP mengingat ia merupakan anak yang tumbah dan dilahirkan dari keluarga Nahdliyin.

“Genealogi ke-NU-an saya pun terpanggil kembali untuk bersama berjuang membenahi Sumenep dengan prinsip dan garis ideologi NU,” tegas putra sulung KH Turmidzi Adfa, salah seorang pendiri PKB Sumenep ini.

“Kato orang Madura ‘Roma Pamolèyan’ (rumah kelahiran atau rumah pertama sesepuh) yang tidak boleh dilupakan,” sambungnya.

Hal itu, kata dia, merupakan tradisi orang Madura yang kuat dalam menjaga persaudaraan silaturrahim antar saudara agar terus utuh. Jika lupa tradisi itu berbahaya “ca’na orèng seppoh ampo nolaè” (kata sesepuh bisa kena tulah),” tegasnya.

Menurut Yunus, nilai-nilai perjuangan PPP tidak lain merupakan turunan dari perjuangan NU dan itu masih dipegang kukuh hingga sekarang.

PPP, kata dia, merupakan simbol dan rumah pertama perjuangan NU di birokrasi. “Kita tahu dulu pada era Orde Baru, para kiai NU memperjuangkan hak-hak rakyat dan keadilan lewat PPP,” ujarnya. (ari/onk)